Ritual Yahudi di Al-Aqsa Menunggu Persetujuan dari Mahkamah Agung

Pemerintah Penjajah Zionis mengizinkan hampir setiap harinya bagi ratusan Pemukim (Yahudi) menyerbu ke areal Masjid Al-Aqsha (Aljazeera)

 

Pengadilan Tinggi “Israel” pada hari Jumat (24/08) memberi tempo kepada Departemen Keamanan Dalam Negeri “Israel” dan Kepolisian “Israel”  tidak lebih dari dua bulan untuk menanggapi pertanyaan dari kelompok-kelompok Yahudi ekstrem tentang alasan yang melarang orang Yahudi melakukan ritual di Masjid Al-Aqsha.

Perintah pengadilan itu muncul pasca Rabbi Yuval Shirlo, yang berasal dari Jamaah Al-Haikal – mengirim petisi ke Pengadilan Tinggi yang berisikan tuntutan penjelasan tentang tanggapan atas seruan khusus ritual Yahudi di Al-Aqsha.

Rabi itu meminta pengadilan untuk menghapus sebuah plakat yang menginformasikan bahwa orang-orang Yahudi dilarang untuk melakukan ritual di pintu masuk Jembatan Gerbang Mughariba, dan menuntut agar orang Yahudi diizinkan untuk secara bebas melakukan ritual pemujaan di dalam Masjid Aqsha.

Kelompok-kelompok Jamaah Al-Haikal menganggap bahwa keputusan Mahkamah Agung ini merupakan langkah penting dan maju di jalan yang memungkinkan bagi orang Yahudi untuk melakukan ritual di dalam Al-Aqsa dengan keputusan dari Pengadilan.

Rabbi Yehuda Glick, salah satu tokoh sayap kanan paling menonjol di “Israel”, menyerukan dibuatnya sistem pembagian Al-Aqsha, seperti yang diberlakukan di Masjid Al-Ibrahimi di Hebron. Seruannya itu mendapatkan banyak dukungan dari tokoh kelompok-kelompok Jamaah Haikal.

Sementara itu Pihak Pemerintah Palestina menegaskan bahwa pembahasan apapun terkait peribadatan bagi selain Umat Islam di dalam Masjid Al-Aqsha yang diberkahi adalah bentuk permusuhan dan tidak diterbitkan kecuali dari “pihak yang idiot”.

Juru bicara resmi pemerintah Palestina Yousef Mahmood mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Masjid Al-Aqsa yang diberkahi “adalah milik Umat Islam saja, yang dianggap sebagai  salah satu tempat paling suci di mana pun mereka berada baik di timur ataupun barat dunia ini.”

Mahmoud memperingatkan setiap upaya menyentuh Masjid Al-Aqsha yang diberkahi dalam apa yang disebut sebagai “legitimasi” ritual non-Muslim oleh pihak Penjajah Zionis, menurutnya, hal itu akan membuka jalan yang lebar bagi menyalanya api perang keagamaan yang mentarget kawasan (Timur Tengah) dan dunia (i7).

————————-

Sumber: www.aljazeera.net, terbit: 25/8/2018.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *