Blokade Gaza, Apakah Berhasil Dihentikan?

Latar belakang blokade Gaza :

Blokade wilayah Gaza adalah salah satu bentuk sanksi ekonomi penjajah Israel kepada Otoritas Palestina setelah Hamas menang pada pemilu tahun 2006.

Kemudian pasukan penjajah Israel menutup perbatasan Rafah  dan memperketat blokade di Jalur Gaza setelah Hamas berhasil memegang kekuasaan pemerintahan di wilayah Gaza dan berhasil menggagalkan usaha-usaha penjajah Israel untuk menggulingkan legitimasinya pada tahun 2007.

Blokade yang Ketat :

Blokade tersebut mencakup larangan masuknya bahan bakar, listrik dan barang-barang lainnya, termasuk cuka, biskuit, unggas dan daging, juga larangan penangkapan ikan dengan jarak pencarian yang jauh, dan menutup perbatasan antara Jalur Gaza dan wilayah-wilayah pendudukan, juga perbatasan penting antara Palestina dan Mesir yang berada di wilayah Gaza yaitu perbatasan Rafah.

Dalam beberapa kasus, penjajah Israel mengizinkan masuknya barang yang sangat sedikit (seperti kecap, mayones dan selai!), yang dikirim ke Gaza melalui kapal-kapal. Namun kebutuhan mendesak masyarakat Gaza sebenarnya adalah bahan-bahan bangunan untuk mengembangkan infrastruktur wilayah Gaza, serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian, perindustrian, pertanian dan lain-lain di wilayah tersebut.

Sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat dilarang, tercatat setelah insiden armada Freedom Flotilla, penjajah Israel hanya mengizinkan masuknya 84 item baranga saja. Menteri Perdagangan wilayah Jalur Gaza, Dr. Maher Tabbaa mengatakan: “Kebutuhan yang masuk hanya berupa makanan dan beberapa kebutuhan rumah tangga sekunder, hal tersebut hanya untuk konsumsi media saja. Sebagian besar kebutuhan hidup yang dikirim tertahan di pelabuhan Israel.”

Media internasional dan pergerakan aktivis memaksa penjajah Israel untuk mengakhiri blokade dan diizinkan dua kapal beroperasi:

Pada Agustus 2008, 44 aktivis solidaritas internasional dari 17 negara menumpangi dua kapal; “Ghazah Hurrah” dan “Al-Hurriyah” berhasil melanggar Blokade Israel yang diberlakukan di Jalur Gaza untuk pertama kalinya. Kedua kapal yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut tiba dari Siprus setelah menghadapi ancaman dari penjajah Israel untuk mencegah mereka mencapai Jalur Gaza. Penjajah Israel pun telah memperingatkan para aktivis untuk tidak memasuki perairan teritorial Jalur Gaza namun kemudian membiarkan mereka melewatinya. Kemudian dua tahun setelahnya peristiwa kegagalan aktivis internasional dengan kapal “freedom flotilla” karena serangan dari penjajah Israel, hal tersebut justru mempermalukan kekuatan penjajah Israel di mata dunia dan memiliki dampak yang sangat negative pada citra negara penjajah Israel di hadapan masyarakat internasional. Dan semoga aktivis kemanusiaan internasional juga masyarakat dunia terus menyatukan suara untuk membebaskan negeri Palestina dari tangan penjajah Zionis Israel.

Sumber : Palqa.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *