Normalisasi Teluk dan Perubahan Kesadaran Bangsa Arab


Oleh: Mohammad Ayesh

Normalisasi bangsa Arab dengan ‘Israel’ telah memasuki fase baru dalam sepuluh tahun terakhir, dengan keterbukaan Teluk terhadap Tel Aviv dan terjalinnya hubungan langsung dengannya. Tindakan ini diambil tanpa adanya kesepakatan politik atau pertukaran duta besar dan dengan sepenuhnya mengabaikan Inisiatif Perdamaian Arab, yang, baru beberapa tahun yang lalu, menetapkan perdamaian sebagai imbalan atas normalisasi bangsa Arab dengan ‘Israel’.

‘Israel’ akhirnya mencapai normalisasi bangsa Arab yang hampir sempurna dengan tanpa membuat komitmen apa pun kepada bangsa Palestina atau tetangga-tetangga Arabnya. Faktanya, pada tahun 2018, territorial Palestina merekam angka pemukiman paling tinggi dalam sejarah, dimana jumlahnya di Tepi Barat mencapai 480.000 pemukim. Ini adalah angka tertinggi yang tercatat sejak penjajahannya pada tahun 1967, yang berarti bahwa ‘Israel’ telah melahap sebanyak mungkin tanah-tanah bangsa Palestina menggunakan permukiman, pendirian tembok, penyitaan, pembongkaran, pemindahan, dan pengusiran.

Sementara aktivitas pemukiman ‘Israel’ di Tepi Barat memuncak pada akhir tahun lalu, normalisasi Teluk dengan penjajah juga mencapai puncaknya, karena hanya dalam satu pekan di bulan Oktober 2018, lagu kebangsaan ‘Israel’ dinyanyikan di ibukota Teluk. Pada saat yang sama, Benjamin Netanyahu mendarat di ibu kota Teluk lainnya, menjadikannya perdana menteri ‘Israel’ pertama yang menginjakkan kaki di negara Teluk. Dua hari kemudian, tim olahraga ‘Israel’ mengunjungi ibu kota Teluk yang ketiga. Di saat orang-orang ‘Israel’ ini mengalir ke Teluk, media massa ‘Israel’ berbicara tentang seorang Emir dari negara Teluk yang keempat yang secara diam-diam mengunjungi Tel Aviv. Normalisasi Teluk dengan ‘Israel’ adalah perkembangan paling menonjol dalam perjalanan konflik Arab-‘Israel’ dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga yang paling berbahaya dan penting berdasarkan hal-hal berikut:

Pertama, normalisasi hubungan antara negara-negara Teluk dan ‘Israel’, tanpa adanya kesepakatan perdamaian atau komitmen politik, tentu saja berarti melangkahi bangsa Palestina, mengabaikan tuntutan mereka, kepentingan dan tanah air mereka, dan dengan demikian mengabaikan masalah yang sejak lama merupakan perjuangan utama bangsa Arab selama tujuh dekade terakhir.

Kedua, Negara-negara Teluk telah menjadi pemain kunci dalam politik bangsa Arab selama bertahun-tahun, sebagai akibat dari tidak adanya atau turunnya kekuatan-kekuatan (pemain) utama dikarenakan kondisi buruk mereka. Saya secara khusus merujuk kepada Irak, Suriah dan Mesir, negara-negara yang telah disibukkan dengan urusan dalam negerinya selama bertahun-tahun setelah pernah memimpin dalam semua kebijakan bangsa Arab.

Ketiga, Negara-negara Teluk adalah negara-negara Arab terkaya di dunia. Mereka memiliki kekayaan dan investasi yang sangat besar. Mereka juga memiliki pasar konsumen terbesar di dunia Arab dan Timur Tengah, bersama dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Mereka juga memiliki produsen minyak terbesar di dunia dan ekonomi terbesar di kawasan ini. Ini berarti bahwa akses ‘Israel’ kepada negara-negara pelaku ekonomi ini akan memberikan kepada ‘Israel’, hak keistimewaan ekonomi dan produk yang mereka miliki yang belum pernah diimpikan sebelumnya dan akan melembagakan dukungan bagi perekonomian ‘Israel’.

Keempat, normalisasi Teluk dengan ‘Israel’ berarti bahwa era boikot sepenuhnya telah berakhir. Saat ini, negara-negara yang memboikot ‘Israel’ (Suriah dan Lebanon) terisolasi dari negara-negara Arab di sekeliling mereka. Ini terjadi setelah masa ketika mereka yang memiliki hubungan dengan ‘Israel’ atau yang terbukti memiliki hubungan normal dengan penjajah telah diisolasi dan dimasukkan dalam daftar hitam oleh Kantor Boikot Bangsa Arab. Secara alami saja, saat ini Kantor Boikot bangsa Arab terhadap ‘Israel’, yang dianggap sebagai biro khusus di dalam Liga Arab, sedang memboikot dirinya sendiri yang dilakukan oleh negara-negara Arab. Kantor ini tidak pernah melangsungkan pertemuan sejak tahun 1993, dan karenanya tidak pernah ada keputusan yang diambilnya sejak saat itu.

Kami menyaksikan proses normalisasi dengan ‘Israel’ yang gratis, dan Tel Aviv adalah satu-satunya yang diuntungkan dari proses ini. Apa yang kami saksikan adalah upaya sistematis untuk mengubah konsep, ide, doktrin, dan ideologi untuk menciptakan generasi Arab baru yang memandang ‘Israel’ sebagai teman tanpa lagi mempertimbangan tanah air bangsa Palestina dan Suriah yang dijajah dan hak-hak bangsa Arab yang dijarah.

Upaya ini bertujuan agar bangsa Arab yang memandang Iran dan Turki sebagai musuh ‘Israel’ adalah teman yang harus diterima di kawasan ini. Mereka juga berniat untuk membuat bangsa Arab memahami bahwa prinsip-prinsip dasar bagi keamanan nasional bangsa Arab telah berubah dan bergeser, dan bahwa para tetangga yang telah seperti itu selama ribuan tahun adalah musuh dan bahwa ‘Israel’, yang menjajah tanah air dan mengubah banyak fitur-fitur dan landmark di tanah air (bangsa Arab) ini setiap hari adalah teman yang sama sekali tidak menimbulkan ancaman.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan Middle East Monitor. (i7)

——————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 09/04/2019, jam: 4:53 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *