Kaleidoskop Ancaman dan Penistaan Al Aqsha (1967-1976)

Kaleidoskop Ancaman dan Penistaan 1967-1976
 
6 Juni 1967
Israel membom Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha dengan bom mortir yang menghancurkan dan merusak beberapa kubah dan bangunan. Terhitung lebih dari duapuluh lokasi di masjid Al-Aqsha rusak, termasuk menara pintu asbath. 
 
 
7 Juni 1967
Jendral Mordechai Gur bersama prajuritnya memasuki Masjid Al-Aqsha pada hari ketiga sejak permulaan perang 1967. Mereka mengangkat bendera Israel di atas Qubbah Shakhrah, membakar mushaf-mushaf Al-Qur’an, melarang Kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat, merampas kunci-kunci pintu Masjid, dan menutup pintu Masjid selama sepekan untuk melarang shalat dan adzan di dalamnya. Selanjutnya, kunci-kunci tersebut selain kunci pintu al-magharibah dikembalikan kepada kantor wakaf Islam sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap urusan Masjid setempat. Hingga sekarang Israel tidak mengembalikan kunci tersebut, agar mereka bisa masuk ke masjid tanpa izin kantor wakaf. Tembok burak dikuasai dan menjadi tempat ziarah bagi Yahudi, Kaum Muslimin dilarang untuk memasukinya.
 
15 Agustus 1967
Pimpinan Rabi Yahudi ditemani beberapa polisi Israel untuk melaksanakan ritual di pelataran Masjid Al-Aqsha. 
 
April 1968
Pemerintah Israel memulai kembali rencana pembangunan kampung Yahudi, dan langkah pertama yang dilakukan adalah menyita seluruh bangunan. Langkah ini efektif dan selanjutnya memudahkan mereka untuk melakukan penguasaan terhadap Masjid Al-Aqsha.
 
11 September 1968
Seorang Yahudi ekstrim berkebangsaan Australia, Dennis Michael Rohan, berupaya melakukan aksi pembakaran terhadap Masjid Al-Aqsha, namun upaya tersebut tidak berhasil. Pemerintah Israel sengaja menutupi berita upaya ini agar tidak mengundang reaksi keras dan antisipasi besar Umat Islam. Maka, setahun kemudian aksi pembakaran Masjid berhasil dilakukan oleh pelaku yang sama. 
 
24 Juni 1969
Pasukan Israel menguasai sekolah pengadilan tankaziyahyang terletak di pintu silsilah, untuk selanjutnya digunakan oleh pasukan Israel sebagai pos militer mereka.
 
21 Agustus 1969
Terjadi pembakaran Masjid Al-Aqsha al-mubarak oleh Yahudi ekstrim bernama Danis Michael Rohan. Pembakaran tersebut menyebabkan kerusakan besar bagian selatan Masjid Al-Aqsha dan mimbar Salahuddin. 
 
 
4 November 1969
Pemerintah Israel menguasai kunci pintu al-magharibah sebagai salah satu pintu utama Masjid Al-Aqsha, yang terletak di sisi barat daya Masjid.
 
 
4 November 1970
Pemerintah Israel menguasai kunci pintu al-magharibah, sebagai pintu utama Masjid Al-Aqsha yang terletak di sudut Barat Daya pagar Masjid. (mausu’atul quds wal masjid al-aqsha, jilid 1 Hasan Ali Musthafa Khathir).
 
 
9 Februari 1971
iterbitkannya proyek Golda Maeir yang berisi pasal terkait Al-Quds ‘Al-Quds tetap satu dan menjadi bagian wilayah Israel’. Proyek dan rancangan untuk menguasai Al-Quds faktanya berdampak penistaan tempat-tempat peninggalan bersejarah agama, termasuk yang menjadi target utama adalah Masjid Al-Aqsha.
 
 
1971
Pembangunan pemukiman Yahudi Hargelou dalam rangka proyek Jerusalem Raya. Tanah lokasi pemukiman ini disita pada tahun 1970. Proyek Jerusalem Raya berarti mengisolasi bagian timur kota Al-Quds, lokasi Masjid Al-Aqsha berada. 
 
1971
Souel Namer menawarkan proyek kepada parlemen Israel Knesset yang disebut dengan proyek ‘Jerusalem Raya’ yang meliputi tiga kota yaitu Betlehem, Bet Gala dan Bet Sahur, juga dua puluh tujuh desa di Palestina. Israel mengangkat kembali proyek ini pada tahun 1974. Hingga saat ini proyek tersebut masih terus berjalan dan pemukiman Yahudi meluas dengan cepat di pinggir kota dan sekelilingnya. 
 
 
8 September 1972
David Ben Gurion mengatakan: “Bahwa secara teori terbuka peluang kesepakatan damai antara Israel dan Negara-negara Arab sepanjang lima tahun ke depan, kesepakatan tersebut dengan tetap menjadikan Al-Quds berada dalam wilayah kekuasaan Israel, sebagaimana pernyataan David Ben Gurion”. Dengan menjajah dan menguasai Al-Quds, Israel menjadi lebih mudah untuk melakukan penistaan terhadap Masjid Al-Aqsha.
 
 
6 Oktober 1972
Moshe Dayan, Menteri Pertahanan Israel menerbitkan proyek penguasaan total terhadap kota Al-Quds, termasuk di dalamnya Masjid Al-Aqsha. 
 
1973
Terbitnya rekomendasi Komite Kementerian Israel untuk urusan Al-Quds tahun 1973 yang diketuai Golda Maeir sebagai serangan demografis Israel. Rekomendasi tersebut berisi batas prosentase maksimal penduduk Palestina di Al-Quds tidak boleh melebihi 22%. Serangan demografis dengan mengurangi jumlah warga Palestina di Al-Quds bisa berdampak besar terhadap kegiatan pembelaan dan bersiaga (ribath) di Masjid Al-Aqsha.
 
 
Mei 1974
Berdirinya organisasi Gush-Emunimpada bulan mei 1974. Organisasi ini memiliki misi inti untuk memperluas pemukiman Yahudi dan membangun Kuil Sulaiman di atas reruntuhan Masjid al-Aqsha. Bertepatan dengan terbentuknya organisasi ini, orang-orang Yahudi mendapatkan kebebasan untuk mendirikan bangunan dan tempat tinggal mereka, tanpa berkordinasi dan meminta izin terlebih dahulu kepada Pemerintah Israel.
 
5 Januari 1975
Pengadilan Yahudi di Al-Quds mengeluarkan keputusan izin bagi Yahudi untuk beribadah di pelataran Masjid Al-Aqsha sebagai wilayah utama Masjid. 
 
1 desember 1975
Pembangunan pengungsian Jab’at Janif. Dibangun pertama kali sebagai pos di kamp pasukan pengaman perbatasan Israel.
 
28 Januari 1976
Hakim Douts Od dari Pengadilan Pusat Israel menegaskan bahwa Yahudi memiliki hak untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha.
 
15 Juni 1976 : Pemerintah Israel menghancurkan sekolah Fakhriyah yang terletak di lingkup perbatasan pelataran Masjid Al-Aqsha di sudut barat daya pada sisi pintu al-magharibah, sebagai diantara situs peninggalan sejarah kuno.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *