Israel Gunakan Dukungan Amerika Untuk Ubah Al-Quds jadi Ibukota Yahudi

Oleh: Lulu Basmah

Warga Palestina di Al-Quds hidup menderita sejak Israel menduduki kota suci umat Islam tersebut tahun 1967.

Dan tahun 2018 lebih parah lagi. Pada tahun ini, Israel menggunakan dukungan AS untuk melakukan berbagai pelanggaran hukum terhadap Al-Quds.

Deklarasi Trump bahwa Al-Quds ibukota Yahudi diikuti peresmian kedubes AS Mei lalu, serta penutupan Konsulat AS, dan penghentian bantuan rumah sakit Palestina yang beroperasi di Al-Quds menjadi kesempatan emas bagi Israel untuk menjadikan kota suci umat Islam tersebut sebagai kota Yahudi.

• PENGHANCURAN RUMAH RAKYAT PALESTINA

Pada tahun 2018 pula, pemerintah Israel tercatat telah menghancurkan 145 rumah rakyat Palestina. Akibatnya ratusan rakyat Palestina menjadi gelandangan, seperti dilaporkan lembaga kemanusiaan PBB.

Pada saat yang sama, pemerintah Israel meresmikan pembangunan 5.820 rumah baru di Al-Quds untuk warga Israel.

• PELANGGARAN HUKUM DI MASJIDIL AQSHA

Selama tahun 2018, jumlah warga illegal Israel yang masuk ke Masjid Al-Aqsha semakin bertambah pesat hingga 28.000 jiwa.

Pemerintah Israel juga menutup Masjid Al-Aqsha 2 kali dimana hal ini ditentang keras oleh Lembaga Wakaf Palestina di kota Al-Quds.

• PENANGKAPAN WARGA AL-QUDS

Seiring bertambahnya warga Yahudi yang memasuki Al-Aqsha, rakyat Palestina yang ditangkap pasukan Israel juga semakin bertambah.

Komisi keluarga tahanan Palestina di Al-Quds mengatakan bahwa pemerintah Israel menangkap 1.600 warga Palestina sejak awal 2018. Seperempat dari mereka adalah anak-anak dan remaja dibawah umur, sementara 55 lainnya adalah wanita. (LB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *