Pakar Yerusalem Ungkap Tujuan Penjajah Perluas Halaman Al-Buraq

Seorang peneliti dan spesialis Urusan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha, Jamal Amr, mengatakan bahwa keputusan “Israel” untuk memperluas areal ritual Yahudi di Halaman Al-Buraq merupakan langkah yang di dalamnya terkandung semacam “kelicikan dan tipu daya”. “Istilah perluasan menggiring persepsi dunia bahwa areal itu berada di bawah kekuasaan mereka atau milik mereka, meskipun seluruh dunia mengetahui dan mengakui bahwa itu merupakan properti wakaf Islam dimana Penjajah Zionis tidak punya hak terhadapnya walaupun sebiji pasirnya.”

Dia menjelaskan kepada PIP (Pusat Informasi Palestina) bahwa bagi Dinas Wakaf Islam untuk tidak menyibukkan diri di dalam masalah perluasan. Tapi cukup mengembalikan dan menegaskan fakta Tembok dan Halaman Al-Buraq merupakan properti wakaf milik Umat Islam sendiri saja.

Dia menjelaskan bahwa perluasan ini merupakan yang keempat kalinya sejak Yerusalem dijajah pada tahun 1967. Yang pertama adalah bertujuan membongkar bukit gerbang Mughariba dan menghilangkannya dan menghancurkan jejak peninggalan dalam jarak yang cukup luas, sehingga memungkinkan bagi kelompok ekstrimis (Yahudi) untuk menaiki bukit dan membangun jembatan gantung dan ring besi, dan juga kayu sehinigga memungkinkan bagi kelompok ekstrimis menyerbu ke Masjid Al-Aqsha. Ini meskipun areal tersebut berada dibawah naungan UNESCO.

Amr melanjutkan: “Sungguh proyek Yahudisasi di areal Gerbang Mughariba dan Halaman Al-Buraq berlangsung sejak beberapa dekade. Akan tetapi sejak kurang lebih 10 tahun, penggalian dan eksplorasi dan ekspansi di areal itu mengalami masa kritis, melalui proyek yang tidak diumumkan yang tersebar di dalam pagar-pagar Kota Tua dan luarnya yang terhubung dengan 27 asosiasi pemukiman (Yahudi) yang mememiliki kaitan langsung dengan pembangunan Haikal sangkaan di bawah nama “Persatuan Organisas-organisasi Haikal”

Amr menjelaskan bahwa ekspansi terencana merupakan yang paling berbahaya, karena tabiatnya sebagai proyek besar yang terintegrasi yang mengubah bentuk setiap antarmuka bagian selatan kota suci itu termasuk didalamnya gerbang-gerbang dan tangga-tangga dan areal bagi orang berkebutuhan khusus, dan mengubah arus lalu lintas dan daerah arkeologi milik Daar Al-Imaarah Al-Islamiyah tempat peninggalan benda-benda bersejarah.

Tujuan sebenarnya

Pakar Yerusalem tersebut menganggap bahwa tujuan sebenarnya dari semua aksi perluasan ini adalah mencengkram dan merebut lebih banyak lagi properti-properti wakaf di daerah vital dan sensitif di selatan Masjid Al Aqsa. Dia menunjukkan perlunya mengaktifkan keputusan “UNESCO” dan PBB yang terkait dengan kota Yerusalem yang dijajah.

Dia menambahkan bahwa masalah yang mendasar adalah bahwa “Israel” bekerja dan bertindak sebagai sebuah negara yang tidak mempedulikan berbagai resolusi dan undang-undang internasional. Lebih buruk dari itu negara Zionis ini  tidak dituntut tanggungjawabnya atas pelanggaran yang dilakukannya terhadap undang-undang internasional dan dia juga tidak mengabaikan hukum dan norma-norma, serta konvensi  internasional. (i7)

———————

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 28/08/2018,  pukul: 12:10:07 siang.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *