FORBIDDEN COUNTRY (Negeri Yang Diharamkan Untuk Para Pengecut)

Lolosnya Musa ‘alaihissalam dari kejaran Fir’aun bukan saja merupakan kemenangan yang besar tapi sekaligus sebagai ujian bagi Bani Israil. Tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah tidaklah menandai berakhirnya kezhaliman. Bahkan ujian berikutnya terasa berat karena yang dilawan adalah kezhaliman yang bercokol di dalam setiap individu, ketika rezim yang sangat ikonik dengan kezhaliman telah binasa bersama keangkuhan dan kesombongannya.

Adalah Bani Israil diminta Allah untuk terus mengingat nikmat keselamatan tersebut, juga banyak nikmat lain yang dikaruniakan Allah kepada mereka yang tidak dikaruniakan kepada umat selain mereka saat itu dan di masa sebelumnya. Yaitu karunia Allah yang menjadikan di antara mereka sebagai nabi-nabi, sebagian ada yang dijadikan raja-raja, dan diberikan keistimewaan yang tak diberikan pada siapapun.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 20)

Perintah Allah untuk mengingat nikmat-nikmat-Nya di atas sebenarnya sebagai mukaddimah sebuah perintah sekaligus janji yang akan diberikan kepada bani Israil.

Melalui Musa ‘alaihissalam, Allah kembali memberikan perintah sekaligus karunia-Nya yang lain:

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 21)

Setidaknya terdapat tiga poin dalam pesan Musa pada kaumnya, Bani Israil.

  1. Memasuki bumi Palestina (tanah suci) yang telah dijanjikan Allah untuk mereka
  2. Larangan bersikap pengecut; lari dari tanggungjawab, tidak berani dengan resiko perjuangan, takut kepada musuh.
  3. Jika perintah dan larangan di atas tak dilakukan sesuai arahan Allah, maka mereka akan menjadi orang yang sangat merugi dan akan menyesal di kemudian hari.

Setelah mereka keluar dari Mesir sebenarnya Allah telah sediakan tempat yang mapan untuk mereka, yaitu tanah suci Palestina. Allah benar-benar telah tentukan untuk mereka. Dan Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Karunia tersebut hanya tinggal menjemputnya, karena Allah telah sediakan untuk mereka. Allah hanya sisakan ruang kecil untuk usaha manusia.

Namun sayangnya, janji kemenangan tersebut tak digubris oleh Bani Israil, mereka justru melanggar pesan Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka merespon janji kemenangan tersebut dengan rasionalisasi dari sikap kepengecutan mereka.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya”. (QS. Al-Ma’idah [5]: 22)

Dan keengganan mereka memasuki bumi yang –sebenarnya- sudah dijanjikan untuk mereka tersebut dipicu oleh rasa takut yang berlebihan, dihantui oleh “keperkasaan” musuh yang didramatisir oleh imajinasi mereka. Hal ini ditegaskan bahwa sekali-kali mereka takkan memasukinya sebelum orang-orang yang berada di dalamnya keluar.

Mereka lupa, bahwa Musa pun diperintahkan Allah untuk memukulkan tongkatnya sebagai sebab. Sebab hilang dan hancurnya biang kezhaliman; Fir’aun. Allah sudah tentukan kemenangan bagi Musa dan kaumnya. Allah –hanya- inginkan ketaatan dari perintah yang diberikan-Nya. Meski sekedar menggerakkan sebatang kayu yang dibenturkan ke air laut. Dan gerakan itu bahkan secara nalar tidak berarti apa-apa. Tapi Allah perintahkan untuk melakukan itu sebagi ujian ketaatan sekaligus, sebagai pintu/sebab turunnya pertolongan Allah.

Maka sebenarnya, kemenangan yang di depan tersebut akan diberikan Allah seketika jika mereka mau memasuki negeri Palestina sekaligus membebaskan rakyatnya dari kezhaliman. Sebagaimana rakyat Mesir dibebaskan dari kezhaliman Fir’aun melalui Nabi Musa dan kaumnya; Bani Israil. Kepengecutan yang mereka tunjukkan benar-benar akan menjadi hijab penghalang turunnya kemenangan yang –nyaris- mereka dapatkan.

Terdapat sangat sedikit orang -dua jumlahnya- di antara mereka yang menyadari kebenaran janji Allah. Mereka berdua mengingatkan yang lainnya untuk segera kembali ke orbit ketaatan dan segera memasuki negeri Palestina.

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Ma’idah [5]: 23)

Sepertinya warning dari dua orang tersebut tidak berpengaruh. Mereka tetap saja pada pendirian yang keliru. Mereka kembali menegaskan kepengecutan mereka. Mengukuhkan rasa takut yang didramatisir oleh imajinasi mereka. Kali ini justru semakin terlihat egoisme mereka. Yang bahkan tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada ajakan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Mereka melupakan jasa-jasa Musa yang bersabar mendampingi mereka keluar dari himpitan hidup yang serba sulit di Mesir, keluarkan dari penindasan, perbudakan dan kungkungan kezhaliman yang tadinya sangat melekat dan menghiasi lembaran demi lembaran kehidupan mereka.

Mereka seolah lupa, bahwa rezim zhalim yang ditumbangkan Musa adalah ayah angkatnya. Orang tua yang sejak kecil memberikan fasilitas kerajaan padanya. Tapi Musa alaihissalam mengesampingkan konflik batin dan pergulatan psikis ini. Karena ia hanya memiliki satu kata dalam kamus keataatan pada Tuhannya. Tanpa ragu Musa pun merelakan kematian Fir’aun yang zhalim sekaligus ayah angkatnya.

Mereka seolah tak ingat, bahwa pengorbanan Musa untuk mereka sudah tiada terbilang banyaknya. Tiada bisa terhitung jumlahnya.

Tetapi, kini justru mereka yang menuntut Musa lebih banyak lagi berkorban dengan menghadapi –seorang diri- orang-orang zhalim yang ada di dalam negeri Palestina. Kalau pun Musa kalah maka resiko hanya ia yang menanggungnya, sedang mereka masih bisa leluasa ke mana saja. Jika Musa menang, sudah pasti akan memanggil mereka dan membentangkan pintu untuk mereka.

Ini adalah cerminan gaya hidup egoistik yang sampai pada puncaknya, dengan tidak memerdulikan orang yang selama ini memiliki banyak jasa terhadap mereka. Sedang mereka hanya ingin berpangku tangan, duduk menghindari resiko perjuangan yang menjadi keniscayaan hidup.

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS. Al-Ma’idah [5]: 24)

“Sekali-kali tidak!” itulah kata kunci yang menggembok hati mereka sekaligus menutup rapat keberanian mereka untuk berjuang dan –bahkan- berkorban untuk diri mereka sendiri.

Maka, terkuncinya hati mereka tersebut pada akhirnya disikapi Musa dengan berserah diri pada Dzat yang mengutusnya. Dengan penuh khidmat Musa bermunajat kebebasan kepada Allah.

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu” (QS. Al-Ma’idah [5]: 25)

Maka Allah kabulkan doa hamba-Nya yang disayangi-Nya, yang dizhalimi dan dikucilkan oleh kaumnya. Ditolak ajakan baiknya, menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Raih keberkahan menghuni tanah suci yang terbentang di depan mereka.

Allah segera turunkan hukuman untuk mereka yang membangkang dan meninggalkan ketaatan dari menuruti perintah-Nya.

Maka: “Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. (QS. Al-Ma’idah [5]: 26)

Terdapat dua cara berhenti bacaan dalam ayat ini yang dikenal dengan tanda waqaf “mu’ânaqah” yaitu hanya berhenti di salah satu dari dua titik tiga (؞). Yaitu pada bacaan:

(قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ؞ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ؞ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ)

  1. Yaitu berhenti pada bacaan : قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ

dan memulainya dengan  (أَرْبَعِينَ سَنَةً ؞ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ؞ )

Bacaan ini mengindikasikan bahwa negeri Palestina diharamkan Allah bagi mereka, menurut sebagian ulama untuk selama-lamanya. Dimulai dengan hukuman Allah yaitu tersesatnya mereka di Padang Tih selama empat puluh tahun.

  1. Atau berhenti pada bacaan :   (قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ؞ )

dan memulainya dengan  (يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ؞  )

Bacaan diatas menjelaskan bahwa Allah takkan izinkan mereka memasuki Palestina selama empat puluh tahun sebagai hukuman atas pembangkangan mereka. Kedua, selama empat puluh tahun tersebut mereka tak ke mana-mana, hanya berputar-putar dan tersesat sepanjang waktu di dalam Padang Tih.

Setelah berabad-abad bahkan beribu tahun setelah peristiwa tersebut. Saat mereka tak diterima di mana-mana. Ketika mereka menjadi sekelompok orang yang tak dikehendaki keberadaannya oleh masyarakat. Di saat mereka tertolak dan terusir di mana-mana. Mereka kembali mencari dalih penegasan bahwa sebenarnya Bumi Palestina adalah negeri yang dijanjikan untuk mereka. Sebuah klaim terlambat.

Klaim ini diikuti rekayasa imajinatif karena keberadaan Kuil Sulaiman di tempat yang mereka ingin diami dan duduki, meski sudah ada orang di dalamnya. Mereka bahkan ingin memonopoli tanah suci tersebut sebagai hanya milik mereka tanpa boleh dinikmati oleh golongan lainnya. Karena kembali mereka klaim bahwa merekalah pewaris tunggal tanah suci Palestina.

Pengusiran, penipuan, perampasan, pemaksaan, penghancuran, pemutarbalikan fakta yang diikuti pembunuhan, teror dan intimidasi menjadi pilihan rebut tanah Palestina dan realisasikan mimpi imajinatif mereka.

Diserukanlah Israel Raya yang hendak dijadikan sebuah supremasi dan hegemoni hak hidup dan tinggal berdiam di sana hanya milik mereka. Tanpa umat Islam dan Kristiani.

Dan pelan namun pasti Bangsa Palestina menjadi minoritas di negerinya. Menjadi org asing di

tanah mereka. Terusir terusir dan terzhalimi.

Sadarkah mereka siapakah yang mengklaim memberikan tanah untuk mereka? Inggris yang menjajah Palestina dalam kurun waktu yang singkat (1917-1948 M) sesungguhnya tak pernah memiliki tanah tersebut. Kemudian tiba-tiba memberikan dan mewariskannya pada mereka. Milik siapakah

tanah itu? Siapa yang berhak memberikan dan mewariskannya?

Namun, sebagian mengira masalah Palestina hanya masalah tanah dan tempat tinggal. Padahal akar

masalahnya sangat ideologis. Yaitu pendudukan sempurna atas kota al-Quds (Jerussalem) sebagai ibukota negara mereka. Membongkar Masjid al-Aqsha dan menggantinya dengan Kuil Sulaiman yang fiktif dan imajinatif.

Selain melakukan egresi fisik berupa pengusiran, pembangunan dan pendudukan ilegal serta menggerus situs-situs bersejarah umat lainnya. Mereka berusaha memecah fokus.

Pertama: bermain dalam terciptanya dan terpeliharanya faksi-faksi dalam tubuh bangsa Palestina serta memainkan dan memanfaatkan perpecahan ini

Kedua: memperlakukan Gaza sebagai percobaan agresi militer. Agresi brutal dilakukan dengan bombardier senjata mematikan ke wilayah-wilayah hunian sipil. Selain karena Gaza adalah basis perlawanan, mereka menginginkan mata dunia tertuju di sana, terfokus membela, memberi dukungan, menunjukkan simpati dan empati kemanusiaan. Sedang mereka asyik menggarap fokus utama mereka; mengkooptasi dan menduduki al-Quds yang kini semakin rancu definisi wilayahnya dengan pembagian sepihak yang mereka lakukan: al-Quds Timur dan Barat. Al-Quds Barat sudah mutlak mereka kuasai, sementara al-Quds Timur (Kota Kuno) sedang berproses mengarah ke sana.

Wilayah otoritas Palestina yang terpisah membuat jarak fisik ini mempertajam perbedaan pandangan faksi-faksi yang ada di dalamnya. Maka fokus perlawanan pun dengan sendirinya akan terbelah. Terus melakukan rekonsiliasi dan mencari titik temu, di waktu yang sama mereka harus terus melakukan perlawanan terhadap penjajahan dan tindakan brutal Zionis Israel. Dengan berbagai keterbatasan. Di lain pihak, Zionis Israel dibackup media, teknologi supercanggih, negara, dan lobi-lobi di berbagai organisasi internasional. Tak heran jika kemudian ada yang mengira mereka memiliki segalanya. Padahal mereka tidaklah sehebat yang diperkirakan orang. Tak sekuat yang diprediksi orang. Tak seberani yang dikesankan melalui pencitraan palsu.

Hal tersebut bisa ditengarai saat terjadi penyerangan dan agresi terhadap Bangsa Palestina. Komentar terkenal selalu mengukuhkan bahwa “Kami berhak untuk  membela diri”. Dari siapakah dan mengapa mereka katakan demikian?

Yang menarik adalah bahwa:

  1. Sejak berdirinya Negara Israel mereka sangat bernafsu untuk melakukan migrasi Bangsa/Etnis Yahudi secara besar-besaran ke wilayah Palestina.
  2. Mereka terus membangun pemukiman-pemukiman ilegal, penyitaan-penyitaan aset rakyat Palestina, pengusiran dan sebagainya. Sudah tak terhitung ultimatum dan resolusi PBB yang dilanggar, namun selalu tak ada hukuman untuk mereka.
  3. Selalu ada back up negara, media, politis dan sebagainya untuk menghilangkan kesan bersalahnya mereka, menutupi criminal yang dilakukan, menghalangi segala bentuk penegakan keadilan atas mereka, dan membalikkan opini menjadi seolah mereka yang dizhalimi serta sebaliknya pihak Palestina lah yang memulai provokasi. Dan dunia seolah tunduk dengan opini dan berita-berita seperti ini.
  4. Kekukuhan mereka tersebut apakah berlandas secara ideologis, bahwa sudah tak ada lagi “orang perkasa” yang ada di Palestina sehingga mereka merasa saatnya untuk memasuki kembali Palestina yang menjadi bumi yang dijanjikan?

Apakah mereka benar-benar meremehkan para pejuang perlawanan yang masih terus angkat senjata. Melengkapi perjuangan diplomasi dan ranah politik internasional yang diperjuangkan sebagian lainnya. Benarkah mereka tak lagi takut? Benarkah kepengecutan tak lagi ada dalam diri mereka?

Jika pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab IYA. Lantas mengapa ada dinding rasis pemisah yang tingginya nyaris sepuluh meter, jauh melebihi tinggi tembok rasis di Berlin? Lantas mengapa ada penangkapan terhadap para perempuan dan target-target operasi kepada anak-anak kecil?

Tahun 2004, masih lekat dalam ingatan penduduk dunia, untuk membunuh seorang lelaki tua yang lumpuh dan nyaris buta. Mereka harus mengerahkan sebuah helikopter Apache yang mahal untuk meluncurkan tiga buah rudal yang juga mahal harganya. Berapa miliar mereka keluarkan untuk membunuh lelaki tua yang lemah fisiknya tersebut?

Jika kemudian, setiap aksi membela Bangsa Palestina akan dikategorikan dan ditargetkan labelisasi sebagai terorisme, siapkah kita untuk terus berada dalam track ini? Akankah siap melawan dehumanisasi dan penjajahan yang masih melilit Bangsa Palestina? Siapkah kembali menerima blow up media yang masih saja berpihak secara tak seimbang untuk kepentingan mereka.

HasbunalLâh wa ni’ma al-Wakîl. Galilah kekuatan dari Sang Maha Kuat. Bergantunglah pada Dzat yang tak berbatas amunisi pertolongan-Nya. Gerbang kota al-Quds semakin dekat. Jemputlah kemenangan. Masukilah negeri Palestina. Laksanakan perintah Nabi Musa, meski kita bukanlah Bani Israil. Tapi umat yang taat pada nabi-Nya akan segera ditolong-Nya. Serta golongan yang fasik akan tetap diharamkan dari menikmati hidup ditanah suci yang dijanjikan pada orang-orang yang taat pada-Nya. Meski mereka bergelimang kemakmuran dunia dan dikelilingi oleh sistem keamanan yang super canggih sekalipun.

Catatan Keberkahan 006

Jakarta, 10.06.2013

 

Dr. Saiful Bahri, MA

Ketua ASPAC

 

Sebelumnya dikultwitkan melalui @L_saba , bisa diakses disini 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *