Di Tahun ke-19, Api Intifadah Al-Aqsha Tak Kunjung Padam

Baitul Maqdis – Intifadah Palestina yang kedua, atau disebut juga Intifadah Al-Aqsa, meletus pada tanggal 28 September 2000, saat pemimpin oposisi sayap kanan negara Penjajah Zionis Ariel Sharon menyerbu Al-Aqsha di bawah penjagaan militer yang ketat. Selama lima tahun intifadah kedua berlangsung, 4.412 warga Palestina gugur sebagai syuhada dan 48.322 orang lainnya menderita luka-luka. Di sisi lain 1.069 warga negara Penjajah Zionis, termasuk di dalamnya tentara dan pemukim Yahudi tewas dan 4.500 lainnya mengalami luka-luka.

Tepi Barat dan Jalur Gaza pernah beberapa kali bangkit dalam Intifadah melawan serangkaian serangan militer Penjajah Zionis ke berbagai wilayah Otoritas Palestina, diantaranya yang paling menonjol ‘Operasi Pagar Pengaman, dan pengepungan militer yang sangat ketat terhadap berbagai wilayah Palestina, dan memisahkan banyak perkotaan dari eksistensi sebenarnya yang luas untuk periode waktu yang lama.

Pertempuran Kamp Jenin, yang diserang oleh pasukan militer negara Penjajah Zionis pada tanggal 1 April 2002, dan berlangsung hingga tanggal 15 April, adalah salah satu pertempuran paling sengit yang dilakukan rakyat Palestina dalam melawan pasukan penjajah.  Pertempuran sengit terjadi di lorong-lorong kamp, ​​dimana pasukan penjajah menggunakan persenjataan udara dan senjata berat, juga buldoser untuk melibas puluhan rumah.

Pada musim panas 2002, otoritas negara Penjajah Zionis mulai membangun tembok pemisah di Tepi Barat yang dijajah, dengan panjang total mencapai sekitar 703 kilometer yang dibangun di sekitar Tepi Barat dan berbagai daerah di dalamnya, memutus banyak daerah untuk membangun berbagai pemukiman Yahudi dalam satu blok, dan membuat banyak kota-kota dan desa Palestina terpisah-pisah.

Dengan pecahnya Intifada, negosiasi jalur politik antara Palestina dan negara Penjajah Zionis menjadi tehenti berbarengan dengan kegagalan negosiasi Camp David dan Taba.

Intifada Al-Aqsha menjadi saksi fenomena dimana gerakan perlawanan Palestina memiliki kekuatan menembakkan roket. Perlawanan di Gaza mulai memproduksi roket-roket berjarak pendek buatan sendiri dengan jangkauan 5 hingga 10 kilometer. Ini adalah roket pertama yang diluncurkan dari Gaza oleh Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), dan mulai beroperasi sejak tahun 2001.

Selama empat tahun pertama Intifadah Al-Aqsha gerakan perlawanan rakyat Palestina dari berbagai faksinya telah melancarkan 132 kali serangan komando atau fida’I ke jantung negara Penjajah Zionis. Hasilnya jelas mengantarkan para pelakunya menjadi syuhada dan di sisi musuh tewas 688 penjajah Zionis dan 4.917 lainnya mengalami luka-luka. (i7)

——-

Sumber: www.palinfo.com, terbit 28 September 2019, jam 10: 31 pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *