Haniyeh: Gaza Tidak Akan Melebar ke Sinai Walau Sejengkal


Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam “Hamas”, Ismail Haniyeh, menegaskan bahwa Gaza akan melebar ke arah utara di wilayah Palestina yang dijajah tahun 1948, dan tidak akan pernah melebar ke selatan ke arah Sinai walau sejengkal.

Dalam sidang khusus yang dilaksanakan Dewan Legislatif Palestina di kantornya di Gaza hari Selasa (16/04) terkait Hari Tahanan Palestina, Haniyeh menyatakan: “Gaza tidak akan dipisahkan dari rakyatnya atau dari Tepi Barat atau Yerusalem atau masalah pengungsi, dan kami menolak pemukiman (Yahudi).”

Haniyeh menambahkan “peta-peta yang bertebaran tentang pelebaran wilayah Gaza ke Sina ini tidak lain dongeng yang tidak ada dalam alam fikiran walau seorang anak kecil Palestina pun.”

Dia menegaskan: “Gaza tidak akan melebar ke Sinai, tetapi justru akan meluas di tanah airnya Palestina ke arah utara.

Dilanjutkannya: “Kami adalah bangsa yang menolak pemukiman (Yahudi), tidak pula tanah air penggantinya di Sinai dan tidak pula di Yordania, dan tidak pula melenyapkan hak kepulangan bangsa Palestina.”

Kemenangan “Karamah-2”

Haniyeh mengucapkan selamat kepada para tahanan di penjara-penjara penjajah, dengan mengungkapkan bahwa apa yang mereka capai dalam mogok makan “Karamah-2” sebagai kemenangan, mengutip ucapannya “Apa yang telah dicapai ini merupakan keberhasilan penentu bagi para tahanan kami,” katanya.

Dia menjelaskan perincian kesepakatan dan negosiasi yang telah berlangsung pada periode yang lalu, yaitu bahwa akan diperbolehkan bagi tahanan untuk berbicara melalui telepon selama 3 hari dalam sepekan, dengan menganggap apa yang dicapai ini sebagai “titik tolak yang sangat penting dan titik-titik ketabahan dan perlawanan.”

Dia menegaskan bahwa solusi tahanan dengan organisasinya membawa pesan kepada penjajah, bahwa mereka bisa melangkah lebih jauh lagi, dan mereka bisa ‘membalikkan meja’ dalam makna yang sesungguhnya.

Dia mengatakan: “Musuh menggunakan tinju yang paling menyakitkan dalam menghadapi para tahanan, terutama di penjara-penjara Negev dan Ramon, oleh karena itu jatuh korban luka-luka, patah-patah, dan banyak yang menderita sakit,… akan tetapi tindakan terorisme oleh penjajah ini dihadapi oleh para tahanan dengan terus melakukan peningkatan perlawanan, sehingga pihak menjajah datang membakar seluruh seksi penjara itu seluruhnya..”

Dia menambahkan: “Upaya keras yang telah dilakukan untuk mencapai kesepahaman di front Jalur Gaza, mungkin akan melebur jika ketegangan di dalam penjara terus berlanjut.”

Dia menambahkan: “Apa yang terjadi di penjara bisa memicu konfrontasi yang meluas, yang tak mungkin bagi seorangpun untuk bisa menahannya.”

Haniyeh mengungkapkan bahwa mereka telah meminta Mesir untuk menyampaikan kepada penjajah agar membatalkan semua sanksi yang diterapkannya melalui petugas dinas penjara, membuang alat pengacau, dan memberikan kehidupan yang layak bagi para tahanan, dan memberikan izin bagi keluarga tahanan dari Gaza untuk mengunjungi mereka.

Dia mengatakan: “Gaza tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Aksi Pawai Kepulangan dan Pemecah Blokade tujuannya bukan saja untuk mengakhiri penderitaan kemanusiaan, tapi Gaza menjalani dan menghayati semua permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Palestina.”

Dia menambahkan: “Kami telah katakan kepada saudara-saudara kami para pimpinan tahanan: “Keputusan yang akan kalian ambil, kami akan adopsi dan bela berapapun pengorbanannya yang harus kami bayar untuk itu, dan kami akan bersama kalian dan tidak akan pernah meninggalkan kalian.””

Haniyeh menjelaskan bahwa partai-partai ‘Israel’ ingin memanfaat isu tahanan untuk kepentingan pemilu Knesset, dan untuk itu dia mengatakan: “Kami tidak akan membiarkan penderitaan para tahanan kami sebagai bahan mainan pemilu.”

Dia juga mengungkapkan telah dibuka hot line antara Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Nikolai Miladnov dengan para pimpinan tahanan yang ada di dalam penjara,  dimana telah terjadi pembicaraan langsung antara dia dan pemimpin Hamas yang ditahan Abbas al-Sayyed.

Dia mengatakan: “Terus terang, operasi militer tidak dijalankan dari dalam penjara, dan perlawanan untuk itu berlangsung di luar, adapun para tahanan mereka melawan penjajah dari dalam.”

Haniyeh menjelaskan bahwa Gaza berbangga dengan kesepakatan “Wafa al-Ahrar”, dan sekarang berbangga dengan kemenangan tahanan. Dia mengatakan: “Gaza akan membuat kesepakatan “Wafa al-Ahrar” yang kedua, untuk membebaskan tahanan dari penjara Israel.”

Dia menambahkan: “Kemenangan para tahanan akan memiliki bayang-bayang positif atas kesepahaman di Jalur Gaza, karena isu tahanan berada dalam agenda kesepahaman.”

Dia menekankan bahwa memotong dana bagi para tahanan dan keluarga para syuhada adalah “tikaman dari belakang punggung para tahanan dan keluarga mereka.”

Dia menjelaskan bahwa sebagai wakil, dan sebagai mantan Perdana Menteri, dia tidak akan mengambil gajinya sebagai bentuk solidaritas terhadap keluarga tahanan, dan gaji itu akan dibagikan kepada sejumlah orang yang menjadi korban pemotongan gaji.

Dia menganggap kehadiran dewan partai “Al-Taghyir wa al-Ishlah”, dan dewan dari Fatah (Aliran Reformasi) di Dewan Legislatif, menegaskan keabsahan Dewan yang terus berlanjut, hingga berlangsungnya pemilu yang komprehensif.


Haniyeh mengatakan: “(Kami) mematuhi legitimasi Dewan Legislatif Palestina yang dipimpin oleh Dr. Aziz Dweik hingga diadakannya pemilu yang baru.” (i7)

—————-

Sumber: www.mugtama.com, terbit: 16/04/2019, jam: 15: 50.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *