Kaleidoskop Palestina – Januari 2016

Forum Palestina di Inggris Minta Pemimpin Zionis Diadili Sebagai Penjahat Perang

LONDON – Forum Palestina di Inggris mengecam kejahatan penjajah Zionis dan serangan berulang-ulang yang mereka lakukan terhadap orang-orang Palestina baik di Gaza, al-Quds atau Tepi Barat. Forum Palestina juga mengecam eksekusi lapangan yang dilakukan pasukan penjajah Zionis terhadap warga Palestina serta penghancuran rumah-rumah dan intimidasi keluarga para syuhada dan tawanan.
 
Dalam keterangan pers yang dirilis hari ini, Kamis (31/12), dalam rangka peringatan 7 tahun agresi Zionis ke Jalur Gaza akhir tahun 2008, Forum Palestina menegaskan komitmen bangsa Palestina pada hak-haknya yang sah dan permanen dalam melawan penjajah Zionis serta membebaskan tanah dan tempat-tempat suci, haknya dalam menentukan nasibnya dan mendirikan negara merdeka dengan ibukota al-Quds.
 
Forum Palestina di Inggris mengatakan, “Tujuh tahun telah berlalu agresi Zionis ke Jalur Gaza, yang mana penjajah Zionis gagal mewujudkan target-targetnya. Mereka membunuh warga sipil, menghancurkan rumah-rumah di atas kepala para pemiliknya, menghancurkan infrastruktur mulai dari stasiun pembangkit listrik, jaringan air, saluran air limbah dan komunikasi, disamping menghancurkan ladang dan fasilitas pertanian, kesehatan, industri dan pelayanan, sampai masjid-masjid dan pemakaman tidak luput dari gempuran penjajah Zionis.”
 
Forum meminta agar para pemimpin perang Zionis diadili dan dibawa ke pengadilan serta diajukan ke pengadilan internasional sebagai penjahar perang serta menuntut mereka di semua forum internasional dan forum-forum hukum. Forum menyerukan kepada para pemerintah khusunya di Eropa, untuk mengatifkan undang undang yang mengizinkan penangkapan penjahat perang Zionis.
 
Forum mengutup blokade dzalim yang diberlakukan terhadap Jalur Gaza. Hal itu dinilai sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Forum menyerukan agar blokade diakhiri dan diberikan kebebasan bergerak bagi orang-orang Palestina, diizinkan pasokan barang-barang dan bahan bangunan, serta dimulai proses rekonstruksi Gaza.
 
Forum Palestina di Inggris ini juga meminta pemerintah Inggris, masyarakat internasional, PBB, dunia Arab dan Islam untuk bergerak segera serta mengambil langkah-langkah konkrit untuk menghentikan pelanggaran-pelanggaran penjajah Zionis di al-Quds, Tepi Barat dan mencabut blokade atas Jalur Gaza, serta melindungi rakyat Palestina dari arogansi rasis penjajah Zionis.
 
Forum menyerukan kepada komunitas Arab dan Islam serta semua orang merdeka di dunia untuk mendukung rakyat Palestina dan menyokong perjuangan mereka dengan segala bentuk yang sesuai dengan aturan berlaku, serta melawan kejahatan penjajah Zionis di tanah Palestina.
 
Dalam pernyataan penutupnya, Forum Palestina di Inggris menyerukan kepada seluruh kalangan Palestina, faksi-faksi dan pimpinannya untuk meningkatkan pengorbanan dan dukungan terhadap intifadhah rakyat ketiga di tanah pendudukan demi melawan kejahatan penjajah Zionis dan pembebasan tempat-tempat suci serta mewujudkan harapan rakyat Palestina untuk bebas dan merdekat.
 
Pada akhir tahun 2008 lalu pasukan penjajah Zionis melancarkan agresi ke Jalur Gaza. Agresi ini mengakibatkan 1440 warga Palestina gugur termasuk anak-anak dan wanita. Sementara itu jumlah korban luka mencapai 5450 orang dan 900 warga terlantar kehilangan tempat tinggal. (palinfo)

300 Ribu Dolar Kerugian Sektor Pertanian Akibat Serangan Israel

GAZA-Seorang pejabat Palestina memperkirakan bahwa kerugian yang dialami sektor pertanian di Jalur Gaza akibat serangan penjajah Zionis terhadap salah satu fasilitas vital terpenting pertanian pada Sabtu (2/1) pagi mencapai lebi dari 300 ribu dolar.

Direktur Stasiun Pengujian Mekanik Departemen Pertanian, Syahir Rifi, mengatakan bahwa serangan pesawat Zionis pada Stasiun Pengujian Mekanik di daerah Musytal di barat kota Gaza berdampak pada kegiatannya hingga 70% dan mengakibatkan kerugian lebih dari 300 ribu dolar dalam prediksi awal.

Pada Sabtu pagi kemarin pesawat tempur Zionis melancarkan serangkaian serangan udara ke Jalur Gaza, salah satunya ke Stasiun Pengujian Mekanik Departemen Pertania yang berada di daerah Musytal di barat kota Gaza. Serangan ini mengakibatkan kerusakan parah pada fasilitas pertanian tersebut.

Syahir menyatakan, sulit mengganti peralatan yang hancur di tengah-tengah blokade ketat dalam larangan pasokan peralatan ke Jalur Gaza oleh penjajah Zionis. “Serangan mengakibatkan kerusakan langsung, khususnya pada gedung yang terkena bom. Serangan juga mengkibatkan kerusakan tidak langsung pada bangunan-bangunan sebelahnya, khususnya gedung administrasi umum dan penyuluhan pertanian.”

Dia menjelaskan bahwa stasiun ini memberikan layanan kepada stasiun-stasiun pengujian dan bibit-bibit untuk pertanian pertanian. Berupa sejumlah traktor dan peralatan yang digunakan dalam pertanian mulai dari pembibitan dan penanaman, sebagiannya khusus untuk proses perawatan dan pemeliharaan peralatan ini dan asesosirnya di dalam stasiun.

Dia mengingatkan bahwa pada saat ini sulit untuk memperbaiki kondisinya setelah kerusakan besar yang dialami, di tengah-tengah blokade ketar dan tidak adanya anggaran dari pemerintah untuk pengoperasiannya. Hal ini sangat berdampak negatif pada pelayanan proses pelayanan stasiun pengujian dan pembibitan pertanian, tegasnya. (asw/infopalestina.com)

Pesawat Tempur Zionis Gempur Gaza

GAZA-Sejumlah pesawat tempur Israel pagi ini Sabtu (2/1) menggelar empat serangan udara ke sejumlah target di Jalur Gaza. Tak ada laporan korban dalam serangan ini.

Sumber setempat menegaskan, serangan udara ini mentarget dua pos militer milik Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas yakni pos Yarmouk di barat Gaza dan pos Palestina di timur Baldah Bethanun.

Kontributor Pusat Infomrasi Palestina di Jalur Gaza  tengah menyebutkan, heli tempur Israel ikut menyerang lahan pertanian dekat Wadi Gaza yang menyebabkan kerusakan di sana.

Selain itu peswat tempur Israel juga menyerang bandara udara internasional Gaza yang sudah rusak dan tidak beroperasi di timur Rafah, selatan Jalur Gaza  tanpa ada laporan jatuhnya korban.

Sebelumnya, militer Israel mengumumkan dua roket Palestina malam kemarin jatuh di sejumlah wilayah terbuka di dekat pemukiman Sederot, di dekat wilayah Jalur Gaza  tanpa ada laporan korban jatuh atau kerugian. Sirine peringatan di Negev dan pemukiman di perbatasan dengan Jalur Gaza  berbunyi. (at/infopalestina)

Organisasi Zionis Serukan Bakar Gereja di Al-Quds dan Tepi Barat

Ketua organisasi Zionis Lahava ultra kanan yahudi, Rabi Pentsy Jobstein menyerukan pembakaran sejumlah gereja di Al-Quds terjajah, bersamaaan dengan perayaan natal di wilayah tersebut, sebagaimana dilansir sejumlah media Israel, Ahad (3/1).

Setasiun televisi chenel 2 Israel melansir keterangan pers yang disampaikan organisasi radikal Zionis, Rabbi Pentsy Jobstein yang secara terang-terangan mengatakan, keberadaan kaum Kristiiani di Al-Quds tidak disukainya. Dan ini butuh tindakan bukan hanya perkataan, imbuhnya.

Rabbbi ia mengatakan, Natalan merupakan salah satu bentuk dari berhalaisme yang harus diperangi, selain menghambat perkembangan yahudi di Al-Quds, mereka juga senantiasa melakukan kegiatan keagamaan yang terkait dengan natalan.

Sementara itu, menurut televisi chenel Ibrani menyebutkan, organisasi Lahava merupakan organisasi yang didakwa melakukan aksi pembakaran gereja Kristen di Al-Quds dan melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap agama Kristen. Mereka juga senantiasa melakukan intimidasi terhadap warga Al-Quds. (asy/Infopalestina.com)

Undang-undang Zionis Legalkan Vonis Penjara bagi Anak-anak Palestina

AL-KHALIL – Bersamaan dengan meningkatnya eskalasi penangkapan pada anak-anak Palestina, termasuk mereka yang berusia di bawah 14 tahun, dalam intifadhah al-Quds, pasukan penjajah Zionis memilih menyetujui undang-undang yang mengizinkan vonis penjara pada anak-anak. Sehingga ini merupakan babak eskalasi baru dalam perang Zionis terhadap anak-anak Palestina. Sebuah langkah yang bertentangan dengan semua piagam HAM dan pelindungan pada anak-anak.
 
Undang-undang Zionis ini melegalkan dikeluarkannya vonis tinggi pada puluhan anak Palestina, di antaranya adalah bocah asal al-Quds Ahmad Munasharah berusia 13 tahun, Muawiyah berusia 13 tahun dan Ali Alqam berusia 11 tahun. Yang disebut terakhir merupakan tawanan paling kecil di dunia. Dia menderita luka tiga tembakan, di pinggang, perut dan tangan.
 
Gurubesar Hukum Internasional di Universitas al-Quds, Dr. Muhammad Shalalidah, mengatakan bahwa hukuman yang dikeluarkan Zionis atas Muawiyah, Ali Alqam dan Ahmad Munasharah serta pada semua anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun, merupakan pelanggaran secara terang-terangan terhadap prinsip-prinsip dan kaedah-kaedah hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional, secara khusus bertentangan dengan perjanjian anak tahun 1989 yang mana Israel termasuk di dalam perjanjian tersebut.
 
Pada 22 November 2015 lalu komisi hukum kementrian Zionis menyetujui undang undang untuk memvonis penjara pada anak-anak di bawah usia 14 tahun, apabila mereka melakukan kejahatan karena latar belakang nasionalisme, yakni mengisyaratkan kepada kasus-kasus perlawanan terhadap penjajah Zionis.
 
Dalam voting pengambilan suara untuk pengesahan undang undang yang didukung oleh anggota Knesset berhaluan radikal Anat Barcow dari partai Likud, mayoritas anggota Knesset (64 suara) mendukung dan 22 suara menentang.
 
Dr. Muhammad Shalalidah menegaskan bahwa pengadilan yang diberlakukan pasukan penjajah Zionis terhadap anak-anak Palestina adalah pengadilan rasis dan diskriminatif. Karena pengadilan itu bertentangan dengan hukum Israel sendiri dan berbeda dengan pengadilan-pengadilan yang diberlakukan untuk anak-anak Israel dengan tuduhan yang sama. Ada aturan hukum khusus untuk anak-anak Israel, ungkapnya.
 
Israel sendiri menurut Dr. Muhammad Shalalidah, adalah bagian dari penandatangan perjanjian tahun 1968, yang menyatakan tidak boleh suatu negara dengan alasan apapun membuat hukum dalam perundang undangannya yang bertentangan dengan perjanjian-perjanjian internasional.
 
Pusat Studi Tawanan Palestina memantau ada 6600 kasus penangkapan yang dilakukan pasukan penjajah Zionis selama tahun 2015, 1930 di antaranya terjadi pada anak-anak Palestina. Menurut Jurubicara Pusat Studi Tawanan Palesetina, Riyad Asyqar, penangkapan pada tahun 2015 terfokus pada anak-anak di bawah usia 14 tahun. Bahkan terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun dan penjajah Zionis sedang berusaha agar diperbolehkan menangkap dan memenjarakan mereka, yang mana ini bertentangan dengan apa yang tertuang di dalam undang-undang Israel yang berlaku saat ini.
 
Berdasarkan data dari lembaga khusus urusan tawanan “Ad-Dhamir”, selama beberapa pekan terakhir pasukan penjajah Zionis menangkap lebih dari 2 ribu warga Palestina. Di antaranya ada 350 anak. Sehingga jumlah anak-anak Palestina yang ditahan di penjara Zionis meningkat dari 156 pada akhir September lalu menjadi sekitar 400 anak pada November 2015.  (palinfo)

100 Hari Intifadhah, 150 Palestina Gugur dan 27 Israel Tewas

Euro-Mediterranean Observatory for Human Rights menegaskan bahwa 150 warga Palestina gugur dalam 10 hari pertama intifadhah al-Quds yang meletus sejak awal Oktober 2015 lalu. Sementara itu 27 orang Zionis tewas. Euro-Mediterranean menegaskan bahwa penjajah Zionis melakukan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional dan standar HAM.

Euro-Mediterranean dalam pernyataan yang dirilis pada hari Sabtu (9/1) mengatakan, pasukan penjajah Zionis sejak 1 Oktober 2015 hingga 8 Januari 2016 telah membunuh 150 warga Palestina, 27 di antaranya anak-anak dan 7 wanita. Sementara itu sampai saat ini mereka masih menahan 24 jasad para syuhada Palestina. Sedang jumlah orang Israel yang tewas sejak meletus intifadhah al-Quds mencapai 27 orang, seorang di antaranya wanita pemukim Yahudi.

Euro-Mediterranean menyatakan bahwa jumlah warga Palestina yang terluka mencapai 15759 orang, 15667 di antara luka ringan hingga sedang, 29 luka parah, 58 wartawan dan 103 tim medis. Sementara itu jumlah orang Zionis yang terluka mencapai 385 orang, 352 di antaranya luka ringan hingga sedang dan 33 luka parah.

Euro-Mediterranean menegaskan bahwa pasukan penjajah Zionis melakukan sejumlah tindakan yang melanggara hukum kemanusiaan internasional. Di antaranya adalah pembunuhan secara represif, penyerbuan rumah sakit-rumah sakit sipil Palestina, dan diskriminasi perlakukan korban luka. Euro-Mediterranean menyerukan agar dihentikan kekerasan gila yang dilakukan para serdadu penjajah Zionis terhadap setiap orang Palestina yang hanya sekedar dicurigai.

Menurut penyaraan Euro-Mediterranean, dua pertiga atau sekitar 95 kasus dari total 150 kasus yang gugur selama intifadhah, mereka dibunuh akibat kekerasan gila yang dilakukan pasukan penjajah Zionis. Di antaranya adalah penggunaan senjata secara berlebihan dan tidak beralasan dalam menangani aksi-aksi protes Palestina di Tepi Barat dan di perbatasan Jalur Gaza.

Euro-Mediterranean menegaskan bahwa penjajah Zionis melakukan pembunuhan hanya sekedar kecurigaan dan menggunakan senjata api terhadap orang-orang sipil Palestina yang diklaim bahwa mereka melakukan serangan terhadap orang-orang Zionis Israel. Akan tetapi faktanya mereka tidak membahayakan sehingga menuntut mereka harus dibunuh. (asw/infopalestina.com)

Perancis Akan Akui Negara Palestina Jika Solusi 2 Negara Gagal

Paris : Menteri luar negeri Perancis, Laurent Fabius, Jum’at mengumumkan negaranya akan mengakui negara Palestina jika upaya penerapan solusi dua negara gagal dalam beberapa pekan mendatang, sebagai bentuk upaya Perancis dalam mengakhiri kebekuan antara Israel dan Palestina.

Fabius menambahkan, dalam beberapa pekan ke depan Perancis akan mulai mempersiapkan konferensi internasional dengan mengumpulkan semua kolega dan sejumlah pihak, termasuk Amerika, Arab dan Eropa untuk kembali mendasari solusi dua negara serta menentukan pelaksanaanya.

Perancis adalah anggoat Dewan Keamanan tetap di PBB, oleh karena itu punya tanggung jawab untuk berupaya melanjutkan solusi dua negara bagi Israel dan Palestina. Pihaknya akan mengajukan sejumlah inisiatif perundingan dalam konferensi bersama sejumlah pihak, selain tentunya bersama sejumlah pejabat dari Amerika, Arab maupun Eropa untuk kembali mengangkat solusi dua negara. Jika ini gagal, maka Perancis akan mengakui negara Palestina secara sepihak, ungkapnya.

Sementara itu, pejabat teras Israel dalam hal ini mengatakan, inisitif ini sejatinya mendorong Palestina hingga sampai pada jalan buntu, hingga perundingan tak mungkin melahirkan perdamaian.

Pada akhir tahun 2014 kemarin, Fabius telah mengatakan hal ini. Tepatnya, pada 28 Nopember 2014 lalu, di saat gagalnya proses perdamaian antara kedua belah pihak, Israel dan Palestina. Maka saat itu, Perancis menyatakan akan melakukan tanggung jawabnya, mengakui negara Palestina.

Sebelumnya, bahkan parlemen Perancis sudah mengakui berdirinya negara Palestina beberapa hari setelah pernyataan Fabius pada 2 Nopember 2014. Parlemen menyerukan draft undang-undnag agar pemerintahan Perancis mengakui negara Palestina sebagai persiapan untuk mengakhiri konflik kedua negara tersebut.

Di pihak lain, Swedia adalah negara pertama di Eropa yang mengakui negara Palestina, disusul parlemen Inggris, Parlemen Irlandia, Parlemen Perancis, Parlemen Spanyol serta sejumlah parlemen negara-negara Eropa lainya. (Infopalestina)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *