Ein Silwan: Israel Racuni “Zamzam Palestina” dengan Riwayat Talmud

Ein Silwan, adalah salah satu mata air yang paling terkenal di kota Yerusalem, berjarak sekitar 300 meter dari sudut tenggara tembok Masjid Al-Aqsa dan terletak di dalam administrasi kota Silwan.

Beberapa Studi keislaman menunjukkan Ein Silwan punya garis hubungan dengan “mata air Zamzam”. Ini memberikannya bobot kesucian keagamaan. Hubungan ini pernah diingatkan oleh seorang pujangga Abu Ala Marri, dalam ucapannya: “Di Ein Silwan yang airnya mengilusikan bahwa dirinya berasal dari Zamzam.”

Mata air ini juga dianggap suci oleh pemeluk agama Kristen, karena Al-Masih menggunakan airnya untuk mengobati orang yang buta. Dan dikatakan bahwa Siti Maryam “Sang Perawan” menggunakan airnya untuk mencuci pakaian jabang bayi Nabi Isa, dan karenanya juga dia dinamakan “mata air Sang Perawan”, menurut catatan sejarah.

Dikatakan oleh Yaqoot al-Hamawi: “Ein Silwan adalah mata air yang jernih, diberkati dan dijadikan obat di Bait Al-Maqdis.” Orang Kanaan menggali terowongan menuju ke dalam kota suci, untuk mengamankan airnya di masa pengepungan. Mereka membuatnya dalam bentuk tangga yang turun menuju ke mata airnya.

Sejarah “Mata Air Silwan”

Kata Fakhri Abu Diab, seorang peneliti dalam sejarah Yerusalem, mengatakan bahwa sebagian besar buku dan sejarawan menyebutkan bahwa sekitar 5 ribu tahun SM sebelumnya, orang-orang Kanaan menggali terowongan bawah tanah sepanjang 533 meter, yang dipergunakan oleh penduduk Kota Silwan dan Kota Tua di Yerusalem untuk mengakses mata air ini, menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Mata air ini merupakan salah satu tempat yang tercatat paling tua dalam wakaf Islam pada era Khilafah Utsman bin Affan.

Dia menambahkan keterangannya kepada “Pusat Informasi Palestina” bahwa mata airnya bersumber dari mata air Sang Perawan. Dinamakan demikian karena Ibunda Maria mencuci pakaian bayi Isa ‘alaihi salam di tempat itu. Dia menegaskan bahwa “terowongan mata air” ini merupakan artefak langka dan harta peninggalan arkeologi di Yerusalem. Oleh karenanya pihak Otoritas Penjajah mencoba untuk mempergunakannya ke dalam riwayat dan peradaban Yahudi. Mereka berdalih bahwa diantara orang Yahudi dulu ada yang menggunakan terowongan itu untuk mengirimkan air “mata air Silwan” ke berbagai lokasi di dalam Kota Tua dan sekelilingnya.

Abu Diab menjelaskan bahwa mata air ini adalah penyebab eksistensi kehidupan secara umum di Silwan. Menurutnya bahwa lembaga-lembaga “Israel” dan kotamadya berusaha menyedot dan merampas mata air ini dan mengharamkan rakyat Palestina dari mengambil manfaat air ini. Dia berkata: ” Perkebunan Silwan dulu adalah keranjang makanan bagi Yerusalem secara keseluruhan, dan sumber mata pencaharian masyarakat kota ini, Oleh karenanya “Israel” berupaya memotongnya dari sejak semula”. Namun melihat kesuciannya bagi pemeluk agama Kristen, mulailah mereka membuat promosi agar menjadi wasilah untuk menyebarkan riwayat Talmud, dengan dalih bahwa di dalam mata air ini terdapat banyak terowongan dan trekking Talmud yang menjelaskan riwayat Yahudi.

Dia menjelaskan bahwa telah terjadi perubahan pada arkeologi kuno saat ini karena telah terjadi pengaburan jejak-jejak perababan bangsa Arab dan Islam, untuk memunculkan peradaban Yahudi.

Wakaf Islam

Dia menunjukkan bahwa “Ein Silwan” merupakan wakaf Islam. Wakaf ini diberikan oleh Kekhilafahan Utsman bin Affan bagi perawatan dan pengurusan Masjid Al-Aqsha dan para pengunjung kota Yerusalem. Dia menambahkan bahwa telah dilakukan pemugaran mata air ini pada era pemerintahan Salahuddin Al-Ayubi tahun 1187. Kemudian berlangsung perluasannya dan penataannya, sebagaimana penduduk Silwan memberikan tanah-tanah lain di “Al-Nabi Musa” dan “Al-Khan Al-Ahmar”, karena mereka dulu adalah para pelayan Masjid Al-Aqsha.

Peneliti Abu Diab menjelaskan bahwa Otoritas Penjajah mengunci mata air ini dan mengambil alih kuasa dan tanggung jawab dan pengurusannya kepada lembaga-lembaga Penjajah Zionis seperti “Elad” dan menuai banyak pemasukan keuangan dari mata air ini. Lembaga itu yang diberikan otoritas bagi keluar masuknya orang ke mata air, menutupnya sesuai kehendak mereka, dan mempromosikan riwayat Yahudi dengan menempel panduan “warga Israel” dan museum-musium di dalam mata air ini.

Diantara ritual yang terkenal di Silwan, menurut Abu Diab, “Ketika seorang anak lahir maka dimandikanlah dengan air Silwan, dipengaruhi oleh kisah Siti Maryam yang mencuci pakaian Isa ‘alaihi salam”. Sementara para pemeluk Kristen memiliki keyakinan bahwa dia menjadi saksi mujizat Isa ‘alaihi salam, yaitu sembuhnya orang-orang buta jadi bisa melihat kembali setelah mencuci mukanya dengan air dari mata air ini (i7).

—–
Sumber: www.palinfo.com, terbit 08/05/2018, jam: 11:25:34 siang.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *