Di Gaza: Pernikahan adalah Mimpi

Gaza, 14-02-2018. Beberapa pemuda Desa Ar-Rabwaat di Khan Younis Jalur Gaza selatan menghirup kegundahan mereka bersama kepulan asap rokok sambil duduk di sudut jalan menuju rumah mereka dengan mengumpulkan bebatuan di siang hari, dan melindungi diri dari cuaca dingin dan duduk di salah satu bangunannya di malam hari.

Meskipun suasananya menunjukkan mereka sedang menghabiskan waktu dengan santai dan berhibur, di mana api kayu bakar menghangatkan tempat itu dan cangkir-cangkir tidak pernah lepas dari tangan mereka, namun garis-garis wajah, gurauan dan ekspresi mereka dan bahkan canda tawa mereka bercampur aduk dengan kepedihan yang kontras dengan suasana malam itu.

Yang termuda berusia sekitar 30 tahun dan beberapa di antaranya berusia sekitar 40 tahun. Mereka tidak sanggup memenuhi syarat pernikahan dan membangun kehidupan baru karena kondisi mereka sebagai pengangguran, gambaran yang mewakili lebih dari 60 persen pemuda di usia mereka yang menganggur karena runtuhnya sektor ekonomi di Gaza selama bertahun-tahun.

Wajah-wajah mereka dipenuhi dengan keheningan dan lidah serasa tercekat saat kesedihan mencengkeram wajah termuda mereka, Abdel Razzaq Omar, angkat bicara tentang harapan keluarganya untuk bisa membantu keluarga setelah dia lulus kuliah dan harapannya untuk bisa menikah dan membangun keluarga yang stabil, namun terbentang di hadapannya kenyataan yang semakin berlari dari harapan dan pergi menjauh meninggalkan semua cita-citanya.

Pengangguran Fatal Abdul Razzaq mendapati dirinya telah menganggur sejak kelulusannya enam tahun yang lalu, kecuali untuk kerja bertani dengan interval beberapa jam per minggu dibayar upah lima shekel per jam (satu setengah dolar) yang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup dasarnya sendiri sebagai seorang perjaka, terlebih untuk memenuhi kebutuhan bagi persyaratan pernikahannya.

Di tengah-tengah kondisi yang sulit ini di Gaza, pembicaraan tentang pernikahan menjadi ” sebuah ilusi bahkan membangkitkan ejekan”, kata Abdul Razak. Hal ini menyebabkan dia mengubah jalan hidupnya dengan mempersiapkan dokumen yang diperlukan untuk pergi ke luar Gaza jika kesempatan itu terbuka kepadanya, mewakili keinginan 37% pemuda Gaza untuk pergi keluar karena kondisi hidup mereka yang menyedihkan.

Lembaga Tertinggi Peradilan Syariah di Gaza mengungkapkan bahwa telah terjadi penurunan angka pernikahan hingga 18% pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2015. Tingkat perceraian meningkat sebesar 8% di tahun 2017 dibandingkan tahun 2016, yang mejadikan kehidupan menyendiri menjadi berlipat baik di kalangan wanita ataupun laki-laki, sebagaimana keterangan dari Ketua Lembaga itu, Hasan Al-Joujou.

Hasan mengaitkan penurunan angka pernikahan dan naiknya perceraian dengan kemiskinan ekstrem dan keruntuhan sendi perekonomian akibat pengepungan Israel dan pemecah belahan Palestina. Kenaikan indikator ini diperkirakan akan berubah menjadi krisis besar-besaran jika kemerosotan ekonomi terus berlanjut.

Sejalan dengan seruan Ketua Peradilan membentuk dana nasional Palestina untuk membantu pernikahan dimana semua lembaga pemerintah dan kemasyarakatan turut berkontribusi di dalamnya, dia menegaskan bahwa kecenderungan masyarakat Palestina untuk menikahkan anak-anaknya di usia awal dua puluhan tidak mungkin lagi dilakukan.

Masyarakat Palestina memiliki kebiasaan sejak beberapa dasawarsa menikahkan anak-anaknya pada usia dini, sebagai bentuk konfrontasi bagi keseimbangan demografis terhadap penjajah di satu sisi dan di sisi lain sebagai bagian dari adat istiadat dan tradisi yang telah mengakar dalam keragaman reproduksi dan keluarga besar.

Namun yang paling berbahaya dalam topik pernikahan pemuda terletak pada dampaknya yang amat serius di tingkat nasional, sosial dan psikologis, menurut profesor kesehatan jiwa di Universitas Terbuka Al-Quds, Samir Zaqout, di mana manifestasi penyimpangan kaum muda semakin membesar ke segala arah. Ini merupakan bentuk bahaya strategis paling mendasar yang dihadapi dalam konfrontasi melawan penjajah.

Selain efek yang terkait dengan terlepasnya ikatan sosial dan kemundurannya secara bertahap dan meningkatnya tindak kriminalitas, profesor kesehatan jiwa berbicara tentang perasaan keterasingan pemuda yang diakibatkan oleh perasaan keterasingan di tanah air yang tidak mampu memberikan mereka apa-apa, dan karenanya tidak merasa memilikinya, dan kemungkinan terjerumus ke dalam jerat intelejen, menurut profesor.

Sejalan dengan peringatannya akan dampak semakin memburuknya penurunan angka pernikahan yang merupakan ancaman besar bagi masyarakat Gaza, profesor kesehatan jiwa ini menyerukan intervensi pada level politik Palestina untuk menemukan sebuah program nasional dalam upaya bersama memulihkan situasi sebelum terlambat (Aljazeera/i7).

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *