Penjajah Zionis Larang Penganut Kristen Gaza Ziarahi Bethlehem dan Baitul Maqdis Saat Natal

Penganut Kristiani di Gaza sedang berkumpul merayakan Natal, 7 Januari 2018 [Mohammed Asad/Middle East Monitor]

Umat ​​Kristen di Jalur Gaza tidak akan diizinkan menziarahi kota-kota suci seperti Betlehem dan Baitul Maqdis untuk merayakan Natal tahun ini, kata pihak berwenang Penjajah Zionis, Kamis (12/12), demikian seperti dilansir oleh Reuters.

Umat ​​Kristen Gaza akan diberikan izin untuk melakukan perjalanan ke luar negeri tetapi tidak ada yang akan diizinkan masuk ke negara Penjajah Zionis dan Tepi Barat yang dijajah, rumah bagi banyak situs suci umat Kristen, kata seorang juru bicara untuk penghubung militer Penjajah Zionis dengan Palestina.

Negara Penjajah Zionis melarang pergerakan warga keluar dari Jalur Gaza, dimana territorial ini dikendalikan oleh Hamas, kelompok Islamis yang dianggap oleh Penjajah Zionis sebagai organisasi teroris.

Juru bicara itu mengatakan bahwa setelah “peringatan keamanan”, warga Gaza akan diizinkan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri melalui perbatasan Jembatan Allenby antara negara Penjajah Zionis dengan Yordania tetapi tidak diperbolehkan mengunjungi kota-kota di negara Penjajah Zionis atau Tepi Barat.

Gaza menjadi rumah bagi sekitar 1.000 warga Kristen – kebanyakan dari mereka adalah pemeluk Ortodoks Yunani – di antara populasi 2 juta warga di jalur pantai yang sempit itu.

Keputusan tahun ini adalah terobosan yang diluar kebiasaan. Tahun lalu, Penjajah Zionis masih memberikan izin bagi hampir 700 warga Kristen Gaza untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem, Betlehem, Nazareth dan kota-kota suci lainnya yang menjadi daya tarik ribuan peziarah setiap musim liburan.

Gisha, sebuah kelompok HAM di negara Penjajah Zionis, mengatakan larangan itu menunjuk pada “intensifikasi pembatasan akses antara dua bagian dari wilayah Palestina,” menyebutnya sebagai “semakin dalamnya kebijakan pemisahan Penjajah Zionis” terhadap Tepi Barat dan Gaza.

Rakyat Palestina berupaya mendirikan negara di Tepi Barat dan Gaza, territorial yang direbut Penjajah Zionis dalam perang Timur Tengah tahun 1967.

Penjajah Zionis di masa lalu membela diri bahwa pelarangannya terhadap warga Gaza yang melakukan perjalanan ke Tepi Barat, dengan dalih banyak warga Palestina dari Gaza yang kemudian menetap tinggal secara ilegal setelah diberikan izin jangka pendek.

Di Gaza, seorang wanita Kristen menyuarakan harapan agar Penjajah Zionis membalikkan kebijakannya sehingga ia dapat mengunjungi keluarganya di kota Ramallah, Tepi Barat.

“Setiap tahun saya berdoa agar mereka memberikan saya izin supaya saya dapat merayakan Natal dan berjumpa keluarga saya,” kata Randa El-Amash, 50 tahun, sambil menambahkan, “akan jauh lebih menyenangkan untuk merayakannya di Betlehem dan di  Baitul Maqdis.”

Tokoh-tokoh Kristen di Baitul Maqdis mengutuk langkah itu, tetapi menambahkan bahwa mereka meminta otoritas Penjajah Zionis untuk membalikkan keputusan itu.

 “Orang lain dari seluruh dunia diperbolehkan untuk datang ke Betlehem. Menurut kami, orang Kristen Gaza juga harus memiliki hak itu juga, ”kata Wadie Abu Nassar, seorang penasihat tokoh-tokoh gereja lokal(i7).

——————

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 12 Desember 2019 pukul 19.24.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *