Dua Pekan Sejak Penutupan Abu Salim, Gaza Semakin Terjepit

 

Dua pekan sudah berlalu sejak “Israel” menutup gerbang perbatasan Karem Abu Salim, yang dikenal sebagai satu-satunya persimpangan komersial ke Jalur Gaza tempat lalu lalangnya barang-barang expor-impor. Penutupan yang dilakukann oleh Penjajah ini mencegah masuknya segala jenis barang selain bahan makanan pokok, dan bahan bakar yang amat dibutuhkan oleh masyarakat.

Penutupan ini, – mengembalikan suasana seperti pada saat tahun-tahun pertama blokade – telah mengakibatkan banyak pabrik dan institusi perdagangan yang tutup dan mengubah para pekerjanya yang memang sudah kritis menjadi “tentara-tentara” pengangguran yang menimbulkan ancaman pengangguran ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Osama Naufal, Ekonom dan Dirjen Perencanaan dan Penelitian  di Kementerian Ekonomi menjelaskan kepada PIP (Pusat Informasi Palestina)  tentang efek berlanjutnya penutupan gerbang perbatasan Karem Abu Salim terhadap kehidupan di Jalur Gaza. Dia menyatakan bahwa penutupan ini telah mengantarkan Gaza kepada situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam bentuk keruntuhan di berbagai segi kehidupan.

Kemerosotan Yang Belum Pernah Terjadi

Di awal tahun ini, statistik “Israel” menunjukan penurunan tajam jumlah truk barang yang memasuki Jalur Gaza, dimana jumlah truk yang melintas setiap harinya  jatuh di angka 350 truk dari yang asalnya berada di kisaran antara 800 – 1000 pada periode sebelumnya. Tetapi Naufal, pakar ekonomi ini menegaskan bahwa jumlah truk yang masuk ke Jalur Gaza dalam situasi terbaik hanya masuk 150 truk setiap harinya dengan bawaan yang diketahui sebagai “bahan makanan pokok”, bahan bakar, dan bantuan kemanusiaan.”

Naufal menjelaskan bahwa yang paling banyak dibutuhkan Gaza untuk bisa masuk melalui gerbang perbatasan Karem Abu Salim adalah bahan bangunan yang sebelumnya menyumbang angka 65% dari barang-barang masuk yang telah ditetapkan pelarangannya, dan 15% barang kebutuhan gedung seperti perlengkapan listrik, furniture yang juga masuk dalam daftar larangan.


Penargetan Sektor Industri

Menurut pejabat Palestina tersebut, bahwa penutupan gerbang perbatasan ini telah dan akan mengancam sektor industri di Jalur Gaza, terutama bahwa Penjajah  melarang bagi masuknya bahan mentah dengan segala jenisnya  secara keseluruhan. Dijelaskannya bahwa pabrik pertama yang terkena dampak penutupan ini adalah pabrik-pabrik minuman bergas yang harus menerima bahan mentah setiap hari karena penyimpanannya memakan biaya yang amat besar, sehingga terpaksa harus mengimpornya pada skala harian.

Dia menjelaskan bahwa efek dari penutupan ini tidak hanya mengancam sektor industri, tetapi juga mengancam bergabungnya 13 .000 karyawan baru ke dalam barisan “tentara-tentara” pengangguran permanen karena kehilangan pekerjaan mereka.

Di sisi lain, Naufal menjelaskan bahwa industri konstruksi yang merupakan sektor produktif paling penting, dimana lebih dari 400 pabrik Blok tutup total dari jumlah keseluruhan 650 pabrik yang masih beroperasi secara parsial dalam upayanya menjaga kontinyuitas proyek yang tidak akan berlanjut lama lagi dengan berlangsungnya penutupan gerbang perbatasan. Ini juga mengancam perpindahan 3.000 karyawannya masuk ke jurang pengangguran, yang mengantarkan prediksi keseluruhan angka pengangguran hingga 80 %.


Sektor Pertanian dan perdagangan

Pakar Ekonomi tersebut menegaskan bahwa penutupan ini juga telah memperpanjang pelarangan masuknya barang-barang kebutuhan pertanian yang mengancam secara nyata musim tanam yang akan datang. Dia memberi catatan bahwa Jalur Gaza bergantung 100 % kepada produksi lokal dari sayur mayur dan beragam tanaman lainnya.

Dia menunjukkan bahwa sektor yang paling terkena imbas adalah sektor perdagangan yang beroperasi di dua level. Level pedagangan luar negeri mereka adalah para pedagang grosir barang-barang impor, dimana mereka masih memiliki berbagai penawaran dan barang-barang yang ada di Pelabuhan Asdod yang terancam mengalami kerusakan dan pembayaran bea setiap hari ongkos penggunaan lahan pelabuhan. Dijelaskannya bahwa ini mengancam para pendagang itu dengan kerugian yang sangat besar dan berbagai kewajiban, cek dan hal-hal lain.

Adapun level lainnya, yaitu perdagangan dalam negeri yaitu sektor retail, yang mereka bergantung secara fundamental kepada barang impor dari para pedagang grosir. Dan kemampuan daya beli masyarakat di Jalur Gaza telah menurun sangat drastis.

Naufal memperingatkan ada ancaman yang sangat nyata nyata yaitu tidak masuknya bahan-bahan tekstil ke Jalur Gaza di saat mendekatnya Hari Raya dan musim sekolah di akhir bulan ini. Dia menjelaskan bahwa ini menimbulkan ancaman nyata bagi musim sekolah tidak hanya di sektor ini saja, bahkan lebih jauh Penjajah Zionis melarang masuknya bahan-bahan kertas dan buku dengan segala jenisnya yang mengancam penundaan atau keputusan yang amat sulit terkait musim pergantian tahun ajaran baru.

 

Sektor Keuangan dan Perbankan

Dalam konteks lain, Pakar Ekonomi tersebut menegaskan bahwa sektor keuangan dan perbankan di Jalur Gaza terancam dalam situasi amat berbahaya karena Otoritas Palestina bergantung 60 % pendapatannya dari uang kliring yang diterimanya dari Penjajah sebagai bayaran bagi masuknya barang-barang ke Jalur Gaza.

Dia memperingatkan bahaya dari dampak penutupan gerbang perbatasan terhadap ketidakmampuan Otoritas di Gaza untuk memberikan 40% gaji bagi lebih dari 45 ribu PNS di Jalur Gaza dikarenakan penghentian pendapatannya dari bea cukai dan dana-dana lainnya. (i7)

——————–

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 01/08/2018, jam: 09:00 pagi.

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *