Begini Cara Barak Bunuh 300 Rakyat Palestina Dalam Tiga Menit

Mantan PM ‘Israel’, Ehud Barak, membanggakan dirinya atas pembunuhan lebih dari 300 warga Palestina dalam tempo 3 menit. Dia mengklaim mereka sebagai anggota Hamas, dan itu terjadi saat dia menjabat sebagai Menteri Perang. Bagaimanakah kisah pembantaian ini?

Desa-desa di Jalur Gaza belum pernah menyaksikan peristiwa menyakitkan dan pemboman secara acak seperti yang terjadi dalam perang ‘Israel’ di Jalur Gaza pada akhir 2008 dan awal 2009, karena gambar-gambar penghancuran yang amat mendadak dan pemboman secara tiba-tiba masih tertanam dalam ingatan dan sanubari masyarakat.

Pada Sabtu pagi, 27 Desember 2008,  terjadi insiden yang sangat berbahaya dan mengejutkan diluar semua prediksi yang ada, dan tanpa lagi mempedulikan aturan hukum humaniter internasional. Pada sekitar pukul 11:30 pagi, pesawat tempur ‘Israel’ menggempur Jalur Gaza dan melontarkan puluhan bom besar, dengan ukuran seberat 2.000 lbs, dan menembakkan ratusan roket besar ke arah puluhan bangunan dan infrastruktur yang tersebar di beberapa provinsi di Jalur Gaza.

Itu termasuk gedung dan kantor dinas keamanan dan kepolisian, lokasi-lokasi perlawanan Palestina dan kantor-kantor instansi pemerintah yang memberikan layanan setiap hari kepada masyarakat, dalam sebuah preseden yang paling berdarah dan paling buruk dalam sejarah Jalur Gaza.

Walaupun Jalur Gaza yang terkepung, menghadapi dua perang lainnya di tahun 2012, dan 2014 kemudian, namun, tapi ingatan terhadap agresi yang pertama masih belum terhapus dari ingatan mereka, sementara Barak muncul lagi untuk mengingatkan mereka akan kejadian itu di dalam sebuah kesepatan dimana dia mengkritik kinerja pemerintah ‘Israel’ dan cara-cara yang dipergunakannya dalam berinteraksi dengan Gaza.

“Ketika saya menjadi menteri pertahanan, saya membunuh lebih dari 300 orang anggota Hamas dalam tiga setengah menit dalam serangan angkatan udara,” kata Barak sebagaimana dikutip di situs Maariv, yang berbahasa Ibrani  Jumat lalu.

Penjajah Zionis melancarkan agresi yang diberinama “Peluru tembus sasaran”, sedangkan gerakan perlawanan menamainya sebagai “pertempuran pembeda” dan itu terus berlangsung selama 23 hari, dan membawa hasil akhir sekitar 1500 syuhada dan kehancuran infrastruktur secara massif di Gaza.

Selama agresi ini, kelompok perlawanan Palestina menembakkan 980 roket dan rudal ke kota-kota penjajah dan daerah-daerah pemukimannya beserta pangkalan militernya.

 

Serangan Pertama

Jalur Gaza untuk pertama kalinya mengalami serangan udara dalam jumlah paling besar, yang telah menimbulkan kerusakan dan kebrutalan paling parah,  dan mewakili aksi balas dendam terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Para pengamat memperkirakan serangan itu melibatkan 60 pesawat tempur untuk melancarkan sekitar 250 kali serangan udara ke sekitar 60 bangunan dan fasilitas bangunan sipil dan instalasi keamanan di Jalur Gaza. Ini merupakan insiden penyerangan berdarah dan paling kejam dengan jumlah korban terbanyak dalam satu hari di dalam sejarah penjajahan ‘Israel’, sejak dijajahnya tanah-tanah Palestina tahun 1967.

Serangan udara yang dilakukan oleh pesawat tempur dalam tempo tidak lebih dari lima menit ini bertepatan dengan jam sibuk kehidupan sehari-hari warga sipil di Jalur Gaza, terutama aktivitas sekolah dan perkuliahan, ini hanya dapat dijelaskan dalam satu konteks: menimbulkan kerugian kepada warga sipil, membunuh, melukai dan meneror mereka tanpa mempertimbangkan nyawa orang tak berdosa dan tidak bersenjata.

Apa yang menegaskan kesimpulan ini adalah pengetahuan yang akurat para pejabat tinggi penjajah dari kalangan militer dan politikus, di level yang sama, yaitu bahwa waktu yang dipilih untuk melakukan serangan pertama ini akan menimbulkan korban ribuan orang yang terbunuh dan terluka di kalangan warga sipil. Terutama bahwa puluhan bangunan dan fasilitas yang dijadikan sasaran pesawat-pesawat itu dikelilingi oleh lebih dari 20 institusi pendidikan di berbagai level, lebih dari 15 TK dan beberapa bangunan sipil lainnya yang dipenuhi warga sipil seperti rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan masyarakat dan masjid.

Serangan Paling Berdarah

Dalam salah satu serangan, beberapa pesawat tempur menjatuhkan empat bom besar, seberat 2.000 lbs ke bangunan PPN dan Cukai  dan kantor mantan pimpinan Preventive Security Service, yang terletak di atas lahan seluas sekitar 10 dunim, dimana di sekitar lokasinya terdapat empat sekolah, dan 4  lantai untuk TK , dan kantor Bulan Sabit Merah Palestina, Rumah Sakit Al-Quds dan puluhan bangunan rumah tinggal.

Itu cukup jelas bahwa serangan yang mentarget bangunan-bangunan tersebut tentu akan menyebabkan aksi penghancuran secara komprehensif di lokasi itu, ditambah lagi kemungkinan jatuhnya korban ratusan hingga ribuan dari kalangan warga sipil yang sedang melangsungkan aktivitas keseharian mereka. Dan itu memang yang terjadi dimana jatuh puluhan korban terbunuh, luka-luka dan korban yang terkena dampak shok histeris.

Hari itu dianggap oleh para  pengamat dan aktivis HAM sebagai hari paling berdarah dan kejam dalam sejarah penjajahan Zionis sejak 41 tahun.

Pada sekitar jam 01:30 siang, salah satu pesawat tempur ‘Israel’ membidik  sekelompok mahasiswa pelatihan Gaza yang terafiliasi kepada UNRWA di Jalan Industri di pusat Kota Gaza, mereka dan beberapa siswa lain dari keluarga Rais sedang menunggu bus yang menjemput mereka, sehingga mengakibatkan jatuhnya korban 13 orang, yaitu 9 mahasiswa dan 4 lainnya yang berada di lokasi tersebut, ditambah 43 orang lainnya yang menderita luka-luka.

Menurut data statistik akhir dari Pusat HAM  Palestina; pemboman ke Jalur Gaza yang tiba-tiba itu telah mengakibatkan jatuhnya korban di hari pertama 334 meninggal dari warga sipil, termasuk 238 petugas polisi, yang diantaranya komandan dinas kepolisian di Gaza,  Mayor Jenderal Tawfiq Jaber, dan korban lainnya yang sedang berada di dalam kantor polisi atau di sekitarnya pada saat terjadinya serangan yaitu, 12 anak dan 6 wanita.

Lebih dari 5.000 mahasiswa dan mahasiswa mengalami trauma psikologis dan luka-luka akibat   kerasnya intensitas penembakan dan serangan udara itu  di saat mereka  sedang duduk di kelas atau sedang dalam perjalanan  menuju kelas sore hari saat agresi terjadi. Para korban tidak dapat menerima pengobatan atau layanan kesehatan dan penanganan trauma psikologis akibat sangat kurangnya layananan kesehatan itu dan situasi yang sangat kebingungan di berbagai aspek kehidupan.

Meskipun penjajah Zionis telah menggunakan senjata yang terlarang secara internasional   – terutama uranium dan senjata fosfor – namun dia telah gagal mencapai tujuannya, bahkan mengalami kerugian besar, dikarenakan terbunuh dari mereka sekitar 100 orang diantaranya  48 orang tentara menurut versi kelompok perlawanan, ditambah lagi lebih dari 400 orang menderita luka-luka, dan trauma psikologis yang melanda di kalangan penjajah dan pemukim (Yahudi), dan juga kerugian material yang diperkirakan oleh beberapa lembaga studi mencapai hingga 2.5 miliar dolar(i7).

——————————–
Sumber: www. palinfo.com, terbit: 20/10/2018, pukul: 10:26:21 pagi.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *