Jejak Zionis Israel dalam Konflik Rohingya

Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dikejutkan dengan gelombang ribuan pengungsi asal Myanmar. Mereka adalah muslim Rohingya yang menempati wilayah Arakan atau Rakheena State, yang terusir akibat konflik berkepanjangan di kawasan itu. Dewan Rohingya Eropa (ERC) pada tanggal 28 Agustus 2017 kemarin merilis laporan, sekitar 2.000 hingga 3.000 muslim Rohingya tewas dalam serangan ke Arakan yang terjadi selama tiga hari. Eksodus besar-besaran terjadi. Di Indonesia sendiri tercatat ada sekitar 12.000 orang pengungsi Rohingya yang kini masih bertahan di Aceh, Sumatra Utara dan propinsi lainnya.

Konflik yang identik dengan isu SARA ini ternyata bukan saja melibatkan junta militer Myanmar, tapi juga ada campur tangan Zionis Israel. Hal ini berdasarkan pemberitaan surat kabar Israel sendiri, Haaretz yang menyebutkan Kementerian Pertahanan Israel tetap nekat menjual persenjataannya ke Myanmar, yang selama ini digunakan junta militer untuk melakukan pembersihan etnis muslim Rohingya. Diantara persenjataan dan alat berat yang dijual ke Myanmar yaitu 100 buah tank dan boat patroli untuk perbatasan, seperti yang dikutip laman middleeasteye.net

Pada bulan September 2015 lalu diberitakan, satu petinggi junta militer, Jenderal Min Aung Hlaing mengunjungi Israel untuk belanja senjata. Ia melakukan pertemuan dengan pejabat militer termasuk kepala staf tentara Israel. Kementerian Pertahanan Israel kemudian melakukan kunjungan balasan ke Myanmar pada musim panas 2015 lalu.

Ofer Noman, seorang aktivis HAM di kawasan pendudukan Israel bahkan mengatakan, senjata yang dijual Israel ke rezim Myanmar adalah senjata yang biasa dipakai Israel untuk menghadapi orang-orang Palestina. Senjata itu digunakan Israel selama ini sebagai kesempatan melakukan uji coba.

Bukan hanya persenjataan, pada bulan Agustus 2016, situs TAR Ideal Concepts, sebuah perusahaan peralatan militer Israel mempublikasikan foto mereka melatih pasukan elit Myanmar dengan menggunakan senapan Corner Shot buatan Israel. Pasukan khusus itu yang kini ditempatkan di daerah konflik Arakan. Padahal banyak pihak yang mengecam penjualan senjata tersebut, baik dari Amerika maupun Uni Eropa. Namun seperti biasa, tidak pernah diindahkan oleh Israel.

Penjualan senjata ini menguatkan indikasi dukungan Zionis Israel terhadap tindakan militer Myanmar yang melakukan pembantaian terhadap etnis Rohingya. Bagi penjajah seperti Israel bermain di daerah konflik yang terlibat pelanggaran HAM bukanlah hal yang asing. Palestina sebagai bukti nyata, Israel telah melakukan pengusiran terhadap Palestina sejak tahun 1948. Mengusir penduduk Palestina dari tanah kelahirannya, meratakan rumah penduduk dengan tanah, merobohkan masjid dan musholla, menangkapi para penduduk Palestina, menawan dan menyiksa mereka.

Ada peristiwa Nakbah tahun 1948, pengusiran dan pembersihan etnis Arab yang dilakukan penjajah Israel dari tanah Palestina, lebih dari 700.000 warga Palestina terusir. Pembantaian di desa Deir Yassin, kamp pengungsian Shabra Satilla pada bulan September 1982, yang terjadi di kamp pengungsi di Sabra Satilla di perbatasan Palestina dan Libanon. Sedikitnya 3.500 pengungsi Palestina tewas dalam waktu tiga hari.

Jadi bukan hal baru bagi Israel dalam memberikan dukungan kepada pihak yang melakukan tindakan kekerasan yang melanggar HAM. Karena Israel sendiri sudah terbiasa dengan peristiwa seperti itu. Dan apa yang dilakukan tentara Myanmar terhadap muslim Rohingya saat ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Zionis Israel. 

Muhammad Syarief

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *