200 Anak Palestina Ditangkap Pasukan Zionis di Baitul Maqdis

Polisi Penjajah Zionis menangkap seorang bocah remajaa Palestina di Issawiya, kota Baitul Maqdis, 4 Januari 2017 [Mahfouz Abu Turk/Apaimages]


Pasukan negara Penjajah Zionis telah menangkap sekitar 200 anak-anak Palestina di Issawiya di bagian timur kota Baitul Maqdis yang dijajah selama beberapa bulan terakhir, dimana dalam banyak kasus itu melanggar hak asasi mereka.

Menurut data dari ACRI (Asosiasi Hak Sipil di negara Penjajah Zionis), seperti dilansir oleh Haaretz, lebih dari 600 warga yang telah ditangkap sejak diluncurkannya serangan polisi secara reguler di Issawiya. Warga dan pengacara mengatakan bahwa “sekitar sepertiga dari mereka yang ditangkap adalah anak-anak di bawah umur ”.

Laporan tersebut menambahkan bahwa penggerebekan ini telah ditandai dengan “pelanggaran hak” anak-anak Palestina yang ditahan, termasuk “penggunaan kekerasan, penangkapan malam hari, menginterogasi tanpa kehadiran orang tua, menggunakan mobil patroli untuk mengintimidasi dan memborgol korban yang tidak seharusnya”.

ACRI menyatakan bahwa polisi Penjajah Zionis “secara sistematis melakukan pelanggaran hak-hak para tersangka di bawah umur” di Issawiya. Di saat mana “undang-undang membolehkan polisi untuk tidak mengikuti aturan-aturan ini dalam kasus-kasus luar biasa”, adalah “tidak mungkin bahwa keadaan luar biasa seperti itu ada di semua kasus-kasus ini dan dalam kasus apa pun polisi tidak pernah menunjukkan bukti akan adanya kebutuhan semacam itu.”

Laporan ACRI mengutip sejumlah kasus, termasuk penangkapan seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun tiga pekan lalu (usia pertanggungjawaban pidana adalah 12 tahun).

“Polisi memasukkannya ke dalam mobil, membawanya berkeliling daerah itu dan kemudian membawanya ke kantor polisi,” lapor Haaretz, menambahkan bahwa dalam “klip video penangkapannya yang tersebar di media sosial dimana anak itu terlihat amat ketakutan dan cemas.”

Saat Samar, ayah bocah itu dipanggil ke kantor polisi, dia diinformasikan bahwa putranya telah melakukan aksi pelemparan batu. Polisi itu menunjukan kepada Samar sebuah video sebagai buktinya, tapi Samir membantah anak di video itu adalah putranya. Baru kemudian polisi itu memperhatikan bahwa putranya tidak ada dalam video itu dan putra Samar dibebaskan.

Dalam kasus lain, seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun “mengatakan bahwa petugas polisi masuk ke rumahnya meskipun mereka sudah diberitahu bahwa orang tuanya sedang tidak di rumah”.

“Polisi itu mendorong kepala saya ke sofa dan kemudian memukul kepala saya dengan benda padat. Saya kira itu granat gas air mata. Saya sangat takut. Mereka mendorong tangan saya ke depan, dan memborgol saya dengan borgol plastik lalu menarik saya keluar sementara adik-adik saya menjerit dan menangis. ”

Bocah itu diinterogasi dan dibebaskan beberapa jam kemudian “setelah ayahnya dipanggil ke kantor polisi”, laporan itu menambahkan.

Kepolisian Penjajah Zionis mengatakan kepada Haaretz bahwa tindakan pasukannya di Issawiya dalam beberapa bulan terakhir ini adalah sebagai tanggapan atas “ratusan insiden kekerasan dan kerusuhan yang mengganggu warga sipil dan pasukan keamanan”. Dijelaskananya bahwa pada tahun 2019 polisi “telah mengidentifikasi beberapa kegiatan kelompok nasionalis yang jelas bersifat kekerasan dan provokatif.”

Perkembangan terakhir yang menjadi catatan surat kabar tersebut adalah penangkapan lima warga Issawiya “setelah melanggar sebuah surat perintah penangkapan administratif” yang melarang mereka “keluar rumah pada malam hari” – sebuah perintah “yang diterbitkan tanpa menunjukkan bukti apa pun”. (i7)

—————

Sumber: wwww.middleeastmonitor.com, terbit: 10 Januari 2020 pukul 11:13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *