Dinas Wakaf Islam Minta Intervensi untuk Hentikan Rencana Ekspansi” Israel “di Dinding Al-Buraq

 


Yerusalem yang terjajah – Dinas Wakaf Islam dan Urusan Masjid Al-Aqsha yang diberkahi, Senin (27/08) meminta  badan-badan internasional  yang membidangi masalah seperti UNESCO melakukan intervensi langsung untuk menghentikan rencana “Israel” untuk memperluas “Areal Gender Campuran” di sisi barat Tembok Al-Buroq (Kelompok Yahudi menyebutnya sebagai Tembok Ratapan) “Tembok Masjid Al-Aqsha yang diberkahi.”

Dinas Wakaf dalam pernyataannya menjelaskan bahwa pihaknya memandang dengan sangat waspada terhadap eskalasi berbahaya atas berbagai keputusan dan pelanggaran Penjajah “Israel” terhadap hak milik Masjid Al-Aqsha yang diberkahi dan areal sekelilingnya, khususnya di daerah Tembok Al-Buraq dan Istana Al-Umawiyah, sambil memberi penjelasan bahwa itu adalah wakaf Islam yang benar-benar milik Dinas Wakaf Islam.

Dinas Kotamadya Penjajah di Yerusalem belakangan ini menetapkan – dengan tekanan dari kantor PM “Israel” Benyamin Netanyahu – langkah untuk memperluas “Areal Gender Campuran”  Tembok Al-Buraq, seperti yang dilansir oleh surat kabar “Haaretz”, pada hari Senin.

Dinas Wakaf Islam menegaskan bahwa akuisisi atas wilayah wakaf ini merupakan serangan terang-terangan terhadap properti milik Ummat Islam. Ditegaskannya bahwa proyek yahudisasi di sekeliling Masjid Al-Aqsha ini tidak bisa terlaksana kecuali dengan penggunaan kekuasaan oleh Penjajah, dimana di dalamnya terjadi perubahan fundamental atas kondisi keagamaan dan sejarah yang sebelumnya eksis di Kota Yerusalem sejak tahun 1967 dan sebelum itu.

Rencana tersebut mencakup perluasan yang diungkapkan oleh “Haaretz” sebagai perluasan “Areal Gender Campuran”, selain juga perluasan jalan menuju kearahnya, pemasangan perlengkapan penyebrangan dengan kebutuhan khusus.

“Area Gender Campuran” dibangun di Tembok Al-Buraq, tahun 2016, dalam upaya dari Pemerintah Penjajah Zionis memisahkan antara pelaku ritual kelompok Orthodoks, yang melarang campur-baur wanita dengan laki-laki saat ritual berlangsung, dan antara pelaku ritual kelompok Reformis dan Konservatif, yang telah membangun halaman untuk mereka sendiri, dengan tambahan yang memungkinkan bagi wanita untuk melakukan ritual di dalamnya.

———————————–

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 27/08/2018,  pukul 02:47:40 sore.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *