Al-Oweiwi: Penderitaan Tahanan Palestina Berlipat-lipat di Bulan Ramadan



Hebron – Tahanan Palestina yang telah bebas Senin lalu (13/05), Susan Al-Oweiwi mengatakan bahwa administrasi penjara penjajah Zionis berupaya untuk mengabaikan dan menggagalkan semua unsur kehidupan para tahanan yang mendekam di penjara-penjara mereka.

Al-Oweiwi  dalam pernyataannya tersebut mengutip salah satu “kantor berita tahanan”, bahwa sulitnya kondisi yang dialami oleh para tahanan menjadi kian memburuk selama bulan Ramadhan karena tindak pelanggaran penjajah yang amat menindas dan tidak menyediakan kondisi kehidupan yang manusiawi di dalam penjara.

“Kondisi para tahanan di penjara Damoun amat tragis,” katanya. Di dalamnya pihak administrasi penjara melakukan “bullying” terhadap para tahanan wanita, mereka menyerang pencapaian demi maslahat para tahanan wanita yang telah diraih oleh gerakan tahanan, yang ini bertujuan untuk melenyapkan segala bentuk kebahagiaan dan kemenangan dari dalam diri para tahanan.

Al-Oweiwi memperingatkan bahwa dengan datangnya bulan Ramadhan, penderitaan yang mereka alami semakin meningkat, dimana tidak disediakan dapur umum bagi para tahanan wanita untuk menyiapkan buka puasa, dan membatasi penggunaan “kompor” yang sangat lambat dan membutuhkan waktu sangat lama untuk memasak makanan. Demikian juga suhu udara di sel-sel penjara yang sangat panas, dan penuh dengan kelembaban, ditambah lagi dengan penguncian ruang-ruang sel tersebut yang semakin menambah buruknya keadaan.

Kehidupan Tanpa Adanya Unsur Kemanusiaan


Al-Oweiwi menjelaskan bahwa kamar mandi bagi para tahanan wanita ini terletak di luar ruangan penjara, di mana aksesnya hanya terbuka selama empat jam setiap hari, untuk berbagai keperluan termasuk mandi, memasak, mencuci dan semua yang butuhkan tahanan dari aspek kehidupan. Sisanya, jika tahanan ingin keluar sel menuju kamar mandi maka diwajibkan mengajukan permohonan kepada bagian administrasi penjara yang akan menetapkan izin baginya atapun menolak permintaannya.


Ditambahkannya bahwa penjajah masih terus menolak untuk menyediakan perpustakaan bagi para tahanan, atau ruang khusus untuk belajar, dan melarang buka puasa bersama, shalat taraweh, dan bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya untuk bisa saling kunjung kepada sesama tahanan.

Dijelaskannya bahwa penjajah juga melarang para tahanan wanita ini melakukan perkumpulan dan  duduk melingkar untuk obrolan umum. Jika ini sampai terjadi, maka pihak penjara akan membubarkannya. Baru-baru ini saja, mereka menyetujui pelaksanaan shalat tarawih secara berjama’ah di aula serbaguna. Tapi itupun dengan syarat berada dalam pengawasan dan juga terpasangnya banyak kamera. Dan para tahanan wanita menolak persetujuan itu dan mereka lebih memilih shalat di dalam ruangan sel mereka.

Pengabaian dan Permusuhan

Al-Oweiwi mengatakan bahwa jumlah tahanan wanita di penjara Damoon mencapai 43 orang. 21 di antaranya adalah ibu-ibu, dan 7 dari mereka dalam keadaan luka-luka dan menderita pengabaian medis yang luar biasa. Beberapa tahanan bahkan masih bersarang di dalam tubuhnya peluru dan pihak administrasi penjara ‘Israel’ menolak untuk memberikan perawatan kepada mereka. Diperingatkannya bahwa seorang tahanan bernama Amal Tqaqqa amat menderita akiabt pecahan pecahan peluru yang bersarang di tubuhnya, dan penjajah menolak izinnya keluar penjara demi mendapat pengobatan. Hingga akhirnya karena puncak rasa sakit yang dialaminya dia mencabut pecahan peluru itu dengan tangannya sendiri.

Al-Aweiwi membenarkan bahwa para tahanan wanita terus-menerus menghadapi hinaan seperti yang dialami oleh Wafaa Mahdawi, ibu dari seorang syahid Ashraf Na’alwa, yang selalu diperlakukan dengan hina sebagai balas dendam atas apa yang telah diperbuat oleh putranya yang syahid. Dia dipukuli berkali-kali, lalu dia disidang dengan tuduhan bahwa dialah yang melakukan penyerangan. Dan sekarang wanita malang ini menderita komplikasi penyakit, dan tidak ada yang boleh memberikan pengobatan kepadanya.


Pertempuran Terus Menerus

 
Al-Oweiwi  mengatakan bahwa “Para tahanan wanita ini terus menerus berada dalam pertempuran setiap harinya melawan pihak administrasi penjara, dimana sipir penjara membidik apa saja yang menjadi obyek kebahagiaan, pencapaian, atau secercah harapan yang dimiliki para tahanan wanita tersebut. Mereka dengan berbagai cara berusaha melenyapkan unsur-unsur kehidupan mereka. Mereka memaksakan realitas suram kepada para tahanan, akan tetapi mereka menghadapi para sipir ini dengan cara bersatu untuk meraih apa saja yang mereka masih bisa raih, dan mereka berupaya menciptakan secercah kebahagiaan dan makna kehidupan dari  ketiadaan apa-apa. “

Al-Oweiwi menggambarkan para tahanan wanita dari kalangan ibu-ibu menderita kehilangan dan kerinduan yang dalam akan anak-anak mereka. Pada setiap saat, mereka merindukan untuk bertemu dengan jantung hati mereka, dana menderita rasa kehilangan yang menyiksa, khususnya pada momentum bulan Ramadhan ini mereka teringat akan masa-masa bersama keluarga menjalani masa di bulan Ramadhan yang mulia.

Al-Oweiwi menyampaikan pesan dan harapan dari para tahanan wanita ini agar masyarakat terus memberikan mereka dukungan bagi permasalahan mereka dan menggaungkan suara mereka dan penderitaan yang mereka alami kepada dunia.

Otoritas penjajah telah membebaskan anggota dewan wali kota Hebron Suzan Abdul Karim Al-Oweiwi (usia 40 tahun), ibu dari empat orang anak, setelah mendekam selama satu tahun di dalam penjara penjajah. Dia ditahan pada bulan Juni tahun lalu, dan mengalami interogasi yang kejam di pusat investigasi dan penahan Asqolan, dan masa tahanannya diperpanjang beberapa kali sebelum terbit keputusan akhir bagi pemenjaraannya selama satu tahun, dimana Senin lalu dia berhasil keluar dari penjara. (i7)

————-

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 19/05/2019, jam: 18:10.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *