Nenek Tlaib: “Semoga Tuhan Menghancurkan Trump”


Sambil duduk di bawah pohon zaitun di Tepi Barat yang dijajah Zionis, Muftia Tlaib mencemooh perhatian yang baru-baru ini diberikan oleh presiden Amerika Serikat kepadanya, demikian seperti dilansir oleh Reuters.

“Semoga Tuhan menghancurkannya,” katanya.

Tlaib adalah nenek dari anggota kongres AS Rashida Tlaib, berada di pusaran kasus yang telah mempertemukan Donald Trump dan PM negara Penjajah Zionis Benjamin Netanyahu bersama-sama melawan Demokrat AS.

Pada hari Kamis (15/08), tunduk pada tekanan dari Trump, negara Penjajah Zionis telah melarang kunjungan oleh Rashida Tlaib dan rekan sesama Demokratnya, Ilhan Omar, dimana pada awalnya negara Zionis itu mengatakan akan memberinya izin.

Hari berikutnya, negara Penjajah Zionis mengatakan akan membiarkan Tlaib mengunjungi keluarganya di Tepi Barat dengan alasan kemanusiaan – tetapi Tlaib menolak tawaran itu, mengatakan bahwa Penjajah Zionis telah memberlakukan pelarangan yang dimaksudkan untuk mempermalukannya.

Pada Jumat malam, Trump mentweet:

Anggota Kongres Tlaib telah menulis surat kepada para pejabat negara Penjajah Zionis dengan amat penuh harap untuk mengunjungi neneknya. Izin diberikan dengan cepat, di mana Tlaib dengan menjengkelkan menolak pemberian izin itu, sebuah pengaturan yang sempurna. Satu-satunya pemenang yang sesungguhnya dalam hal ini adalah nenek Tlaib. Dia seharusnya tidak berjumpa dengannya sekarang!

Muftia Tlaib yang berusia sembilan puluh tahun, duduk di kebunnya di desa Beit Ur Al-Fauqa, tidak terkesan. “Trump memberitahuku bahwa aku seharusnya berbahagia bahwa Rashida tidak datang,” katanya. “Semoga Tuhan menghancurkannya.”

Bassam Tlaib, putranya, yang merupakan paman Rashida, mengatakan bahwa kedua wanita ini belum pernah bertemu sejak tahun 2006:

“Dia akan menyembelih domba saat Rashida datang dan akan menghidangkan makanan kesukaannya, yang terbungkus daun anggur.

“Rashida menganggap neneknya seperti ibu kedua, yang selalu mendukungnya. Rashida mengatakan dia berhutang kesuksesannya kepada neneknya. “

Tlaib tidak menguraikan syarat apa yang ditetapkan bagi kunjungannya. Media penjajah Zionis melaporkan bahwa dia telah setuju untuk tidak mempromosikan pemboikotan terhadap negara penjajah Zionis sebagai bagian dari permintaannya kepada Kementerian Luar Negeri negara Zionis tersebut.

Tlaib, seperti Omar, telah menyuarakan dukungan bagi gerakan pro Palestina yaitu BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi), yang menentang penjajahan dan kebijakan negara Penjajah terhadap Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Menurut hukum negara Penjajah Zionis, seorang pendukung BDS dapat ditolak visa masuknya.

Kedua wanita tersebut adalah dua orang wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres, dan Tlaib yang terlahir di Detroit adalah anggota kongres Amerika berdarah Palestina pertama. Kedua wanita ini adalah anggota sayap progresif partai Demokrat dan pengkritik tajam terhadap Trump dan negara penjajah Zionis.

Rakyat Palestina ingin mendirikan negara di Tepi Barat, Baitul Maqdis (Yerusalem) Timur, dan Jalur Gaza, yang merupakah wilayah yang telah direbut negara penjajah Zionis dalam perang Timur Tengah 1967.

Negara penjajah Zionis telah mencaplok Baitul Maqdis (Yerusalem) Timur dalam suatu langkah yang tidak diakui secara internasional; terus menerus melakukan blokade Gaza yang dikendalikan oleh gerakan Islam Hamas, dan terus mengendalikan sebagian besar kota Tepi Barat dimana rakyat Palestina memiliki pemerintahan sendiri yang terbatas..

Prospek penyelesaian konflik di bawah “solusi dua negara” yang telah memandu upaya penciptaan perdamaian selama bertahun-tahun telah meredup secara signifikan sejak Trump berkuasa, sementara pemukiman penjajah Zionis di tanah Palestina terus berkembang.

Pemerintahan Trump, yang sangat dekat dengan pemerintah Netanyahu, telah menggembar-gemborkan rencana perdamaiannya sendiri tetapi rinciannya masih kabur. Pemerintahan Trump telah menyulut kemarahan rakyat Palestina dengan cara mengakui Baitul Maqdis (Yerusalem) yang disengketakan sebagai ibukota negara penjajah Zionis pada tahun 2017.

Trump selama berminggu-minggu telah menyerang Tlaib dan Omar, bersama dengan anggota parlemen Alexandria Ocasio-Cortez dari New York dan Ayanna Pressley dari Massachusetts – semua wanita dari asal non kulit putih yang dikenal sebagai “Squad” – dengan menuding mereka sebagai melakukan permusuhan terhadap negara penjajah Zionis dalam serangan yang dikecam oleh para kritikus sebagai rasis.

“Trump telah mengatakan kepada Rashida dan Ilhan untuk pulang ke negara asal mereka. Alangkah kontradiktifnya, dimana kemarin dia meminta mereka pergi dan hari ini dia meminta agar mereka tidak mengizinkannya masuk, ”kata Bassam Tlaib.

Namun, tetap, sang nenek ini masih berharap: “Hati saya memberi tahu saya bahwa dia akan datang.” (i7)

——————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 17 Agustus 2019 pukul 17:39.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *