Dibalik Persenjataan Militer Myanmar

aspacpalestine.com – Palestina. Kekerasan yang mengarah ke minoritas Rohingya Myanmar telah meningkat. Data PBB menunjukkan bahwa sekitar 60.000 anggota minoritas tersebut saat ini telah mengungsi dari kota Rahine, Myanmmar. Hal tersebut didorong oleh kekerasan yang meningkat dan pembakaran rumah-rumah mereka. Kejadian-kejadian itu tidak mengubah kebijakan Menteri Pertahanan Israel. Menteri Pertahanan Israel telah menolak menghentikan penjualan senjata ke Pemerintah Myanmar.

Meskipun utusan PBB dan peneliti Universitas Harvard mengatakan bahwa kejahatan kekerasan terhadap etnis  Rohingya terus berlanjut, namun pemerintah Israel terus menyuplai senjata ke pemerintah Myanmar.

Salah satu ketua Junta,  Jenderal Min Aung Hlaing mengunjungi Israel pada bulan September 2015. Kunjungan tersebut dalam rangka “belanja” produksi militer Israel. Delegasinya bertemu dengan presiden Reuven Rivlin serta pejabat militer, termasuk Kepala Staff Militer Israel. Jenderal tersebut mengunjungi pangkalan militer dan kontraktor pertahanan Elbit System dan Elta Systems.

Kepala Direktorat Kerjasama Kementerian Pertahanan, Michel Ben Baruch pergi mengunjungi Myanmar pada musim panas tahun 2015. Dalam perjalanan itu, ada sedikit liputan media yang menarik, Kepala Junta tersebut mengungkapkan bahwa mereka membeli kapal patroli Super Drova dari Israel dan ada pembicaraan tentang pembelian tambahan.

 

Sumber: haaretz.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *