ICC Peringatkan ‘Israel’: Menghancurkan Khan Al-Ahmar Bisa Jadi ‘Kejahatan Perang’

 

Jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC) Fatou Bensouda kemarin (17/10) memperingatkan ‘Israel’ terhadap penghancuran desa Badui Palestina Khan Al-Ahmar dan aksi penggusuran warganya dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut dapat  digolongkan sebagai  sebuah “kejahatan perang”.

“Pengrusakan properti secara besar-besaran tanpa adanya kebutuhan militer dan pemindahan warga di dalam sebuah wilayah yang dijajah dapat digolongkan sebagai kejahatan perang di bawah Statuta Roma,” kata Bensouda dalam sebuah pernyataan.

“Saya terus memantau perkembangan di lapangan dan tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang tepat,” tambahnya.

Sementara itu, bentrokan pecah pada Rabu antara puluhan aktivis pemuda Palestina dan solidaritas luar negeri di desa Al-Khan Al-Ahmar melawan pasukan tentara ‘Israel’ yang menyerbu desa itu.

Khan Al-Ahmar telah dijadwalkan untuk dibongkar pada tanggal 1 Oktober tetapi masih tetap berdiri. Pada hari Kamis, tentara ‘Israel’ dikerahkan dalam jumlah besar di sekitar desa, dimana sumber-sumber setempat mengatakan lebih dari 30 batalion ditempatkan di gerbang-gerbang masuk dan jalan-jalan menuju ke desa itu. Para pejabat dari administrasi sipil ‘Israel’, sebuah badan Israel yang mengelola wilayah Palestina yang dijajah, juga terlihat di puncak bukit terdekat sambil membawa peta di tangan mereka.

Baik pemerintah ‘Israel’ maupun para pemukim ilegal di daerah yang mengelilingi Khan Al-Ahmar telah berusaha melakukan tekanan kepada warga desa agar pergi dengan cara membuat kondisi kehidupan mereka tak tertahankan lagi. Menurut organisasi HAM Israel, B’Tselem, jika berhasil “ini akan melanggar larangan pemindahan paksa yang diatur dalam undang-undang hukum internasional. Pelanggaran semacam itu dapat menyalahi larangan pemindahan secara paksa yang diatur di dalam hukum humaniter internasional. Pelanggaran semacam itu merupakan bentuk kejahatan perang”. B’Tselem menambahkan bahwa “tidak hanya para pembuat kebijakan (…) yang akan menanggung kewajiban pribadi terhadap komisi tindak kriminal ini (tetapi)juga mereka yang menempuh jalur resmi akan menanggung kewajiban yang sama.”

Khan Al-Ahmar adalah rumah bagi sekitar 173 orang Badui Al-Jahhalin yang merupakan pengungsi dari gurun Negev. Mereka telah tinggal di daerah timur Yerusalem sejak diusir oleh tentara ‘Israel’ pada tahun 1967. ‘Israel’ telah menolak untuk mengakui Komunitas Badui Al-Jahhalin atau memberikan mereka IMB, sebuah strategi yang sering digunakan oleh ‘Israel’ untuk menggolongkan setiap rumah milik warga Badui adalah ilegal (i7).

—————————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit 18/10/2018, jam: 09:49 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *