Kaleidoskop Palestina – April 2016

500 Hari Perlintasan Rafah Ditutup, 4500 Pasien Menunggu Penanganan Medis

GAZA – Badan Nasional Anti Blokade Gaza menegaskan, penutupan perlintasan Rafah berlanjut hingga hari ke-500 secara berturut-turut sehingga sebanyak 4500 orang yang sakit kini sedang menunggu penanganan medis dan terancam nyawa mereka sewaktu-waktu akibat penutupan perlintasan.
 
Koordinator Umum Badan Anti Blokade, Ala’ Battah menegaskan dalam konferensi persnya di Gaza hari ini Rabu (6/4) menegaskan, perlintasan Rafah tertutup sejak Oktober 2014 dan tidak dibuka kecuali hanya 31 hari karena kondisi luar biasa, 8 hari di antara dibuka satu arah dan 4 hari untuk haji dan sebagian lain untuk memasukkan warga yang meninggal dunia.
 
Koodinator Badan Anti Blokade Gaza mengisyaratkan, Jalur Gaza masih hidup dalam situasi blokade yang sangat sulit dan keras. Ini sudah tahun kedua perlintasan Rafah ditutup untuk jamaah umroh dan sector lainnya dirugikan.
 
Battah menegaskan, sekitar 4500 penderita sakit menunggu penanganan medis, sementara 30% obat-obatan dan komoditas medis tidak bisa dinikmati oleh warga Palestina di sana melalui Rafah.
 
Terkait kondisi ekonomi Battah menegaskan, 80% warga Jalur Gaza menerima bantuan bangan dan bantuan lainnya dari lembaga internasional dan lembaga sosial. Namun bantuan ini juga terimbas oleh penutupan Rafah dan banyak bantuan tidak bisa masuk. Sehingga kemiskinan melampaui 40% dan pengangguran naik lebih dari 45%.
 
Battah menyampaikan pesan kepada terutama presiden Mesir agar mengambil langkah darurat membuka Rafah bagi pasien, pelajar dan pemilik visa.
 
Battah meminta agar pelayan dua tempat suci di Saudi, Raja Sulaiman intervensi segera menekan pimpinan Mesir agar membuka perlintasan Rafah dan menfasilitasi ibadah umroh dan berkunjung ke Baitulllah. (palinfo)

 

——

Israel Lanjutkan Pembangunan Tembok Apartheid Di Tepi Barat

REZIM Israel kembali melakukan pembangunan bagian baru dari tembok Apartheid yang memisahkan bagian dari Tepi Barat dari sisa wilayah Palestina yang diduduki, lapor AFP.

Saksi dan warga setempat hari Kamis kemarin (7/4/2016) mengatakan bahwa crane mulai mengangkat blok setinggi delapan meter ke tempat dekat Beit Jala, selatan al-Quds (Yerusalem) dan dekat dengan Betlehem.

Walikota Beit Jala, Nicola Khamis, menggambarkan langkah itu sebagai tindakan lain mencuri tanah Palestina yang dilakukan oleh pemerintah Israel di wilayah-wilayah pendudukan. “Tanah ini adalah untuk keluarga kami, anak-anak kami,” ujar Khamis.

Dia juga menekankan bahwa kebijakan pendudukan Israel yang sedang berlangsung saat ini telah membuat sengsara hidup semua warga Palestina, termasuk Kristen.

“Tanpa tanah ini semua orang Kristen akan meninggalkan negara ini,” kata Khamis, mencatat, “Tidak mungkin membangun di Beit Jala. Kami ingin memperluas Beit Jala.”

Sementara itu, Xavier Abu Eid, seorang juru bicara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Kamis kemarin mengatakan bahwa langkah terakhir rezim menunjukkan kebijakan rasis dan apartheid terhadap Palestina.

Langkah pembangunan itu muncul setelah Pengadilan Tinggi Israel di tahun lalu membatalkan keputusan sebelumnya untuk menghentikan pembangunan dinding pemisah.

—–

Tawanan Wartawan di Penjara Zionis Bertambah Jadi 17 Orang

ALQUDS – Komite Pendukung Wartawan Palestina menyebutkan, jumlah tawanan dari kalangan wartawan yang berada di penjara Zionis bertambah menjadi 17 orang menyusul ditangkapnya seorang wartawan Al-Quds.
 
Tentara Zionis menangkap Samah Duwaik (25 tahun), koresponden jaringan Berita Al-Quds, tadi pagi (Ahad 10/4) setelah rumah keluarganya di Rasul Amud, Silwan sebelah selatan Masjid Al-Aqsha Alquds disatroni tentara.
 
Sumber keluarga menyebutkan, tentara Zionis menyerbu rumahnya dan merusak sebagian peralatan rumah, sebelum menangkap Samah. Mereka merampas komputer dan alat perekam. Sebelumnya tentara Zionis juga telah menerbitkan surat larangan bagi Duwek memasuki Al-Aqsha dan termasuk ke dalam kategori daftar hitam yang diterbitkan pemerintahan Zionis.
 
Dalam keteranganya, komite pendukung wartawan Palestina meminta semua lembaga HAM internasional dan Arab atau yang berkaitan dengan hak asasi wartawan untuk segera intervensi menekan Israel untuk membebaskan dan menghentikan penganiayaan mereka terhadap para wartawan.
 
Ia menegaskan, penangkapan terhadap para wartawan sebagai bentuk tekanan terhadap mereka dan sebagai pemberangusan terhadap kebebasan. Penangkapan yang terus berulang terhadap para wartawan terus meningkat seiring dengan berlanjutnya intifadhah Al-Quds, dalam upaya Zionis untuk membungkam wartawan dalam menjalankan tugasnya membongkar kejahatan Israel selama ini terhadap kota Al-Quds, ungkapnya. (palinfo)

—–

HRW: Polisi Israel Siksa Tahanan Anak Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Polisi Israel mengancam dan mengintimidasi anak-anak Palestina di tahanan. Penyiksaan tersebut di antaranya seperti menginterogasi tanpa kehadiran orang tua serta melangggar hukum internasional.

Demikian disampaikan kelompok Human Rights Watch dalam laporannya awal pekan ini. Direktur HRW Palestina dan Israel Sari Bashi mengatakan, pengalaman yang diterima anak-anak itu akan memicu trauma saat dewasa.

Meskipun ada kekhawatiran tentang serangan terhadap Israel oleh anak-anak, HRW berpendapat penangkapan dan perlakuan bocah kecil ini harus tetap manusiawi.

Dalam enam kasus penangkapan, terdapat catatan bagaimana anak-anak diinterogasi tanpa didampingi orang tua. Tak hanya itu, mereka juga mendapat pukulan dan duduk di lua ruangan pada pagi dinihari di tengah udara dingin.

Juru bicara polisi Israel Micky Rosenfeld kepada Anadolu Agency membantah tudingan tersebut. Tudingan itu, kata ia, tidak benar.

—–

Penghancuran Rumah Palestina oleh Israel Meningkat 400%

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH — Presiden Palestina Mahmoud Abbas menekankan kebutuhan mendesak resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk permukiman Israel.

“Dewan Keamanan PBB adalah pemangku kebijakan yang sangat penting karena kegiatan permukiman (Israel).  Israel belum menghentikan kegiatan ini,” kata Abbas kepada AFP, Selasa (12/4).

Abbas juga mengkritik sikap lemah yang  dilakukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Pada kesempatan itu, Abbas juga mengaku mendukung sebuah inisiatif Prancis untuk mengadakan konferensi perdamaian internasional mendamaikan Israel dan Palestina.

Abbas mengatakan hal ini, Senin (11/4) malam menjelang tur perjalanannya yang akan ke Turki, Prancis, Rusia, Jerman, dan AS. Perjalanan akan dimulai pada Selasa (12/4) selama dua pekan.

Tur ini mungkin menjadi salah satu peluang terakhir Abbas memperbarui upaya perdamaian Palestina-Israel. Seperti diketahui, upaya perdamaian Palestina-Israel terhenti sejak dua tahun lalu.

—–

Israel Menyita 125.000 M2 Tanah Di Tepi Barat

Otoritas Israel  telah memberitahukan kepada warga Palestina di sebelah utara kependudukan Tepi Barat bahwa mereka berencana menyita 125.000 M2 tanah untuk banyak pemukiman ilegal.

Agensi pemberitaan palestina ma’an telah melaporkan bahwa  penyitaan tersebut yang mana telah diberitakan pada hari sabtu, terlihat dilakukan untuk pos-pos pemukim yang sedang surut yang telah dilegalkan dibawah hukum Israel. sebagaimana banyak dari tanah tersebut yang telah disita telah dimulai pembangunan diatasnya.

Menurut hukum Internasional, semua pemukiman Israel di daerah kependudukan Tepi Barat adalah illegal, tetapi tidak seperti pemukiman resmi, pos-pos telah dibangun tanpa ijin dari pemerintahan Israel dan di tanah biasanya ditempati oleh garis keras sayap kanan Israel.

Organisasi hak asasi manusia Israel Yesh Din mengklaim di Februari bahwa pemerintah Israel telah menyetujui atau sedang memproses persetujuan seperempat dari sebelumnya pos-pos yang tidak mendapat izin sejak tahun 2012.

Di bulan Maret, Israel telah mendeklarasikan 58.000 M2 tanah di Jericho menjadi tanah negara, untuk digunakan menjadi bangunan pemukiman dan pariwisata, yang ditandai penyitaan tanah terbesar sejak tahun 2014.

Keduanya US dan UN telah mengkritisi penyitaan tanah di Jericho tersebut, dikatakan bahwa hal itu telah merusak prospek damai antara Palestina dan Israel.

—–

Puluhan Ribu Yahudi Gelar Ritual Talmud di Tembok Barat al-Aqsha

AL-QUDS- Puluhan ribu orang Yahudi pada hari Senin (25/4) menggelar ritual Talmud dan ibadah ala Yahudi di tembok barat masjid al-Aqsha (tembok al-Burak atau yang mereka klaim sebagai tembok ratapan), dalam rangka perayaan hari raya “Pashkah” Yahudi.

Sejak pagi-pagi buta ribuan orang Yahudi memadati kasawan tembok barat masjid al-Aqsha. Mereka langsung menggelar tiual talmud dan ibadah Yahudi di tembok tersebut. Mereka juga menggelar upacara kolam “Kahnah” (Kolam Imam) berkenaan dengan momen hari raya Pashkah Yahudi.

Ibadah dan ritual ini dipimpin oleh para rabi timur dan barat dalam empat tahap. Dimulai pada pukul setengah sembilah pagi dan berakhir siang. Ibadah dan ritual Yahudi tersebut digelar dengan mendapatkan penjagaan keamanan ketat.

Sejak pagi-pagi buta kawasan tembok barat masjid al-Aqsha terjadi mobilisasi. Pihak Zionis menempatkan personil dan pasukannya di daerah tersebut dan di Kota Tua di al-Quds, dan menyediakan perlindungan penuh kepada orang-orang Yahudi untuk menunaikan ibadah dan ritual mereka.

Di daerah Kota Tua juga terjadi kepadatan lalu lintas karena banyaknya bus yang mengangkut orang-orang Yahudi ke kawasan tembok barat masjid al-Aqsha. Sementara itu pasukan penjajah Zionis mencegah mobil-mobil masuk ke al-Quds lama meski untuk penghuninya. Hal ini mengakibatkan terjadi pemblokiran ketat terhadap warga al-Quds dan berdampak pada gerakan pengunjung dan toko-toko.

Suara keras dan teriakan bernada tinggi terdengar dari area tembok barat masjid al-Aqsha hingga sampai ke dalam masjid, sehingga mengganggur suara adzan dan shalat dzuhur yang dilaksanakan di dalam masjid al-Aqsha. (asw/infopalestina.com)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *