Di Hari Pertamanya: 15 Syahid dan 1.400 Luka-luka Menyirami “Pohon Kepulangan Terbesar”

Hari pertama Pawai Kepulangan terbesar ini bukanlah hari-hari seperti biasanya. Hari yang dipenuhi dengan darah, keteguhan hati, kekerasan, kemarahan. Kaum pria dan wanita, anak-anak, orang tua, para pemuda dan pegawai, pejabat, orang cacat, orang lemah, orang sakit dan tertindas, rakyat Gaza semuanya  dari yang kecil hingga yang besar  keluar untuk mengatakan kepada seluruh dunia: Kami akan raih hak kami dengan kuku-kuku jari tangan kami.

Dalam sebuah adegan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ribuan rakyat Palestina mengalir dari Jalur Gaza ke arah perbatasan timur yang memisahkan mereka dari “Israel” untuk berpartisipasi dalam Pawai Kepulangan terbesar yang dimulai dengan peringatan “Hari Bumi” ke-42.

Penyiraman “Pohon Kepulangan”

15 orang telah syahid dan lebih dari 1.400 orang lainnya mengalami luka-luka, mereka menyirami bumi tanah air yang tercinta dan pohon kepulangan yang diberkahi dengan darah-darah mereka yang suci. Meskipun darah telah ditumpahkan, ribuan rakyat Palestina dapat berkumpul di lima titik pertemuan yang dibentuk oleh Komite Tinggi Pawai Kepulangan di lima provinsi di Jalur Gaza timur, dan menyelesaikan program yang telah diagendakan dan berangkat menuju ke perbatasan.

Pada 17 Maret lalu, Gaza telah menyaksikan dimulainya persiapan Pawai Kepulangan terbesar, dengan dukungan semua faksi dan kekuatan Palestina, untuk memulai Hari Bumi pada 30 Maret dan meningkat sampai puncaknya pada peringatan Nakba, 15 Mei bulan depan.

Rakyat Palestina mengorganisir gerakan ini demi menegaskan hak mereka untuk kembali ke rumah yang mereka telah tinggalkan dan demi menggagalkan rencana untuk melenyapkan permasalahan ini, terutama mengingat “Shafqat Al-Qarn (Agenda Kesepakatan Abad Ini)”, yang menampilkan beberapa fitur di dalamnya pengakuan Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem yang terjajah sebagai ibu kota Israel, dan dimulainya proses pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, dan mengurangi dukungan kepada Badan PBB untuk Bantuan dan Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina (UNRWA).

 

Susunan Acara

Susunan acara pada hari-H dimulai di kamp-kamp di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza dengan menyanyikan nasyid-nasyid kebangsaan dan revolusioner, mengisahkan cerita rakyat, dan kemudian mendengar khotbah Jumat, disusul acara tehnis dan penyampaian pidato dari berbagai perwakilan kekuatan nasional dan arahan-arahan dari kelompok-kelompok wanita dan pemuda.

Setelah shalat Jumat, ribuan rakyat Palestina berbondong-bondong menuju ke arah perbatasan Israel. Maka pasukan penjajah menyambut mereka dengan tembakan timah panas langsung ke arah mereka, ditambah juga lemparan ratusan bom gas air mata yang menjadikan untuk mengambil nafas di daerah perbatasan itu perkara yang amat sulit jika tidak boleh dikatakan mustahil.

Yang unik dalam aksi pawai ini adalah para peserta acara kebanyakan terdiri dari orang-orang tua, wanita, dan anak-anak, disamping para pemuda. Sejumlah orang tua terlihat menjunjung barang bawaan di kepala mereka sebagai persiapan untuk kembali pulang ke rumah, sementara anak-anak berada mengelilingi mereka. Beberapa orang wanita bahkan terlihat berbaris di dekat perbatasan dan beberapa diantaranya berhasil ditembak timah panas oleh penjajah.

Para pemimpin dari berbagai faksi berpartisipasi dalam demonstrasi ini, terutama kepala biro politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) Ismail Haniyeh dan wakilnya Yahya al-Senwar, untuk menegaskan dukungan kekuatan Palestina terhadap gerakan tersebut.

 

Kuburan “Shafqat Al-Qarn”

Komite Tinggi Nasional Pawai Kepulangan dan Pemecah Blokade pada jam 7 malam waktu Palestina (0400 GMT) menyatakan berakhirnya dari hari pertama pawai, menyerukan kepada massa peserta pawai untuk kembali ke areal perkemahan.

Komite mengatakan dalam konferensi pers yang berlangsung dekat dengan salah satu perkemahan Pawai Kepulangan di timur kota Gaza bahwa sesungguhnya “Rakyat Palestina telah mengubur “Shafqat Al-Qarn” yang mencurigakan dan dipimpin oleh Trump itu untuk selama-lamanya.” Komite menegaskan tekadnya untuk mengkonfrontir semua program-program untuk melenyapkan permasalahan ini.

Komite mengatakan bahwa “Hari ini adalah permulaan … sampai dengan hari besar (peringatan Nakbah tanggal 15 Mei mendatang).” Sambil menyerukan kepada rakyat Palestina di Tepi Barat, dan Yerusalem terjajah dan kawasan-48 dan diaspora Palestina yang tersebar di luar negeri untuk bangkit melawan penjajahan.

Komite menyebut para korban yang meninggal sebagai syuhada dan menuntut Liga Arab, PBB, dan semua lembaga komunitas internasional untuk membentuk komisi investigasi atas pelanggaran serius Israel terhadap warga sipil yang tak bersenjata.

 

Aksi Berkesinambungan

Ahmed Abu Rteima, anggota Komite Koordinasi Pawai Kepulangan mengatakan: bahwa “rakyat Palestina hari ini telah mengirimkan pesan yang kuat kepada dunia melalui demonstrasi damai yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menegaskan komitmen mereka terhadap hak untuk pulang kembali dan perjuangan mereka demi mencapainya,”

Apa yang menjadi ciri gerakan ini menurut Abu Rtima, adalah adegan terpadu dan konsolidasi semua kekuatan di bawah satu bendera Palestina, di samping untuk mengaktifkan dimensi kerakyatan dari perlawanan melalui partisipasi seluruh keluarga besar dalam satu bentuk perjuangan baru, terutama di Gaza.

Berkenaan dengan aksi yang akan datang, ia menjelaskan bahwa beragam aktivitas di perkemahan Pawai Kepulangan akan terus berlanjut sepertii hiburan rakyat, festival budaya dan kompetisi olahraga hingga 15 Mei mendatang. Dan beberapa hari nasional seperti Hari Tawanan pada 17 April akan menyaksikan berbagai seruan untuk demontrasi nasional.

Pendudukan Israel ingin menyeret demonstrasi damai ini menjadi “kotak berdarah” dengan cara memperbanyak korban penembakan dan melukai banyak orang. Namun misi ini tidak bisa dicapai seperti yang diinginkan Israel terhadap para peserta aksi pawai, menurut Abu Rtima.

Dia menambahkan bahwa “penjajah telah mengirim pesan berdarah melawan para demonstran aksi damai yang tidak melakukan ancaman keamanan apa pun kepadanya. Penjajah tidak ingin keberhasilan aksi damai ini karena kebuntuannya, dan berusaha untuk menumpahkan darah, tetapi rakyat kami akan melanjutkan perjuangan damai ini.” (Palinfo/Arab48/i7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *