Israel Penjarakan Pencari Suaka Pertama Tolak Deportasi

Tel Aviv, 22-02-2018. Tujuh pencari suaka Eritrea telah dipindahkan ke sebuah penjara Israel tanpa batas waktu setelah menolak untuk dideportasi ke Rwanda, kelompok hak asasi manusia Israel melaporkan.
 
Pencari suaka itu menjadi yang pertama yang ditempatkan ke dalam tahanan tanpa batas  waktu, sejak pemerintah Israel mengumumkan akan memaksa puluhan ribu migran Afrika memilih antara deportasi ke negara ketiga atau dipenjara untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
 
“Ini adalah langkah pertama dalam operasi deportasi yang secara global belum pernah terjadi sebelumnya, sebuah langkah yang dicemari rasisme dan mengabaikan sama sekali kehidupan dan martabat pencari suaka,” Hotline untuk Pengungsi dan Migran dan ASSAF, dua kelompok hak pengungsi yang berbasis di Tel Aviv, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.
 
Dua dari tujuh pencari suaka yang ditahan di penjara Saharonim di Israel selatan pada hari Selasa lalu adalah korban yang selamat dari penyiksaan, kata organisasi tersebut.
 
Sementara itu, ratusan pencari suaka memulai mogok makan Selasa malam di pusat penahanan Holot untuk memprotes pemenjaraan tujuh warga Eritrea tersebut, media Israel melaporkan.
 
600 Pemberitahuan Deportasi
 
Ada sekitar 27.000 orang pencari suaka warga Eritrea dan 7.700 orang asal Sudan di Israel, kata badan pengungsi PBB (UNHCR).
Pada bulan November tahun lalu, pemerintah Israel telah mengumumkan rencana untuk mendeportasi pencari suaka yang tersisa, tanpa persetujuan mereka.
 
Israel telah mengeluarkan pemberitahuan deportasi kepada sekitar 600 orang sampai saat ini, kata kelompok HAM itu.
Negara-negara ketiga yang diperkirakan akan menerima orang-orang yang dideportasi secara luas dianggap Rwanda dan Uganda, media Israel telah melaporkan, meskipun kedua negara Afrika telah menolak membuat kesepakatan formal dengan pemerintah Israel.
 
“Sangat membingungkan bahwa Uganda dan Rwanda setuju untuk mengambil bagian dalam rencana deportasi ini dan memungkinkan Israel untuk memperlakukan pencari suaka Afrika – beberapa dari mereka melarikan diri dari genosida dan kediktatoran – dengan cara ini,” kata kelompok hak asasi manusia tersebut.
 
Pada bulan November tahun lalu, pemerintah Israel mengumumkan rencana untuk mendeportasi pencari suaka yang tersisa, tanpa persetujuan mereka.
 
Israel telah mengeluarkan pemberitahuan deportasi kepada sekitar 600 orang sampai saat ini, kata kelompok HAM tersebut.
Negara-negara ketiga yang diperkirakan akan menerima orang-orang yang dideportasi adalah secara umum dianggap Rwanda dan Uganda, media Israel telah melaporkan, meskipun kedua negara Afrika telah menolak membuat kesepakatan formal dengan pemerintah Israel.
 
“Sangat membingungkan bahwa Uganda dan Rwanda setuju untuk ambil bagian dalam rencana deportasi ini dan Israel dibiarkan memperlakukan para pencari suaka Afrika – yang banyak diantaranya  lari dari genosida dan kediktatoran – dengan cara ini,” kata kelompok HAM tersebut.
 
Pada bulan Januari, UNHCR mendesak Israel untuk mempertimbangkan kembali rencana deportasinya. Dikatakan setidaknya 80 pencari suaka yang dideportasi oleh Israel antara tahun 2015 dan 2017 “mempertaruhkan nyawa mereka dengan melakukan perjalanan darat yang berbahaya ke Eropa”.
 
Sepanjang jalan, “mereka menderita penganiayaan, penyiksaan dan pemerasan sebelum mempertaruhkan nyawa mereka sekali lagi dengan menyeberangi Laut Tengah ke Italia”, kata William Spindler, juru bicara UNHCR.
————–
Keterangan Foto:
Aksi protes terhadap rencana Israel untuk mendeportasi pencari suaka telah digelar di seluruh dunia [Arsip: Ariel Schalit / AP]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *