Istanbul dan Anyaman-Anyaman Perjuangan

Sekitar pukul 10.00 pagi waktu Istanbul, Jumat 20 Oktober 2017, acara seremonial pembukaan Multaqa Ruwwad ke-9 dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Quran. Kemudian disambung dengan sambutan Syeikh Abdul Jalil al-Karury, pimpinan partai pemerintah al-Mu’tamar al-Wathany Sudan yang menadabburi kandungan Surah al-Isra yang dibuka dengan tasbih dan diakhiri dengan takbir. Jika suatu usaha pembelaan terhadap Masjid al-Aqsha dibuka dengan tasbih kepada Allah, maka insyaallah akan berakhir dengan sebuah takbir kemenangan.

Kemudian Syeikh Hamam Said sebagai ketua, dan Dr. Muhammad Akrom al-Adluniy sebagai Sekjen menyampaikan sambutannya.

Beliau berdua menekankan kesinambungan kerja dan kebaikan yang telah dilakukan oleh para pegiat dan pengurus sebelumnya. “Maka seyogyanya kami menghaturkan rasa terima kasih kepada Dr. Abdurrahman al-Birr dan Syeikh Su’ud Abu Mahfuzh serta Ir. Munir Said yang telah menakhodai aliansi ini dalam periode-periode awal”. 

Al-Adluny melanjutkan, bahwa aliansi ini mengumpulkan sebanyak mungkin keterlibatan internasional dari lembaga-lembaga, organisasi dan para tokoh untuk berkhidmah melindungi al-Quds dan Palestina, hingga terwujudnya sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya sesuai dengan keinginan rakyat dan bangsa Palestina serta kemuliaan umat Islam seluruh dunia. Karena itu beliau mengajak para peserta untuk tidak berhenti meneruskan perjuangan membela, karena Masjid Suci al-Aqsha masih tertawan, kota al-Quds masih terjajah, Bangsa Palestina masih terkepung oleh tembok-tembok pembatas yang rasis, tak sedikit para tokoh, anak-anak dan perempuan yang dipenjara secara zhalim dan semena-mena. Jauh dari gegap gempita pembelaan para pejuang HAM dan kebebasan. Meskipun umat Islam yang hampir dua milyar masih tersandera oleh berbagai kelemahan, kita tak boleh menyerah dan menghentikan pembelaan ini.

Dalam multaqa yang dihadiri lebih dari 600 orang dari 50-an negara ini, Dr. Yasin Aktai, penasehat Presiden Turki Erdogan urusan Timur Tengah menyampaikan keterkaitan semua kondisi yang dialami oleh umat Islam, baik di al-Quds dan Palestina maupun muslimin Rohingya di Rakhine State. Jika bukan kita umat Islam, siapa yang akan berada terdepan untuk membela mereka. Melepaskan mereka dari berbagai penindasan dan kezhaliman. Sambutan berapi-api tersebut disampaikan dengan fasih dalam Bahasa Arab.

Dukungan pemerintah Turki makin kuat dalam acara ini, seorang anggota Parlemen dari AK Party, Dr. Nuruddin Nabaty menyampaikan perlunya langkah strategis untuk mengakhiri derita umat Islam di mana pun. Di mulai qiblat pertama umat Islam, Masjid al-Aqsha dan al-Quds. Dalam sambutannya berbahasa Turki beliau menekankan urgensi persatuan umat Islam. Kebutuhan ini untuk mengakhiri pendudukan dan penjajahan ilegal Zionis serta menyegerakan kita umat Islam untuk melakukan shalat secara berjamaah dalam keadaan nyaman dan aman di Masjid al-Aqsha.

Dalam kesempatan ini, beberapa delegasi dari negara-negara juga menyampaikan sambutannya. AlJazair diwakili Dr. Abdul Hamid ben Salim, Syeikh Abdul Fattah Moro dari Tunisia menyampaikan sambutannya dengan penuh semangat bahwa keinginan umat ini takkan pernah kalah oleh kekuatan apapun dan yang dikendalikan oleh siapapun. Keinginan umat untuk membebaskan Masjid al-Aqsha.

Ustadz Abdul Aziz Abdurra’uf, Pimpinan Rumah Quran Nusantara (RQN) menyampaikan sambutannya mewakili delegasi Indonesia di mimbar multaqa kesembilan ini.

Acara diakhiri dengan persembahan dua lagu yang dilantunkan oleh Firqatu al-Wa’d dari Libanon. Para peserta berduyun-duyun menuju ruangan Aliansi Ulama Internasional untuk melaksanakan shalat Jumat. Pada kesempatan tersebut, aliansi ulama menyediakan beberapa buku sebagai hadiah bagi para peserta secara terbatas. Di antaranya beberapa karya Dr. Muhammad ash-Shalabiy yang berjudul Muawiyah bin Abi Sufyan, Al-‘Adâlah min al-Manzhûr al-Islâmiy, Al-Wasathiyah fi al-Qur’ân al-Karîm, al-Hurriyat min al-Qur’an al-Karim, serta beberapa buku lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *