Kajian Palestina Bersama Maher Abdullah dari Ramallah

Kamis (17/4) salah seorang warga Palestina asal Ramallah Tepi Barat memberikan kuliah tentang kepalestinaan di kantor ASPAC for Palestine. Beliau adalah Maher Abudullah Ahmad Audah asal dari kota Ramallah. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Al-Quds tahun 1987, setahun setelah bersamaan dengan meletusnya Intifadhoh pertama, Zionis Israel kemudian menutup universitas tersebut yang letaknya berada di dekat masjid suci Al-Aqsha. Setelah lulus Maher berporefesi sebagai tenaga pengajar selama 6 tahun di salah satu sekolah di Al-Quds.

Beliau berkisah bahwa sejak tahun 1986 dirinya 10 kali keluar masuk penjara Zionis, totalnya berada di tahanan kurang sekitar 7 tahun. Ia terakhir kali ditangkap pada tahun 2011, setelah selama 8 tahun ia bersembunyi dari incaran militer Zionis. Ia kemudian mendekam selama 15 bulan di penjara Israel, kemudian ia dideportasi oleh Israel dari Palestina. Saat ini Maher berada di Qatar bersama dengan mantan tawanan Palestina yang dideportasi dalam kesepakatan pertukaran tawanan dengan Israel.

Maher yang sudah berkeliling ke Indonesia timur untuk mengkampanyekan Palestina ini mengatakan bahwa bangsa di Palestina sangat berterimakasih sekali dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Indonesia dengan mengadakan berbagai macam festival untuk memperjuangkan bangsa Palestina.

Dalam kesempatan itu Maher menjelaskan peta palestina terkhusus Al-Quds dan Al-Aqsha. Sejak tahun 1917 hingga sekarang. Mantan tawanan Palestina yang besar di Tepi Barat ini membandingkan antara Jalur Gaza dengan Tepi Barat yang didalamnya terdapat kota Al-Quds dan masjid suci Al-Aqsha. Luasnya hanya 17.000 km persegi.

Maher menceritakan, bahwa sampai saat ini para penduduk Tepi Barat tidak boleh masuk kedalam Al-Quds, bahkan mereka dipisahkan oleh termbok rasis yang dibangun oleh Israel. Ia kemudian menuturukan bahwa Tepi Barat berada di dalam kondisi yang teperangkap dalam pendudukan hakiki, yang penduduknya dapat ditangkap kapan saja mereka mau. Bahkan termasuk Presiden Mahmud Abbas, kapan saja bisa mereka tangkap.

Maher yang juga merupakan anggota dari Ikatan Ulama Palestina ini saat ini dideportasi oleh Israel ke Qatar selama 10 tahun. Dan di Qatar ia berniat untuk melanjutkan kuliah di program pascasarjana sembari terus memperjuangan nasib bangsa Palestina yang masih dalam masa penjajahan hingga sekarang. (msy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *