Gerbang Perbatasan “Al-Karamah”: Onggokan Azab dan Jerat Penjajah Bagi Penduduk Tepi Barat

Nablus – Di gerbang perbatasan “Al-Karamah” yang terletak antara Yordania-Palestina, impian dan angan-angan pemuda polos bernama Farid Abu Zahir harus hancur berkeping-keping, oleh ketetapan ‘Israel’ yang melarangnya untuk bepergian keluar Palestina belakangan ini. Dalam sebuah perjalanan panjang mencari kerja, sebagai akibat sulitnya kondisi perekonomian, dan sangat ketatnya perangkat keamanan terhadap warga Tepi Barat, termasuk kepada pasar-pasarnya dan sektor perekonomiannya.

Abu Zahir, 27 tahun, asal Nablus utara Tepi Barat, merupakan contoh gambaran kehidupan pemuda Palestina dan masyarakat yang hidup di Tepi Barat. Dia pulang dari Turki setelah melakukan perjalan bisnis beberapa saat di sana, dimana kemudian berlaku baginya saat melintasi gerbang perbatasan itu ungkapan yang pas layaknya “perjalanan kehinaan” dan “jerat bagi para pemuda”, atau jika anda suka boleh juga disebut “perjalanan pelucutan martabat.”

Itulah ungkapan-ungkapan istilah yang dilontarkan oleh warga Palestina yang sedang melakukan perjalanan jauh saat melintasi dan mendapatkan pelecehan yang secara disengaja dilakukan oleh penjajah Zionis untuk melucuti martabat mereka dengan cara melakukan pemeriksaan yang menghinakan dan menelanjangkan, serta memenjarakan, baik saat kedatangan ataupun keberangakan mereka melalui gerbang itu.

Abu Zahir mengisahkan kepada PIP (Pusat Informasi Palestina) rincian kisah yang dialaminya. Pasca penjajah membebaskannya pada tahun 2017, belakangan ini dia dilarang melakukan perjalanan jauh, lalu ditangkap dan dipindahkan ke ke sebuah kamp dekat Jericho, dan kemudian dia dipindahkan ke markas pusat interogasi di Petah Tikva.

Dia mengisahkan: “Saat saya mencoba untuk melakukan perjalanan ke luar negeri melalui gerbang perbatasan Al-karamah, saya dicekal. Saat menanyakan alasan pencekalannya, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan selain karena alasan keamanan.” Dijelaskannya bahwa dia mengalami interogasi yang kasar saat proses investigasi terkait alasan keberadaannya di luar negeri.

Dia menambahkan: “Penjajah Zionis memenjarakan saya selama 18 bulan, dan baru menghirup udara kebebasan pada tahun 2017, tetapi saya tetap dilarang untuk bepergian jauh yang membuat hidup saya terpenjara.”

 

Kisah-kisah Penangkapan Lainnya !

Pasukan ‘Israel’ juga telah menangkap koresponden TV Palestina Bakar Abdul Haq saat pulang dari perjalanan luar negeri dan melintasi gerbang perbatasan Al-Karamah pada tahun ini. Dia harus menjalani proses interogasi terlebih dulu sebelum akhirnya dibebaskan.

Abdul Haq kepada PIP (Pusat Informasi Palestina) membenarkan bahwa dirinya telah ditahan saat kepulangannya melintasi gerbang perbatasan Al-Karamah, pasca perjalanannya dari Libanon dan Mesir. Dia mendapat penghargaan “Pemuda Arab Berprestasi di bidang Media” dari Liga Arab, dan ikut serta dalam acara konferensi internasional yang ke-4 untuk Solidaritas Palestina di Beirut.

Seorang dosen bernama Mufid Jalghum masih teringat jelas saat ditangkap beberapa tahun yang lalu ketika melintasi gerbang perbatasan Al-Karamah pasca kepulangannya dari kunjungan luar negeri untuk tujuan mendaftar program S3 jurusan sejarah di salah satu universitas di Mesir. Dia harus menjalani proses interogasi, dan baru dibebaskan setelah lebih dari satu setengah tahun mendekam dalam tahanan.

Jalghum menjelaskan kepada PIP bahwa hal paling sulit kala itu adalah bagi keluarganya yang saat itu sedang menantinya setelah kepergiannya selama satu bulan. Tiba-tiba mereka mendengar kabar bahwa dirinya ditahan di gerbang perbatasan.

Yang paling terkenal dari sekian orang yang ditahan di gerbang perbatasan Al-Karamah dalam paruh ke-2 di tahun ini adalah pemuda yang bernama Wasim Murad Rubayah saat dia hendak berangkat menuju Yordania melintasi gerbang perbatasan Al-Karamah. Dan juga pemuda bernama Abdul Shomad Shawahenah, 22 tahun, dari desa Al-Silat Al-Harithiya di sebelah barat Jenin, yang ditetapkan oleh otoritas penjajah Zionis penangkapannya setelah empat hari, ketika dia melintasi gerbang perbatasan Al-Karamah saat pulang kembali dari Yordania.

Warga Palestina masih terus menjalani rangkaian penghinaan dan penderitaan sejak penjajahan pada tahun 1948, dan penjajah mengendalikan gerbang-gerbang perbatasan sejak saat itu. Sementara itu otoritas penjajah Zionis kembali membangun gerbang Al-Karamah, agar menjadi koridor perlintasan antara Tepi Barat dari satu arah, dan Yordania dari arah lainnya.

Negara penjajah pasca mencaplok Tepi Barat tahun 1967, mendirikan gerbang perbatasan yang berujung di Yordania, yang dikenal dengan sebutan “penyebrangan Raja Husain” atau gerbang perbatasan Al-Karamah (berdasarkan penamaan versi Arab) , dan “penyebrangan Allenby” (versi Ibrani) ,   yang pada dasarnya diperuntukan perlintasan anak-anak Tepi Barat.

Lalu ditambahkan kepadanya gerbang perbatasan lainnya yang bernama “Syeikh Husain”, sebagai jalur perlintsan perdagangan,  yang kemudian dikhususkan bagi perlintasan warga ‘Israel’ dari Ad-Dakhil Palestina yang terjajah (i7).

—————

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 05/12/2018 – 05: 30:55 sore.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *