Festival Film Palestina Diperluas Ke Luar Jakarta

Festival Film Palestina (FFP) yang digelar Asia Pasific Community for Palestina (Aspac) akan diperluas ke sejumlah kota besar di Indonesia. Di antaranya di Jakarta, Medan,Balik Papan,Bekas,Bandung, dan Surabaya, serta direncanakan menyusul Manado dan Bali.   

Untuk tahap awal digelar di Jakarta,tepatnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Minggu (16/12). 

Pemutaran film ini ditonton sekitar 800 undangan,terdiri dari Duta Besar Palestina, perwakilan PBB,DPR,Kementerian Luar Negeri, sejumlah lembaga kemasyarakatan dan lembaga lintas agama,seperti Organisasi Pemuda Katolik,Forum  Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ),Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).   

Empat film yang diputar di TIM ini, yakni film Budrus yang bercerita tentang pembangunan tembok pemisah oleh pemukim Yahudi di wilayah Palestina, Home Front tentang represi Israel di wilayah pendudukan.   

Ada juga flm Betlehem mengisahkan penindasan yang dialami umat Kristen Palestina dan perjuangan para aktivis Kristen negara Barat di Palestina dan film “Tears of Gaza” menceritakan penindasan Israel di wilayah yang kerap digempur militer Israel itu.   

Ketua Asia Pacific Community for Palestine (ASPAC) Saiful Bahri yang ditemui di sela-sela festival menjelaskan, konflik di Palestina adalah konflik kemanusiaan.     

Karena itu, FFP ini bertujuan selain untuk mempopulerkan konflik Palestina, juga menggelitik para eksekutif yang dinilai belum memberikan peran yang maksimal untuk krisis kemanusiaan di Palestina. Tidak seperti peran eksekutif di negara lain, misalnya Turki,Mesir atau Tunisia.   

Selama ini yang paling banyak aktif adalah NGO,sedangkan eksekutif belum maksimal sesuai ekspektasi, minimal seperti apa yang dilakukan  negara Turki dan lainnya.    

“FFP ini untuk edukasi sekaligus menyebarkan spirit perlawanan dan anti penjajahan yang sedang dialami Palestina. FPP diinisiasi oleh Aspac bekerja sama dengan Viva Palestina Malaysia,” ucapnya.   

Saiful mengatakan,dari 7 film yang dipilih untuk FFP ini, hanya empat film ini yang mendapatkan lisensi dan ijin diputar, termasuk telah lulus sensor dari Lembaga Sensor Indonesia (LSI). 

Ke depan FFP direncanakan tidak hanya dalam bentuk film dokumenter dan semi dokumenter , tetapi diharapkan bisa disajikan dalam bentuk film action dan animasi. (suarapembaruan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *