Usman, Remaja Palestina Yang Berjuang Lawan Peluru ‘Israel’


Oleh: Lulu Basmah

Usman masih mengerang kesakitan akibat terkena peluru ledak Israel. Sekujur tubuhnya ambruk bahkan ia tidak sanggup berbicara.

Remaja berumur 14 tahun tersebut telah berbaring di rumah sakit sejak bulan lalu. Tepatnya setelah peluru Israel menembus dadanya dan menghancurkan hati serta organ dalam lainnya.

Saat ini, Usman masih menjadi penghuni tetap salah satu ruang bedah di Rumah Sakit Syuhada di Deir Al-Balah. Ia bahkan tidak sanggup bergerak untuk makan atau berbicara dengan tamu dan teman sekolahnya yang datang menjenguk.

Untuk berbicara, Usman harus mengatur nafas beberapa saat agar suaranya dapat keluar jelas. Sebagian pecahan peluru disebutkan masih bersarang di badannya. Hal tersebut membuat Usman merasakan sakit yang luar biasa.

Usman bercerita, “Hari itu saya berdiri jauh dari pagar perbatasan Gaza-Israel. Tiba-tiba saya terjatuh dan merasakan sakit di bagian dada. Warga yang melihat lantas melarikan saya ke rumah sakit. Sejak saat itu saya terus merasakan sakit yang luar biasa dan membuat saya tidak bisa makan. Yang mengganggu saya saat ini adalah selang panjang yang dipasang dokter di tubuh saya ini.”

“Saya berharap dapat kembali berseragam untuk belajar dan bermain dengan teman-teman di sekolah. Saya sama sekali tidak membawa senjata apapun sehingga Israel merasa pantas untuk menembak saya. Saya dan warga lainnya berdiri di tempat yang jauh dari pagar perbatasan,” kisah Usman.

Usman secara bergilir dijaga oleh pamannya dan teman-temannya. Sejak pertama kali dilarikan ke sumah sakit, belum ada perkembangan berarti dari luka Usman.

Paman Usman mengatakan, peluru Israel yang mengenai Usman masuk dari dada sebelah kiri dan menembus keluar dari dada kanan. Bidikan Israel tersebut telah merusak usus, hati dan mematahkan 3 tulang rusuk. Makanan yang masuk, keluar kembali melalui usus yang bocor. Selama 20 hari di rumah sakit, Usman telah menjalani 2 kali operasi. Namun hal itu belum cukup untuk menjadikan kondisi Usman normal kembali.

Untuk menghiburnya, teman-teman sekelas Usman terus datang menjenguk untuk memberikan semangat.

Kisah Usman ini adalah salah satu kisah dari 27 ribu lebih rakyat Gaza yang ikut terluka dalam aksi Great Return March di Perbatasan Gaza.

Sejak 30 Maret 2018 lalu, rakyat Gaza melakukan aksi damai kepulangan akbar di perbatasan Gaza-Israel untuk membuka blokade penjajah tersebut.

Data yang terkumpulkan, korban yang terluka dan syahid, rata-rata tertembak bukan di area dekat pagar perbatasan. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan Undang-Undang Internasional dan nilai-nilai kemanusiaan tentunya. (LB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *