Gaza Alami Kondisi Kemanusiaan Sangat Sulit

Direktur Jaringan LSM Palestina, Amjad Shawa menegaskan bahwa Jalur Gaza sedang mengalami kondisi kemanusiaan sangat sulit akibat blokade Zionis dan penutupan gerbang-gerbang perlintasan serta penghancuran terowongan-terowongan oleh pihak Mesir di perbatasan dengan Jalur Gaza.  

Dia mengingatkan bahwa banyak dari laporan internasional dan non internasional yang berbicara tentang situasi kemanusiaan yang memburuk dan realita hidup di Jalur Gaza. Laporan-laporan tersebut menyatakan bahwa 57% keluarga di Jalur Gaza tidak memiliki keamanan pangan.

Ada ancaman stasiun pembangkit listrik berhenti bekerja dan sejumlah layanan hidup sehari-hari yang berkaitan dengan bahan bakar terancam terhenti di berbagai bidang, di antaranya adalah bidang kesehatan, lingkungan dan sebagainya. Dia menyebutkan, sejumlah laporan menyatakan lebih dari 95% air di Jalur Gaza tidak layak konsumsi manusia, sementara air bersih sangat kekurangan.

Amjad melanjutkan, “Semua persyaratan ini menuntut gerakan nyata pada semua level baik di tingkat Arab maupun internasional untuk menekan Zionis agar membuka seluruh perlintasan bagi warga dan barang dari dua arah. Dia menyerukan negara-negara Arab untuk mendukung berbagai bidang di Jalur Gaza guna menjauhkan Jalur Gaza dari tragedi kemanusiaan.

Dia menegaskan, “Telah terbukti dengan dalil-dalik tegas bahwa mengatasi Jalur Gaza dengan dimensi kemanusiaan saja akan membiarkan krisis kemanusiaan terjadi. Dengan sendirinya, tanpa tekanan nyata pada penjajah Zionis agar menghentikan aksi-aksi permusuhannya, pembukaan blokade dan menciptakan lingkungan pengembangan hanya meringankan dampak krisis kemanusiaan tanpa ada solusi mendasar.” Dia menyatakan bahwa laporan PBB soal Gaza tahun 2012 telah memperingatkan meningkatnya kesulitan situasi bila blokade terus berlanjut.

Jaringan LSM Palestina menyerukan pihak Mesir agar kembali membuka gerbang Rafah di perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir dan mengoperasikan gerbang secara normal khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa, jamaah haji dan bagi semua yang membutuhkan perjalanan melalui Rafah. Karena gerbang Rafah masih menjadi urat nadi utama bagi Jalur Gaza.

Terowongan yang merupakan solusi pengecualian telah memaksa warga Jalur Gaza menggunakannya demi memasok bahan-bahan pokok yang dibutuhkan. Karena itu diharahkan Mesir kembali memerankan peran kepemimpinan dalam menggalang sikap internasional dalam menekan Zionis agar bertanggung jawab penuh dan membuka semua perlintasan bagi warga dan barang. (infopalestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *