Beginilah Efek Dinding Pemisah Terhadap Yerusalem dan Penduduk Pribuminya


Sebuah makalah penelitian menyimpulkan sejumlah penemuan terkait motif didirikannya tembok pemisah di sekitar kota Yerusalem. Tujuan terpentingnya bukanlah hanya motif keamanan seperti yang telah  dinyatakan oleh Penjajah Zionis sebagai tujuan esensialnya, tetapi didirikannya tembok ini berada di dalam kerangka perencanaan Penjajah untuk memperluas kendalinya terhadap kota itu dan meyahudisasinya secara penuh.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian untuk Studi dan Penguatan Peta, Angka dan Grafik, bahwa tujuan penjajah adalah untuk mengendalikan seluas mungkin wilayah kota Yerusalem, dan melepaskannya dari penduduk pribuminya supaya tercapai keunggulan demografis, disamping pengendaliannya terhadap pertanahan.

Dalam rangka  mencapai hal itu, pusat studi tersebut menegaskan riset yang dilakukan oleh peneliti Walid Khaled Zayed upaya penjajah memasukkan beberapa pemukiman Yahudi ke kota Yerusalem, seperti pemukiman “Ma’ale Adumim”, dan mengeluarkan beberapa kelurahan dan kecamatan dari perbatasan kota itu, seperti  Ras Khamis dan Dhahiyah Al-Barid dan Kamp Shuafat. Ditambah lagi tindakan yang menyusahkan terhadap kehidupan penduduk asli Yerusalem yang bertahan gigih untuk tetap berada di dalam kota itu, melalui serangkaian birokrasi panjang untuk memuluskan pendirian tembok di atas lahan kota itu.

 

 

Ekspansi geografis

Menurut makalah penelitian itu, luas wilayah kota Yerusalem telah meningkat dalam beberapa tahapan sejak penjajahan bagian baratnya tahun 1948 yang merupakan sekitar 90% dari luas wilayahnya pada saat itu.

Peneliti tersebut menjelaskan bahwa setelah menjajah seluruh kota Yerusalem pada tahun 1967, penjajah memperluas wilayah kota itu sekitar 70 kilometer persegi sehingga menjadikan luas keseluruhannya sekitar 126 kilometer persegi.

Pemerintah Israel yang dipimpin oleh Ariel Sharon menyetujui pendirian tembok di bulan April 2002, dan memulai pembangunannya pada tanggal 16 di bulan yang sama. Sejak itu mulailah orang berbicara tentang bahaya dan kerusakan yang akan ditimbulkannya.

Panjang jarak tembok itu di Tepi Barat mencapai 712 kilometer, yaitu dua kali panjang apa yang disebut “garis hijau” yang panjangnya 320 km. Sedangkan panjang tembok ini di sekitar kota Yerusalem, sekitar 202 km menurut data institusi HAM “Israel, B’Tselem, dan memisahkan atau mengisolir 43% dari bagian Provinsi Yerusalem.

Menurut pusat studi di atas, Penjajah telah berhasil dalam memaksakan pendirian tembok sesuai jarak yang telah ditetapkannya di sekitar Yerusalem. Dan telah melampaui tembok perbatasan yang digambar oleh Kotamadya Yerusalem. Karena pada bagian “covernya” telah memanjang ke selatan dan menggabungkan sekitar 65 ribu dunim di kecamatan Pemukiman Yahudi “Gush Etzion” selatan kota Betlehem. Demikian juga telah digabungkan sekitar 60.000 dunim sebelah timur di kecamatan Pemukiman Yahudi “Ma’aleh Adumim”.

Di sisi utara, sekitar 25.000 dunim luas tanah telah digabungkan atau dianeksasi ke pemukiman Yahudi “Pisgat Zeev”. Jadi dengan demikian tembok ini telah mengepung kota dari semua sisi dan memisahkannya dari seluruh Palestina.


Tujuan demografis

Menurut penelitian itu, motif demografis berada di garis depan pembangunan tembok pemisah ini, karena penjajah selalu berusaha memenangkan pertempuran di sini.

Peneliti di atas menunjukkan bahwa kebijakan penjajahan di Yerusalem amat fokus dan tersistem sejak tahun 1993 untuk membawa masuk atau menarik para pemukim Yahudi ke dalamnya melalui penggabungan berbagai pemukiman Yahudi ke dalam visi penjajahan kota itu, yang tercermin dalam menjadikan prosentase rakyat Palestina di dalamya jadi hanya 12% dari total penduduk kota itu yang hidup di atas hanya 11% dari luas daratannya. Dan terbukti  sudah terusir sepertiga penduduk asli  Yerusalem (sekitar 130.000 orang) dari kota itu dan sekarang mereka berada di luar batas kota.

Dari sisi motifasi politik, penelitan itu menyatakan bahwa visi penjajah yang terus bekerja bagi perwujudannya dalam jangka panjang, terutama setelah Kesepakatan Oslo dengan dengan PLO-adalah penghapusan permasalahan Yerusalem menjadi sebuah solusi yang telah final dan memutuskan perkaranya berdasarkan fakta (fait accompli), dan mengkonsolidasikan realitas baru di atas lahannya, dan menggabungkan berbagai pemukiman Yahudi yang berada di pinggiran Yerusalem, termasuk di dalamnya proyek pemukiman Yahudi E1.

Dari sisi motif keamanan – yang Penjajah gunakan untuk menyetir pendirian tembok – penelitian itu menyatakan bahwa sisi ini tidak hanya untuk menghalangi operasi perlawanan Palestina saja, tapi juga termasuk menjauhkan rakyat Palestina dari Yerusalem, dan menyibukkan diri mereka sendiri dengan cara mengepung mereka di tempat-tempat tertentu, seperti kecamatan Kfar Aqab yang terletak di luar dinding dan mengubahnya menjadi sarang intelijen untuk kepentingan penjajah.

Dan dari sisi motif ekonomi, penelitian ini mengatakan bahwa Penjajah bekerja secara fundamental untuk mencapai dua tujuan ekonomi dari pendirian tembok di sekitar Yerusalem. Yang pertama, melemahkan ekonomi para pedagang pribumi Yerusalem, dan yang kedua: penguatan ekonomi warga “Israel” di atas pundak pribumi Yerusalem, dan untuk memperluas kendali penuhnya terhadap pasar kota itu.

 


Determinan Sosio-ekonomi

Akhirnya, dari sisi motif sosial, penelitian ini mengatakan bahwa tembok ini telah bekerja memisahkan antara keluarga-keluarga rakyat Palestina, terutama keluarga di mana satu pasangan memegang kartu identitas Penjajah Zionis, dan yang lainnya memegang kartu identitas Palestina.

Penelitan itu menjelaskan bahwa sekitar 21% dari keluarga Palestina telah dipisahkan dari kerabatnya, dan sekitar 18% keluarga terpisah dari ayahnya, dan sekitar 12% dipisahkan dari ibunya. Itu dilakukan dengan perbedaan kartu identitas di dalam satu keluarga, sementara, sementara sekitar 85% keluarga Yerusalem terkena dampak dalam kemampuannya untuk mengunjungi kerabat dan keluarga di luar batas tembok pemisah.

Juga dalam konteks sosial, penelitan ini melaporkan bahwa 71,4% dari warga pribumi Yerusalem percaya bahwa hubungan dengan masyarakat sekitar – yaitu Tepi Barat- semakin melemah secara dramatis, dan 83% dari mereka memandang bahwa hubungannya semakin kuat negara Penjajah dan berbagai institusinya, dan itu semua adalah akibat berdirinya tembok pemisah rasis.

Temuan-temuan ini telah berkontribusi – menurut penelitian tersebut – pada penciptaan masyarakat yang hancur yang terisolasi satu sama lain karena kebijakan isolasi rasis (apartheid) yang dipaksakan oleh keberadaan tembok di tanah Yerusalem. (i7)

————

Sumber: www.aljazeera.net, terbit: 02/07/2018.

, ,

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *