Demonstrasi Bela Nabi di Al-Aqsa dan kota-kota Palestina

Kota Al Quds Jajahan – Pasukan Penjajah Zionis mengambil tindakan represif kepada peserta demonstrasi membela Nabi Muhammad SAW, saat mereka keluar dari Masjid Al-Aqsa yang diberkahi usai menunaikan shalat Jumat (30/10), dan menangkap warga masyarakat kota Al Quds.

Saksi mata menyatakan bahwa pasukan Penjajah Zionis menyerang para demonstran pasca mereka keluar dari Pintu Al-Nadzhir dan sampai di Jalan Al-Waad, yang menyebabkan beberapa dari warga masyarakat menderita luka memar dan bengkak.

Pasukan Penjajah Zionis menangkap warga masyarakat kota Al Quds saat mereka turut serta dalam aksi demontrasi tersebut, diantara yang teridentifikasi adalah seorang pemuda bernama Sameh Daas, dan seorang jurnalis foto bernama Abdel-Amnesty Bassam Zughayer.

Ribuan warga masyarakat tersebut dapat menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa setelah membongkar barikade yang dipasang oleh pasukan penjajah di sekeliling masjid. Kerumunan jamaah shalat tersebut memaksa tentara Penjajah Zionis melepas besi penghalang yang telah mereka pasang untuk mencegah warga masyarakat memasuki Al-Aqsa untuk menunaikan shalat Jumat.

Berlepas diri dari Pendukung Normalisasi

Dalam isi khutbah Khotib Jumat yang disampaikan di Masjid Al-Aqsa, pasca berbulan-bulan beliau diasingkan dari masjid yang diberkahi tersebut, Syekh Ikrimah Sabri mengumumkan berlepas diri dari para pendukung normaliasi dengan Penjajah Zionis dan para pengkhianat, dan perampas tanah Isra dan Mi’raj tersebut.

Syekh Ikrimah memperingatkan akan bahaya di sekitar Masjid Al-Aqsa, dan beliau menyerukan agar dilakukan upaya pencegangan terhadap penyerbuan Yahudi terhadap masjid dan menghadapi upaya mereka memaksakan kedaulatan negara Penjajah Zionis atasnya.

Khatib Masjid Al-Aqsa tersebut menganggap Otoritas Penjajah Zionis bertanggung jawab atas pelanggaran kesucian Al-Aqsa. Dan beliau menekankan bahwa kedaulatan terhadap masjid ini hanyalah milik Umat Islam dengan SK dari Zat Yang Maha Kuasa, dan tidak ada sejengkal tanahpun darinya yang akan dilepaskan.

Mengomentari tentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, Syekh Ikrimah Sabri menegaskan bahwa Presiden Prancis telah mengumumkan permusuhannya kepada umat Islam di dunia, dan dialah yang bertanggung jawab atas berbagai tindak kekerasan yang diakibatkannya.

Syekh Ikrimah Sabri menyebutkan bahwa Prancis memiliki sejarah hitam melalui berbagai kampanye kaum Frank melawan Umat Islam, dan berbagai aksi kejahatan yang dilakukan terhadap satu juta warga di Aljazair.

Sementara di Kamp Qalandia, yang terletak di sebelah utara kota Al Quds yang dijajah, warga masyarakat ikut turun ke jalan-jalan untuk menyatakan pembelaannya terhadap Nabi Muhammad SAW melalui pawai besar-besaran yang memenuhi di jalan-jalan di sekitar kamp tersebut, yang dipimpin oleh para penunggang kuda dan dihadiri oleh semua faksi nasionalis dan Islamis.

Sebagian besar peserta pawai di Qalandia tersebut mengenakan  pakaian dan atribut bertuliskan “Illa Rasulullah” dan “labaik ya Rasulullah”, dan mereka meneriakkan yel-yel “illa Rasulullah” “Hidup dan mati, engkau tetap dihati kami wahai Rasulullah”, sebagaimana mereka juga membakar bendera Prancis dan foto presiden Prancis.

Demonstrasi besar-besaran juga terjadi pada sore hari, di perkampungan Badui di barat laut kota Al Quds jajahan, sebagai ungkapan pembelaan dan kemarahan serta kecaman atas pelecehan terhadap Rasulullah dan mereka meneriakkan yel-yel” dengar, dengarlah wahai Macron: darah kami persembahkan untuk Nabi yang mulia”, dan “Umat yang dibawah pimpinan Muhammad ini tidak akan pernah berlutut.”

Kota Hebron dan Al-Bireh di Tepi Barat juga menjadi saksi demonstrasi dan pawai amarah, diikuti oleh ratusan orang untuk membela Nabi Muhammad SAW, dan menolak pelecehan Prancis dan sikap presidennya yang bermusuhan.

Berbagai seruan untuk menggelar aksi “Jumat marah” demi membela Nabi Muhammad SAW ini muncul di tengah-tengah seruan warga masyarakat kota Al Quds untuk berjuang keras berangkat ke Masjid Al-Aqsa yang diberkahi dan melakukan ribath (mengikatkan diri di dalamnya dalam ibadah) berhubungan dengan momentum maulid Nabi yang mulia, dan sebagai bentuk pembelaan dan cinta kepada Rasulullah SAW.

—————-

Sumber: www.palinfo.com, terbit:  Jumat 30 Oktober 2020, 14:00.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *