Mengapa Warga Baitul Maqdis Menyerukan Agar Tidak Melakukan Penyembelihan Hewan Kurban di Hari Pertama Idul Adha ?


Oleh: Aseel Jundi

Baitul Maqdis yang terjajah – Setelah keberhasilan pengalaman pertamanya dalam menyerbu Masjid Al-Aqsa pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, -Kelompok (Yahudi) Jamaah Haikal berusaha untuk melakukan penyerbuan besar-besaran ke masjid pada hari pertama Idul Adha, dalam rangka merayakan apa yang mereka sebut peringatan penghancuran Haikal.


Warga negara penjajah Zionis tersebut memandang penghancuran terhadap apa yang mereka duga sebagai Haikal itu adalah hari berduka cita dan penuh kesedihan atas kehancuran ‘Haikal Sulaiman’ di tangan bangsa Babilonia. Sementara beberapa organisasi Haikal, menjelang peringatan ini, terlibat melakukan mobilisasi opini publik masyarakat penjajah Zionis supaya mereka ikut serta menyerbu secara bersama-sama dalam jumlah besar ke Masjid Al-Aqsha yang diimplementasikan oleh organisasi-organisasi pemukiman (Yahudi).

Berbarengan dengan konferensi persiapan tahunan yang diadakan oleh jamaah atau kelompok-kelompok Haikal pada hari Rabu dan Kamis (7-8 Agustus) untuk membahas mekanisme penyerbuan dan perinciannya, meningkat pula seruan dari aktivis Palestina untuk perlunya melakukan pengorbanan bagi perjalanan ke Masjid Al-Aqsa secara besar-besaran pada hari pertama Idul Adha, dan tinggal di dalamnya selama berjam-jam untuk menggagalkan rencana para ekstremis (Yahudi).

Di antara gagasan yang diedarkan oleh para aktivis adalah penundaan penyembelihan hewan kurban di pertama Idul Adha, untuk memfasilitasi mobilisasi warga Yerusalem agar berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa. Seorang peneliti pakar bidang Baitul Maqdis, Ziad Abhis menulis di laman facebooknya “Jika Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam berada di tengah kami dan mengetahui bahwa kami berada diantara dua pilihan: Al-Aqsha diserbu tatkala kami berada di luar untuk melakukan penyembelihan ataukah kami tetap berada mengikatkan diri sebagai murabith di Al-Aqsha dan mengakhirkan penyembelihan di hari berikutnya, apa kira-kira yang beliau akan pilih?”



Menunda
Penyembelihan Hewan Kurban


Mengomentari hal ini, Mufti Baitul Maqdis dan rumah rakyat Palestina, Mohammad Hussein, mengatakan bahwa tidak ada larangan untuk menunda penyembelihan hewan kurban pada hari pertama Idul Adha ke tiga hari berikut yang menyertainya, “penyembelihan hewan kurban diperbolehkan sepanjang hari raya baik siang ataupun malam dan tidak mengapa menundanya demi menghadirkan jamaah dalam jumlah besar dan banyak ke Masjid Al-Aqsha.”

Hussein memperingatkan dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera Net tentang keseriusan dan dampak dari kedatangan para pemukim (Yahudi) untuk menyerbu Al-Aqsha pada hari pertamam hari raya, sambil menyerukan untuk dilakukan aksi Ribath atau pertahanan dengan tinggal di dalamnya  untuk menghadapi berbagai serangan dari serangan para ekstremis terhadap kaum Muslimin pada hari raya mereka dan tempat-tempat suci milik mereka.

Dewan Organisasi Islam Tertinggi telah mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan ditutupnya semua masjid di kota Baitul Maqdis (Yerusalem) bagi pelaksanaan shalat Idul Adha yang hanya akan dibuka pelaksanaannya di Masjid Al-Aqsha yang diberkahi. Itu merupakan tanggapan atas pengumuman pihak kepolisian penjajah bahwa akan dilakukan evaluasi terhadap kondisi di Al-Aqsha sejak pagi dini hari pertama di hari-hari Idul Adha, untuk memutuskan pembukaan Masjid Al-Asha bagi penyerbuan oleh kalangan ekstrimis (Yahudi).

Peneliti Al-Quds Ahmed Yassin mengatakan bahwa apa yang mendorong kelompok Jama’ah Haikal  melakukan penyerbuan ini adalah keberhasilan mereka menyerbu Al-Aqsa pada 28 Ramadhan lalu. Dia menambahkan bahwa keberhasilan penyerbuan ini akan menjadi preseden berbahaya yang belum terjadi sejak penjajahan Baitul Maqdis sejak tahun 1967. Belum pernah terjadi sebelumnya para pemukim (Yahudi) melakukan penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha pada hari-hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Kebisuan Otoritas Penjajah


Berbicara dengan Al-Jazeera Net, Yassin berbicara tentang sikap polisi penjajah Zionis bahwa “pihak kepolisian mengambil langkah yang sama yang ditempuhnya pada bulan Ramadhan lalu yang konsisten dalam berdiam diri dan menghindari mengeluarkan pernyataan tegas terkait pembukaan Pintu Mughariba pada hari Ahad mendatang di hadapan para penyerbu (Yahudi).”


Beliau menambahkan “Sampai saat ini, Otoritas penjajah Zionis dan pihak kepolisian terus mengawasi reaksi Umat Islam dan jama’ah atau kelompok-kelompok Haikal terkait rencana penyerbuan. pendudukan dan polisi sedang memantau reaksi Muslim dan kelompok Hulk tentang serangan itu. Jika kelompok-kelompok itu datang dalam jumlah besar dari pintu Mughariba pada hari Ahad, maka akan diberikan izin untuk menyerbu dan polisi hanya akan mengumumkan pada saat itu juga.”

Yassin percaya bahwa kemungkinan ini bergantung pada kehadiran Umat Islam dalam jumlah besar yang merayakan Idul Adha di Masjid Al-Aqsa. ” Dalagm kondisi hadirnya mereka dalam jumlah yang amat banyak dan dalam tempo waktu yang lama maka pihak kepolisian tidak akan berani memasukkan kelompok-kelompok ektrimis (yahudi) ke dalam areal masjid, “Karena tujuan utamanya adalah melakukan penjagaan terhadap mereka saat melakukan aksi berkeliling-keliling yang itu tidak akan mungkin bisa dilakukan dalam kondisi hadirnya umat Islam yang melakukan shalat dalam jumlah besar.”

Adapun makalah-makalah yang dipresentasikan pada konferensi persiapan untuk memperingati “kehancuran Haikal,” Yassin mengatakan bahwa di dalamnya diusulkan banyak kegiatan persiapan untuk penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha, yang paling menonjol di antaranya akan disajikan oleh Rabi Azaria Ariel berupa prosesi pembakaran sapi merah, dan persiapan mereka untuk membakar sapi Haikal, yang akan dihadiri para rabi senior dan anggota dari jama’ah atau kelompok-kelompok Haikal..

Yasin menekankan bahwa “bahaya dari konferensi tersebut adalah bahwa dia telah memasuki masalah pembakaran sapi, yang merupakan pendahuluan awal bagi pembangunan Haikal, sebagaimana yang diatur dalam syariat agama Yahudi”.

Patut dicatat bahwa organisasi pengurus Haikal yang ekstrimis tersebut telah menyerukan pawai yahudisasi besar-besran yang akan dimulai dari gerbang Al-Khalil (Hebron) dan berakhir di dalam Masjid Al-Aqsa pada hari Idul Adha mendatang. Pimpinan organisasi tersebut, Gershon Salmon telah meminta diizinkannya penganut Yahudi menyerbu Al-Aqsha pagi hari Ahad mendatang, dan dizinkannya mereka meletakkan batu Haikal di Masjid Al-Aqsha, dengan anggapan bahwa waktu untuk itu telah tiba.

————–
Sumber: www.aljazeera.net, terbit, 09/08/2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *