Kaleidoskop Palestina – Agustus 2016

400 Lebih Tawanan Palestina Mogok Makan

RAMALLAH-Sekitar 400 tawanan Palestina di penjara Israel menggelar mogok makan yang dimulai sejak kemarin Kamis. Tawanan lainnya terus menyusul aksi ini. Aksi ini sebagai protes menentang represif dan kezhaliman Israel yang menggerebek dan memeriksa dengan brutal terhadap mereka, demikian sumber-sumber lembaga HAM menyatakan.

Tawanan menyebut aksi mogok makan kali dengan nama Pertempuran Al-Karamah (Harga Diri) II.

Sebelumnya, Club Tawanan Palestina kemarin sore Kamis menyatakan sebanyak 80 tawanan Palestina di Raimon akan bergabung hari ini Jumat dalam aksi mogok makan bersama rekan-rekan meeka di penjara lainnya sebagai penolakan politik penyiksaan yang dilakukan dinas tahanan Israel.

Club Tawanan menyatakan, gelombang baru tawanan Palestina akan ikut mogok makan pada Ahad nanti.

Club Tawanan Palestina kemarin Kamis menyebutkan, lebih dari 300 tawanan Palestina di penjara Israel menggelar mogok makan memprotes berbagai kebijakan penjajah zionis yang kejam dan tak berperikemanusiaan terhadap mereka.

Club Tawanan menyebutkan, 285 tawanan dari Hamas sudah mulai menggelar mogok makan di penjara Eishel dan Nuvha memproteks tindakan penyiksaan dan kekerasan dinas penjara Israel terhadap mereka berupa penggerebekan, pemeriksaan kasar setiap hari dan sejumlah rekan mereka dan pimpinan Hamas dipindah secara semena-mena ke penjara lain.

Club Tawanan menyatakan, tawanan Palestina Bilal Kayed masih melanjutkan mogok makan hingga memasuki hari ke-51 memprotes pengalihan status tahanannya menjadi tahanan administrative di hari berakhirnya vonis kurungannya setelah 14 tahun setengah ditawan. Sebanyak 40 tawanan lain ikut mogok makan sebagai solidaritas dari tawanan Front Rakyat.

Tawanan lain yang mogok makan karena memprotes penahanan administrative oleh Israel; Muhammad Balbul mogok sejak 4 Juni, saudaranya Muhammad mogok sejak 7 Juni, dua tawanan Malik Qadli dan Eyad Harimi mogok sejak 15 Juni keduanya dari Betlehem dan juga wartawan Umar Nazzal dari Jenin yang mogok sejak kemarin.

Di sisi lain, empat tawanan yang divonis Israel dengan vonis berat memprotes keputusan Palang Merah Internasional yang mengurangi waktu kunjungan menjadi satu kali kunjungan dalam sebulan sejak 18 Juni lalu; mereka adalah Ahmad Barghoti, Mahmud Sharahinah, Ziyad Bazzar dan Amin Kamil.

Selain itu, tawanan Walid Mulawih menggelar mogok makan sejak 18 Juni lalu memprotes isolasinya sejak lebih dari 10 bulan. (at/pip)

—–
 

 

Dibanding 2015, Penggusuran Rumah Naik 40%

RAMALLAH-Laporan yang keluar Biro PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan OCHA hari ini Jumat menunjukkan peningkatan jumlah rumah yang digusur oleh Israel di Al-Quds selama tahun ini dengan peningkatan 40% dibanding tahun 2015.

Laporan menegaskan pasukan Israel selama pekan terakhir menggusur 20 rumah Palestina di Al-Quds timur dengan alasan tidak memiliki izin bangunan sehingga menyebabkan 17 warga terusir dan 221 warga lainnya mengalami kerugian. Laporan yang di mencatat antara 26 Juli 2015 hingga 1 Agustus 2016 ini menegaskan bahwasanya pasukan Israel menggelar operasi penggusuran paling besar pada 26 Juli lalu di desa Qalandia Al-Quds bagian utara yang menyasar 15 rumah di antaranya rumah yang masih dihuni sehingga jumlah bangunan yang dirobohkan dan digusur oleh Israel di Al-Quds Timur sejak awal 2016 menjadi 114 rumah.

Ini menandakan, terjadi terjadi peningkatan 40% dibanding tahun 2015 laporan menyatakan pasukan Israel juga mengeluarkan sejumlah perintah pengusiran, perintah penghentian pembangunan di wilayah kategori “C” selama pekan yang lalu dengan alasan tidak memiliki izin bangunan. Izin bangunan tersebut mustahil diperoleh oleh warga Palestina dari pemerintah penjajah Israel.

Jumlah korban syuhada

Laporan menegaskan pasukan Israel sejak awal tahun ini telah membunuh 60 warga Palestina 16 diantaranya adalah anak-anak dan juga menggelar 100 operasi penggeledahan yang menyebabkan puluhan warga Palestina ditangkap dan ditahan.

Laporan menegaskan pasukan Israel telah membunuh seorang warga Palestina berusia 31 tahun dan melukai seorang warga perempuan 21 tahun dengan dakwahan berusaha menikam pasukan Israel di perlintasan Awara di Nablus dan Qalandia, Al-Quds secara berturut-turut. OCHA menegaskan kekhawatirannya Israel akan terus menggunakan kekuatan secara berlebihan hingga eksekusi jalanan tanpa adanya upaya pengadilan. (at/pip)

—–

 

Google Menghapus Palestina Dari Google Maps

Google menghapus nama Palestina di maps dan mengganti nama tersebut dengan negara Israel. Berita dilansir oleh middle east monitor, Kamis (4/8).

Dalam berita tersebut, forum jurnalis Palestina mengecam tindakan google dalam menghapus nama Palestina yang disetujui pada tanggal 25 juli. Forum tersebut mengatakan bahwa hal tersebut merupakan skema Israel dalam membangun nama Israel dalam mendapatkan legitimasi secara internasional serta menghapus Israel dari dunia. “Hal tersebut adalah bagian dari skema Israel dalam membangun negara itu sebagaimana negara yang mendapat legitimasi untuk generasi mendatang dan menghapuskan nama Palestina sekali dan untuk seterusnya”, pernyataan forum tersebut.

Masih dalam berita tersebut, forum tersebut beranggapan bahwa tindakan google menghapus nama Palestina merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan peraturan internasional.

—–

Malaysia Tolak Jadi Tuan Rumah Kongres FIFA 2017

Malaysia menolak menjadi tuan rumah penyelenggara kongres FIFA 2017, Minggu (14/8). Penolakan tersebut dikarenakan keterlibatan delegasi Israel dalam kongres FIFA 2017. Berita dilansir oleh berita online dailymail, senin (15/8).

Wakil presiden Persatuan Sepak Bola Malaysia menyatakan bahwa penolakan disebabkan karena masalah keamanan yang mayoritas orang muslim Malaysia tidak mempunyai hubungan diplomasi dan mendukung hak asasi Palestina. Keadaan tersebut mengakibatkan tidak dapat dikeluarkan visa terhadap offisial Israel, dikutip masih dari berita tersebut.

Hal tersebut juga selaras dengan pernyataan wakil perdana menteri Malaysia, Zahid Hamidi. “beberapa keadaan dari tuan rumah acara tersebut termasuk pengibaran bendera Israel di tempat tersebut selama kongres.Setelah mempertimbangkan keuntungan dan resiko, lebih baik Malaysia menghindari menjadi tuan rumah.” Ujarnya kepada News Straits Times Online.

—–

Olah Raga Dunia Tolak Penjajah Israel

Israel berusaha mengukuhkan legalitasnya di forum-forum internasional bahkan termasuk di bidang olahraga. Namun upaya mereka ini meski sebagian berhasil namun mereka menghadapi hambatan dari pro kemerdekaan. Mereka menolak legalitas untuk penjajah zionis dan mereka membela hak Palestina.

Beberapa hari lalu, misalnya, suporter klub asal Skotlandia, Celtic FC mengibarkan bendera Palestina saat klubnya menghadapi klub Israel, Hapoel Beersheba pada ajang Liga Champions di Celtic Park, Rabu (17/8/2016).

Aksi ini dilakukan pendukung Celtic sebagai bentuk kecaman terhadap invasi Israel terhadap kedaulatan negara Palestina.

Kelompok yang menamakan diri Celtic Fans for Palestine ini menggalang dukung melakui laman Facebook. Halaman Facebook tersebut berjudul “Kibarkan bendera untuk Palestina, untuk Celtic, untuk keadilan”.

Kelompok ini menilai klub asal Israel tidak pantas untuk tampil di segala kompetisi sepakbola. Bagi mereka Beersheba telah melanggar aturan UEFA.

“Tim sepakbola Israel yang berada di bawah aturan UEFA seharusnya tidak diizinkan berpartisi dalam kompetisi karena telah menerapkan sistem apartheid,” tulis pernyataan Celtic Fans for Palestine.

Sebelum pertandingan digelar, mereka menyambut kedatangan skuat Beersheba dengan bendera Palestina. Ratusan bendera Palestinajuga akan dipasang di seluruh pintu masuk Stadion Celtic Park. Saat bertanding, lapangan penuh dengan bendera Palestina yang dikibarkan, meski polisi berusaha mencegah dan mengusir mereka. Club Skotlanidia pun menang 5-2 melawan club Israel.

Ingatan Penuh

Peristiwa simpati dan dukungan kepada Palestina dan anti penjajah zionis bukan hanya terjadi sekali dua kali. Memori dan momen olahraga dipenuhi dengan aksi simpati dan solidaritas kepada Palestina dan menolak bermain dengan olahragawan Israel atau menolak perwakilan Israel.

Dalam laga kualifikasi untuk piala dunia tahun 1970 di Meksiko, tim sepakbola Korea Utara menolak bertanding menghadapi tim Israel untuk laga terakhir kualifikasi piala dunia.

Demikian piala bola asia tahun 1991, asosiasi bola asia juga menyingkirkan Israel karena negara-negara tetangganga menolak mengakuinya.

Tahun lalu, Malaysia menolak menerbitkan visa masuk peserta kompetisi dunia perahu layar yang digelar oleh Kuala Lumpur.

Selain itu Malaysia pernah meminta maaf karena menggelar kongres FIFA untuk tahun 2017 karena ada delegasi Israel yang ikut.

Di Italia, seperti biasa, rakyat di sana menolak tim Israel ketika ikut dalam pertandingan dan kompetisi di wilayah mereka.

Di tahun 2009, negara Emirat Arab menolak memberikan visa masuk kepada petenis Israel Shaher Peer untuk ikut dalam kompetisi piala Tenis Dubai Terbuka bersamaan dengan agresi Israel ke Jalur Gaza. Namun di waktu selanjutnya mereka mengizinkan. Shaher Peer juga dikecam oleh publik Venezuela karena ikut piala yang sama di Krakas.

Tahun 2013, pemain tenis Tunis Anas Jabir menolak bertanding dengan petenis Israel Shaheer Peer dalam laga semifinal untuk piala tenis Paku Ezerbeijan.

Tahun 2011, pemain tekwondo Mesir Rwan menolak bertanding dengan pemain Israel Sifan Vanser dalam laga perempat final piala tekwondo Kroasia terbuka.

Tahun ini petinju Suriah, Ala Ghasun menolak bertanding dengan pemain Israel dalam laga kualifikasi di Baku Azerbeijan.

Dan masih banyak puluhan pemain menolak bertanding dengan pemain dan tim Israel seperti dari Aljazair, Kuwait, Yaman, Libanon, Saudi, Mesir, Maroko dan lain-lain dalam berbagai pertandingan olahraga seperti judo, tenis lapangan, tinju dan lain-lain. (at/pip)

—–

Akibat Gerakan Boikot Internasional, Penjajah Zionis Israel Mengalami Defisit Perdagangan Hingga 69%

Badan Biro Statistik Pusat Zionis Israel melaporkan bahwa negaranya mengalami peningkatan defisit perdagangan hingga 69% selama 7 bulan pertama di tahun 2016, atau mencapai nilai 8,9 miliar dolar AS.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (17/08) malam menunjukan bahwa defisit perdagangan penjajah Zionis Israel naik senilai 3,389 miliar dolar AS dari total defisit 4,918 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun 2015.

Pihak berwenang Zionis Israel mengaku bahwa meningkatnya defisit perdagangan negaranya dari kelanjutan kampanye boikot di Negara-negara Eropa untuk memboikot produk-produk perusahaan Yahudi yang berada di wilayah Tepi Barat.

Perlu diketahui bahwa sejak bulan November tahun 2015 lalu, Komisi Eropa menyetujui stiker khusus pada produk perusahaan Zionis Israel untuk membedakan produk-produk ini di rak-rak toko.

Tidak mau ketinggalan dengan lembaga boikot Eropa “BSD”, negara-negara Arab melalui Organisasi Kerjsama Islam pada pertemuan di ibukota Jakarta pada 6-7 Maret lalu sepakat untuk memboikot produk-produk Zionis Israel. (Anatolia/Ram)

—–

Ratusan Anak Palestina Tidak Melanjutkan Sekolah

135 anak Palestina di Yerusalem (Quds) tidak dapat melanjutkan sekolah tahun ini. Hal tersebut dikarenakan karena sebagian besar anak-anak Palestina itu ditahan dan dibunuh oleh Israel. Berita tersebut dilansir oleh  palestine chronicle, Selasa (29/8).

Dalam berita tersebut, tokoh nasional Palestina, Adnan Gaith mengatakan bahwa ratusan anak-anak Palestina ditahan dan ditembak mati oleh Israel dan mengakibatkan tidak dapat di melanjutkan sekolah tahun ini. Masih dalam berita tersebut, Adnan mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, 11 murid di Yerusalem (Quds) ditembak mati dan 124 ditahan di penjara Israel, 10 diantaranya dibawah umur 12 tahun.

Dikutip dalam berita tersebut, dia menegaskan bahwa Israel tidak patuh terhadap hak melindungi anak dan hukum internasional termasuk resolusi UNESCO dan konvensi keempat Geneva yang memberikan hak anak dalam pendidikan. Selain itu, menurutnya tujuan Israel dalam kasus tersebut adalah ingin menghancurkan pilar yang sangat penting yaitu pendidikan dan menciptakan generasi bodoh dalam bangsa Palestina dalam kasus ini.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *