Israel Bunuh Ahmad Jarrar Setelah Perburuan Sebulan Penuh

Keterangan foto: Orang-orang berdiri di atas puing bangunan Ahmed Jarrar setelah dia dibunuh oleh Israel di Jenin [Mohamad Torokman / Reuters]

Tepi Barat, 06-02-2018. Setelah perburuan yang berlangsung hampir sebulan, Israel  mengumumkan telah membunuh seorang pria Palestina yang dicurigai berada di balik pembunuhan seorang pemukim Yahudi Januari lalu.

Ahmad Jarrar, 22, bersembunyi setelah Raziel Shevah tewas dalam sebuah tembakan yang dilakukan di dekat pemukiman ilegal di kota Nablus, Tepi Barat yang dijajah.

Selasa sebelum fajar, Ahmad ditemukan oleh Israel, terdiri dari intelijen Shabak dan unit pasukan elit, di desa Yamoun, sekitar sembilan kilometer dari kota aslinya di Jenin.

Menurut sumber Israel, pasukan itu menyuruh Ahmad keluar dari sebuah bangunan sekitar pukul 03:00 waktu setempat. Dia diduga keluar dengan senapan M-16 dan granat tangan, lalu langsung ditembaki dengan rentetan timah panas yang mengakibatkan kematiannya.

Tewasnya Ahmad dibenarkan oleh gubernur Jenin pada hari Selasa pagi.“Kam telahi menerima kabar dari para pejabat yang bekerja di kantor koordinasi keamanan Palestina,” kata Kamal Abu al-Rob, wakil gubernur Jenin kepada Al Jazeera.

“Sejumlah anggota keluarganya pergi ke lokasi penembakannya,  dan  Israel mengizinkan untuk mengumpulkan pakaian Ahmad yang berlumuran dan sebuah Al Quran kecil yang terdapat di dalam gedung dimana diduga dia sebelumnya berada  di sana,” katanya.

Sebuah foto telah beredar di media sosial yang dilaporkan sebagai Ahmad Jarrar  sedang berada di lumpur, dengan wajah berdarah dan dikelilingi oleh kliping  majalah.

Amer Jarrar, sepupu Ahmad, telah datang ke tempat kejadian dan merasa amat  terganggu dengan apa yang dilihatnya. “Bangunan itu merupakan sebuah gudang tua yang bagian luarnya hancur,” katanya kepada Al Jazeera. “Sepertinya pasukan Israel itu telah menggunakan buldozer untuk menghancurkan sebagian bangunannya karena takut berada terlalu dekat dengan Ahmad.”

“Kami melihat pakaian berdarah,” lanjutnya. “masih meneteskan darah, tapi saat menemukan Mushaf Alquran yang merupakan pemberian ibunya, kami yakin itu memang dia.”

Jasad Ahmad telah diambil oleh Israel, yang memiliki kebijakan menahan jasad orang mati – sebuah praktik yang dikutuk oleh hukum internasional.

Aksi protes pecah di Yamoun dimana ratusan warga Palestina berhadap-hadapan dengan pasukan Israel yang menggunakan amunisi panas mengakibatkan setidaknya delapan orang terluka, satu diantaranya di bagian kepala.

Keluarga Ahmad yang tinggal di Wadi Burqin, tepat berbatasan dengan Jenin, telah mengumumkan wafatnya  dan membuka rumah taziah.

Jarrar masih  berusia tujuh tahun saat ayahnya, seorang pemimpin Hamas Nasr Jarrar, dibunuh oleh pasukan Israel saat Intifadah kedua pada Agustus 2002.

Ahmad adalah lulusan dari Universitas Amerika di Jenin jurusan pemasaran, dan menurut Amer, dia memiliki jaringan pertemanan yang luas dan amat dicintai oleh mereka.

“Kami menerima kabar wafatnya pagi ini dari media Israel,” katanya. “Kami tertegun karena, tak satu pun dari kami yang mengetahui tentang keberadaannya.”

Hari berkabung telah diumumkan di Jenin, dimana sekolah-sekolah dan pertokoan tutup.

Warga Palestina membakar ban pasca operasi penangkapan oleh pasukan Israel yang telah membunuh Ahmad Jarrar di Desa Yamoun dekat Tepi Barat di kota Jenin [Majdi Mohammed/ AP Photo]

 

‘Kebanggaan Palestina’

Perburuan Israel terhadap Ahmad Jarrar mengakibatkan terjadinya penggerebekan hampir hari di berbagai kota dan desa di Tepi Barat. Pada 18 Januari, sepupunya, Ahmad Ismail Jarrar, tewas setelah operasi militer berlangsung selama 10 jam di Wadi Burqin. Tiga rumah milik keluarga Jarrar juga dibongkar.

Pada hari Ahad, desa itu kembali digerebek, dan seorang pemuda Palestina19 tahun tertembak di kepala dan tewas. Warga melaporkan bahwa pasukan Israel menggunakan pengeras suara dan memanggil “Ahmad Jarrar, serahkan dirimu atau kami akan hancurkan rumah di desa ini satu persatu.”

Pada hari Selasa, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman berkicau di tweeter memuji pasukan Israel

“Target sudah beres,” katanya. “Kami menghargai dan memberi hormat kepada pasukan keamanan yang terlibat dalam operasi yang kompleks dan penuh keberanian memperjuangkan keamanan pagi dini hari tadi.”

“Negara Israel tidak akan pernah menyerah kepada terorisme dan akan bekerja hingga tetesan darah terakhir demi tercapainya keselamatan warga kami.”

Dalam sebuah pernyataan, Hamas memberikan penghormatan kepada Jarrar dan menyebutnya sebagai “kebanggaan Palestina”.

Kami akan melanjutkan jalur perlawanan sampai penjajahan Israel terkalahkan dari setiap sentimeter tanah kami,” kata pernyataan tersebut.

“Kami menyerukan perlawanan rakyat kami di Tepi Barat yang terjajah sebagai respond atas pembunuhan Israel terhadap Jarrar dan agar menjadikan tentara dan pemukim Israel sebagai target.”

Faksi sayap kanan  Front Pembebasan Palestina (PFLP) menggaungkan penyataan Hamas tersebut dan menggambarkan Jarrar sebagai “simbol nasional yang berpengaruh” yang menjadi kebanggaan orang Palestina.

“Semangatnya akan tetap menjadi mercusuar dan panduan bagi semua pejuang yang mengikuti jalan perlawanan, dan darahnya akan mengutuk semua pihak yang telah mengambil jalan kerjasama keamaan (dengan pihak Israel),” kata kelompok tersebut. (Aljazeera/i7)

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *