Akankah Penjajah Zionis Buka Masjid Al-Aqsa Bagi Serbuan Pemukim Yahudi?

Kota Alquds Jajahan – Hari Senin (18/05)  aktivis kelompok Yahudi mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Otoritas Penjajah Zionis meminta agar Masjid Al-Aqsa dibuka bagi para pemukim Yahudi, meski ketetapan dari Departemen Wakaf Islam untuk menutupnya demi mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Hal itu merupakan upaya Sekte Haikal Sulaiman yang melalui pengacaranya menyatakan bahwa “Temple Mount” (Masjid Al-Aqsa yang diberkahi) telah ditutup bagi penganut Yahudi selama beberapa pekan, sedangkan karyawan dan staf dari Departemen Wakaf Islam diperbolehkan untuk hadir dan melaksanakan shalat di sana, demikian seperti dilansir situs “Arab 48” .

Pengacara tersebut menganggap dalam petisinya bahwa penutupan pekarangan Masjid Al-Aqsa dilakukan mengikuiti kesepakatan ilegal antara negara Penjajah Zionis dan Yordania, sehingga orang-orang Yahudi dilarang naik ke Masjid Al-Aqsa.

Menurutnya kesepakatan antara kedua negara itu sengaja disembunyikan, dan itu bertentangan dengan hukum negara Penjajah Zionis yang memberikan kebebasan bergerak dan naik ke Masjid Al-Aqsa.

Sementara pihak Penuntut Umum negara Penjajah Zionis meminta tanggapan atas tuduhan dan asumsi tersebut melalui sidang tertutup dengan alasan kerahasiaan dan mengandung materi intelejen, karena hakim pengadilan telah menyetujui permintaan Penuntut Umum yang meminta penjelasan alasan penutupan Masjid dan kesepakatan antara negara Penjajah Zionis dan Yordania mengenai hal tersebut.

Departemen Wakaf Islam telah mengumumkan, pada akhir Maret lalu, penangguhan jamaah shalat memasuki Masjid Al-Aqsa sebagai langkah pencegahan penyebaran covid-19, dan untuk menjaga keselamatan nyawa para jamaah.

Sejak saat itu, pintu Masjid Al-Aqsa ditutup, dan shalat di dalamnya dibatasi hanya bagi para satpam dan staf di Departemen Wakaf Islam di kota Alquds.

Setelah pintu-pintu masjid ditutup, para pemukim Yahudi tidak lagi dapat menyerbunya, melalui Gerbang Mugrabi, yang berada di tembok bagian barat Masjid Al-Aqsa.

Beberapa tokoh dan lembaga kota Alquds telah memperingatkan langkah “berbahaya” Penjajah Zionis untuk mencengkeramkan kedaulatannya terhadap situs yang suci itu,  dengan cara mengambil keuntungan dari melarang jamaah memasuki Masjid Al-Aqsa, dengan alasan mencegah penyebaran Covid-19.

Lembaga Alquds Internasional Foundation menganggap kesepakatan antara Yordania dan Otoritas Penjajah Zionis tentang pengaturan manajemen Masjid Al-Aqsa, termasuk diantaranya birokrasi pembukaan dan penutupannya, sebagai sebuah kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sebagai bentuk pengakuan diam-diam atas kedaulatan Penjajah Zionis terhadap tempat-tempat suci tersebut.”

Lembaga tersebut menyatakan, dalam pernyataannya  Ahad (17/05): “Sesungguhnya kesepakatan politik terkait pengaturan manajemen Masjid Al-Aqsa yang diberkahi, termasuk birokrasi pembukaan dan penutupannya, adalah perkembangan baru yang berbahaya yang belum pernah terjadi secara terang-terangan sebelumnya. Itu merupakan bentuk pengakuan secara tidak langsung terhadap kedaulatan Zionis di Masjid Al-Aqsa yang diberkahi.”

Ditegaskannya bahwa “Perkembangan ini adalah sesuatu yang perlu ditinjau kembali sebelum berubah menjadi sebuah pendekatan yang merugikan Al-Aqsa dan hak-haknya yang  tegas yang tidak dapat dicabut dari Al-Aqsa, yang tidak boleh bergeser sedikitpun bagi setiap Muslim dari generasi ke generasi, serta merusak citra Yordania dan pemimpinnya.”

Perlu dicatat bahwa Departemen Wakaf kota Alquds, yang berafiliasi kepada Kementerian Wakaf dan Tempat-tempat Suci dan urusan keislaman di Yordania, adalah sebagai pengawas resmi Masjid Al-Aqsa dan wakaf-wakaf kota Alquds, berdasarkan hukum internasional yang menganggap Yordania sebagai penguasa lokal atas tempat-tempat suci di sana sebelum kedatangan Penjajah Zionis.”

Yordania memiliki hak untuk mengawasi urusan keagamaan di kota Alquds berdasarkan Perjanjian Wadi Araba (Perjanjian Perdamaian Yordania – Penjajah Zionis yang ditandatangani pada 1994).

Pada bulan Maret 2013, Raja Yordania dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menandatangani perjanjian yang memberi Yordania hak bagi “perwalian dan pertahanan kota Alquds dan tempat-tempat sucinya” yang berada di dalam tanah air Palestina yang terjajah.

———–


Sumber: www.palinfo.com, terbit Senin 18 Mei 2020 jam 4.35 sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *