ASPAC For Palestine dan SALAM UI Gelar Diskusi Intifadhah

Sabtu (20/12/2014), Asia Pasific Community for Palestine bekerjasama dengan SALAM UI menggelar acara Focus Group Discussion dengan tema “Sejarah dan Prospek Intifadhah dalam Melawan Penistaan Masjid Al Aqsha.” 

 

Acara yang digelar di Ruang Promosi Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Depok ini menghadirkan dua orang narasumber; Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim, MA. dan Dr. A. Hanief Saha Ghofur. 

 

“Intifadhah adalah luapan amarah penduduk yang dizalimi dan dijajah, dan bukan rengekan untuk mengemis belas kasihan”,ungkap DR. Saiful Bahri selaku ketua ASPAC for Palestine dalam sambutannya.

 

Dalam kesempatan itu didiskusikan bagaimana sejarah meletusnya intifadhah serta peranannya dalam merespon penistaan terhadap masjid suci Al-Aqsha dan pembebasan bangsa Palestina dari penjajahan. 

 

Marwah Daud yang juga dewan pendiri ASPAC for Palestine dan Ketua Presidium ICMI dalam diskusi tersebut menjelaskan tentang optimisme dari perjuangan yang dilakukan rakyat Palestina akan mencapai kemenagan dan kemerdekaan.

 

Beliau mengatakan: “semangat intifadhah yang dimiliki rakyat Palestina bahkan anak-anak dan orang tua, yang dilakukan secara serentak, agresif, independen dan penuh keberanian harus menjadi inspirasi bagi siapapun untuk mendukung perlawanan, tentunya dengan beragam bentuk dan pola, seperti diplomasi, sharing visi, dan sebagainya”.

 

Belakangan dukungan kemanusiaan terhadap Palestina terus berlangsung. “Sebanyak 27 Negara Eropa, hampir semua mendukung Palestina merdeka. Jalur diplomasi harus terus dilakukan dalam skala internasional. Namun demikian, penting untuk menggalang perlawanan di lapangan terhadap penjajahan ini. Sebagaimana perjuangan kemerdekaan tanah air kita, selain melalui jalur diplomasi, para gerilyawan memiliki andil besar dalam memperjuangakan kemerdekaan”, lanjut Marwah.

 

A.Hanief Saha, dosen Pasca Sarjana Program Studi Timur Tengah dan Islam UI yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PBNU mengawali pembicaraannya dengan: ‘yang menghancurkan hubungan antara Islam dan Yahudi adalah Negara Israel’.

 

Mendukung intifadhah dalam melawah Israel dari Indonesia juga perlu dilakukan, lewat jalur diplomasi, media massa, bahkan melawan akses jaringan Negara Israel di Indonesia. Ada enam ormas di Indonesia yang berangkat ke Israel pada 18 Desember ini,Ungkap Hanief.

 

Semoga diskusi intifadhah Palestina ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk berperan serta mendukung intifadhah, bahkan turut serta melawan penjajahan di Palestina dengan makna yang lebih luas, sesuai dengan kapasitas dan peran masing-masing. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *