Wartawan ‘Israel’: “Kesepakatan Abad Ini Adalah Lelucon Abad Ini’

Oleh: Hassina Mechaï

“…….Itu diantaranya termasuk kisah tentang seorang wanita Badui yang, pada tahun 1986, dipaksa untuk melahirkan di sebuah pos pemeriksaan Israel. Bayi yang baru dilahirkannya harus meninggal karena sang ibu tidak bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu setelah harus berjalan dua kilometer sendirian menggendong bayi di tangannya.

Suaranya jelas, sedikit aksen Ibrani dapat dideteksi saat Gideon Levy berbicara dalam bahasa Inggris. Gayanya bicaranya langsung dan ringkas, mungkin memamerkan beberapa “chutzpa”, tetapi metodenya langsung dalam mengungkapkan sesuatu. Apakah ini membuat Gideon Levy menyebalkan? Tentu tidak. Sebaliknya, dengan ramah dan penuh kesabaran dia jelaskan apa yang dipertaruhkan di sini.

Sebagian menyebut Gideon Levy menyuarakan hati ‘Israel’, sebagian lainnya lebih suka menghinanya. Levi adalah seorang “peniup siulan”. Dia mungkin tidak suka digambarkan seperti itu. Dia adalah seorang jurnalis, dan sekarang seorang kolumnis di koran berbahasa Inggris ‘Israel’, Haaretz. Dia duduk sebagai salah satu  anggota dewan di sana. Setiap pekan, dia menulis kolom yang bertentangan dengan ideologi kelompok nasionalis dan agamis yang berkuasa.

Pria Paling Dibenci di Israel

Levy memiliki kebanggaan tersendiri karena dianggap oleh pihak berwenang sebagai “ancaman” bagi keamanan negara. Apa yang telah dilakukannya hingga membangkitkan kegusaran semacam itu? Hampir setiap pekan selama tiga dekade dia berkunjung ke teritorial jajahan dan menceritakan apa yang dilihatnya di sana. Meskipun dia tidak lagi bisa pergi ke Gaza sejak 2006 (undang-undang ‘Israel’ melarang setiap warga negara ‘Israel’ untuk memasuki Jalur Gaza), dia mampu menyoroti pembunuhan di kalangan warga Palestina. Bukunya, “Hukuman bagi Gaza”, membuatnya dijuluki  sebagai “propagandis Hamas” oleh kaum nasionalis sayap kanan. Karyanya menyebabkan wartawan bernama Robert Fisk sempat bertanya: “Apakah dia seorang yang paling dibenci di ‘Israel’ atau hanya seorang yang paling heroik.”

Tujuannya sederhana; memanusiakan kembali rakyat Palestina di saat segalanya dilakukan untuk merendahkan kemanusiaan mereka, terangnya. Mulai dari penjajahan hingga ke penyesakan kebudayaan mereka secara perlahan, perampasan, pembongkaran, pelenyapan nama mereka, desa mereka, masyarakat mereka … Kolom-kolom Levy berbicara tentang perjuangan sehari-hari, mengisahkan perincian yang terjadi di tengah masyarakat, memberi mereka nama dan mengembalikan wajah mereka, usia dan kematian mereka. Itu diantaranya termasuk kisah tentang seorang wanita Badui yang, pada tahun 1986, dipaksa untuk melahirkan di sebuah pos pemeriksaan ‘Israel’. Bayi yang baru dilahirkannya harus meninggal karena sang ibu tidak bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu setelah harus berjalan dua kilometer sendirian menggendong bayi di tangannya.

Dia masih terkejut, katanya, dengan ketidakpedulian rata-rata masyarakat ‘Israel’ akan realitas yang seringkali terjadi tidak jauh dari rumahnya. Masyarakat ‘Israel’ “hidup dalam penyangkalan, dalam kebohongan. Tapi benar-benar sadar. Masyarakat memilih untuk hidup seperti ini, “katanya kepada MEMO.

“Masyarakat ‘Israel’ adalah masyarakat yang sangat agresif. Tetapi ini tidak dapat digeneralisir. Ada saat-saat mudah dan ada yang sulit, misalnya saat terjadi perang. Tetapi saya masih menulis tentang Gaza dan perlawanannya. Saya menulis bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah perlawanan ghetto Gaza. Orang-orang menjadi sangat agresif. “Ini mengingatkan kembali pada perlawanan ghetto Warsawa saat Perang Dunia II tentang sebuah bagian simbolis dari ‘historiografi’ ‘Israel’. Ini mungkin membuat orang jadi sedih, tapi saya masih memiliki kebebasan penuh untuk berbicara; di dalam koran saya bahkan tidak hanya di sana. Juga di TV. Setiap saat jadi tidak menyenangkan tapi saya tidak dapat mengatakan bahwa mereka berusaha menyumbat mulut saya.”

Teater Bayangan

Pengalamannya di media telah membuatnya mengerti masyarakat ‘Israel’ dan para pejabat yang mendudukinya. Pemilu ‘Israel’ terbaru, yang mengantarkan pertahana PM Benjamin Netanyahu terpilih kembali, hanyalah peristiwa terbaru yang memicu kontroversi, paling tidak karena banyaknya kasus korupsi yang menjerat Netanyahu.

Meskipun demikian, kemenangannya bukanlah kejutan bagi Levy. “Dia menciptakan situasi ini yang menggiring orang percaya bahwa tidak ada pilihan selainnya. Dia berkuasa dengan cara menebarkan rasa takut. Tapi dia menebar ketakutan dan menampilkan dirinya sebagai satu -satunya yang bisa melindungi masyarakat. Dia seorang politisi yang sangat berbakat dengan keahlian retorika yang sangat baik. “

Dia juga telah menciptakan situasi di mana banyak orang percaya bahwa tuduhan korupsi ini adalah palsu dan bahwa dia tidak bersalah, dia adalah korban, dan mereka memiliki hubungan yang dekat dengannya.

“Menurut saya, Gantz bukan penantang sejati dan dia akan menghilang dari panggung politik dengan sangat cepat. Tetapi banyak orang memilihnya. Sebenarnya, mereka tidak memilih Gantz tetapi mereka memilih untuk melawan Netanyahu. Memang ada orang-orang yang benar-benar ingin Netanyahu pergi, “tambahnya

Namun keduanya sama, lanjutnya. “Setelah operasi di Gaza, Gantz mengatakan hal yang sama dengan Netanyahu. Ketika menghadapi masalah besar, seperti isu penjajahan, tidak ada banyak perbedaan di antara mereka berdua. “

Koneksi internasional Netanyahu mengkhawatirkan Levy, seperti persahabatannya dengan Pemerintah sayap kanan di Brasil, AS, dan Hongaria.

Netanyahu hanya bisa berteman dengan orang-orang itu. Karena kaum nasionalis dan neo-fasis menemukan bahasa yang sama dengan sesame fasis lainnya … Dia tidak dapat benar-benar memikirkan siapa yang anti-Semit atau tidak, karena pada akhirnya, yang penting adalah mempertahankan penjajahan. Itu akan menjadi justifikasi atas segala hal di matanya.”

Kesepakatan Abad Ini: Sebuah Lelucon


“Teman-teman” inilah yang mendukung ‘Israel’ dalam perjanjian damai dan membatalkan kesepakatan sebelumnya termasuk yang membahas solusi dua negara bagi konflik Palestina-Israel. Netanyahu, Levy berkata, “tidak membicarakannya lagi”. “Bahkan ketika dia berbicara tentang itu, dia menggampangkannya karena dia tahu itu tidak akan membuahkan apa-apa. Itu adalah cara terbaik untuk mempertahankan status quo tanpa melakukan apa-apa. ”

Solusi dua negara sudah mati. Sudah mati karena sekarang ada begitu banyak pemukim (Yahudi) dan mereka telah menciptakan situasi yang tidak lagi dapat diubah. Kami sekarang memiliki hampir 700.000 pemukim (Yahudi) dan tidak ada yang akan mengevakuasi mereka dan tidak ada yang akan berniat untuk mengevakuasi mereka. Tanpa langkah evakuasi, tidak ada negara Palestina; itu sebuah lelucon.

Rencana perdamaian terbaru AS – yang dijuluki “Kesepakatan Abad Ini” – akan diumumkan pada bulan Juni setelah Umat Islam selesai berpuasa. Ini, kata Levy, adalah “Lelucon Abad Ini”.

“Itu hanya akan memberi ‘Israel’ bertahun-tahun tambahan untuk mempertahankan penjajahan dan melanjutkan kejahatannya. Tidak ada seorangpun yang akan menjadikan ini hal yang serius. Itu berasal dari Trump dan [menantu dan penasihatnya] Kushner, siapa yang bisa menganggapnya serius? … Itu tidak bisa dianggap serius karena itu tidak adil. Orang-orang itu benar-benar sepihak. Bagaimanakah anda dapat bahkan sekedar berfikir untuk mendengarkan mereka saat mereka berdiri dengan sangat jelas di satu pihak saja dan mereka berlaku begitu agresif terhadap pihak lain? Mediator macam apa mereka? ”Tambahnya.

Bahkan deklarasi PBB bahwa Jalur Gaza yang dikepung akan “tidak dapat dihuni” pada tahun 2020 tidak dapat menyelamatkan warga Palestina di sana, Levy menjelaskan. “Ini bukan perang. Itu adalah penjara yang mengerikan. Dari waktu ke waktu, para tahanan berusaha melawan, memprotes. Tapi para penjaga membalas dengan kasar. Dan mereka akan tetap diam selama beberapa bulan tetapi sekali lagi mereka mencoba untuk memecahkan sangkar/penjara. Itu akan terus seperti ini selamanya. “

“Tidak ada rencana untuk Gaza karena tidak ada yang peduli. Bahkan Eropa tidak terlalu peduli. Saya bahkan tidak menyebut-nyebut AS. Semua orang menjadi diam dan tidak tergerak. Sampai bencana datang. Tapi selama itu tidak di sini, tidak ada yang peduli. “


‘Israel’ Melawan Yahudi

Penjajahan membawa Levy untuk memberikan suara untuk partai-partai Arab-‘Israel’ dalam pemilu terakhir, dia menjelaskan ini adalah “karena bagi saya sulit untuk memilih partai Zionis. Saya tidak bisa lagi mengidentifikasi diri saya berada di dalam daftar Zionis mana pun. ”

“Saya bukan anti-Zionis,” ia menjelaskan, “Post Zionist akan menjadi definisi yang tepat. Saya baru menyadari bahwa Zionisme telah mencapai tujuannya; sekarang adalah tentang menciptakan demokrasi, tidak ada yang lain selain dari demokrasi. Hak ‘semua sama’. Saya tidak melihat solusi lain selain solusi satu negara. “

Perdebatan tentang penjajahan ‘Israel’ dan solusi apa yang ada untuk itu, telah menggiring kepada tuduhan “anti-Semitisme”, kata Levy.

Ini melumpuhkan Eropa, karena tidak ada yang mau dicap anti-Semit. Dan karena itu, mereka tidak berbicara tentang hukum internasional dan bagaimana hal itu telah dilanggar oleh penjajahan ilegal. Mereka terus menjadi apologis karena telah menjadi anti-Semit, dengan benar-benar mengabaikan kejahatan yang dilakukan oleh pasukan penjajahan (‘Israel’).

“Ada anti-Semitisme di dunia tetapi jauh lebih sedikit dari yang diklaim oleh ‘Israel’,” dia menjelaskan. “Orang-orang di Eropa, orang-orang dengan hati nurani harus mengatakan bahwa kita memiliki hak penuh, lebih dari itu, adalah tugas kita, untuk mengkritik penjajahan, untuk menjadi anti-Zionis.”

Apakah ada harapan untuk perubahan yang berasal dari diaspora Yahudi, terutama yang ada di Amerika? “Ada perubahan pasti, tapi jangan dibesar-besarkan. Namun, kelompok mapan Yahudi masih terus mendukung ‘Israel’ secara membabi buta, secara otomatis mendukung penjajahan dan Netanyahu. Ya benar, ada generasi baru dan kamp baru di sana, yang sangat menjanjikan karena mereka sangat liberal. Tapi ada jalan panjang yang harus ditempuh, karena bagi kebanyakan dari mereka, berdiri melawan ‘Israel’ adalah sesuatu yang belum bisa mereka lakukan. Tetapi gerakan ini berjalan seiring dengan perubahan dalam partai Demokrat [AS]. Ini bahkan lebih menjanjikan karena ini adalah pertama kalinya Netanyahu disebut rasis. Kami belum pernah mendengar ini sebelumnya. ” (i7)

—————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 25/05/2019, jam 9:50 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *