Hukuman Penjara Legal 8 Bulan Buat Ahed dan Nariman Tamimi

Jaksa Penuntut Militer Israel telah mencapai kesepakatan, hari Selasa (20/03) dengan Pembela terkait gadis tawanan, Ahed Tamimi, yang dijatuhi hukuman penjara yang sebenarnya untuk masa 8 bulan. Gadis Palestina ini telah ditangkap sejak awal Desember lalu, dan didakwa jaksa penuntut militer dengan 4 tuduhan dan bukan 12 tuduhan seperti yang pernah diungkap sebelumnya termasuk “menyerang tentara” yang didokumentasikan melalui video di pekarangan rumahnya di desa Nabi Saleh di Tepi Barat yang terjajah.

Pengadilan juga menetapkan hukuman 8 bulan penjara tambahan “dengan penangguhan pelaksanaannya”, dan akan dilaksanakan dalam kondisi Tamimi melakukan tindak pelanggaran hukum yang mana saja (tidak dirincikan) dalam tempo tiga tahun ke depan. Ini masih ditambah denda yang harus dibayarkannya sebesar 5.000 Shekel.

Pengadilan militer juga telah memutuskan hukuman penjara bagi wanita Palestina Nariman Tamimi, ibu dari Ahed, untuk jangka waktu 8 bulan dan membayar denda, dengan tuduhan menghambat tugas seorang tentara Israel dan menyerangnya.

Dan pengadilan yang sama telah memutuskan terhadap tahanan Nour Al-Tamimi, sepupu Ahed, hukuman penjara yang sesungguhnya untuk masa 16 hari, dan membayar denda 2.000 Shekel sebelum dia dibebaskan.

Nariman Tamimi

Selama sesi pengadilan, seorang wanita muda bangkit dan menampar jaksa militer Israel untuk kemudian ditangkap dan dibawa untuk diinterogasi.

Menurut media Israel, jaksa militer telah menyiapkan dakwaan terhadap Tamimi yang telah dirubah dari sebelumnya 12 tuduhan menjadi 4 tuduhan yang berlangsung dalam sidang hari itu di Mahkamah Ofer barat Ramallah, dimana Ahed akan menghabiskan masa 8 bulan penjara di sana.

Ayah dari Ahed dan suami dari Nariman, menjelaskan atas nama Tamimi, dalam wawancara dengan Arab-48 bahwa “Keputusan ini tidak adil, tentu saja, dan kami menerimanya karena mengetahui bahwa kemungkinan kami akan dihadapkan dengan sesuatu yang jauh lebih tidak adil lagi.”

Mengenai Ahed dan istrinya Nariman, dia berkomentar: “Meskipun kondisi di dalam penjara yang keras dan sulit tetapi ma’nawiyah (kejiwaannya) sangat tinggi, yakin akan kebenaran dan keadilan permasalah kami, karena mengetahui bahwa masalah Ahed memperoleh solidaritas lokal, internasional, bahkan dari Israel sendiri.”

Dia menjelaskan bahwa bahkan dia tidak diperbolehkan berbicara dengan putrinya atau istrinya selama pengadilan.

Dalam daftar dakwaan tercakup pengakuan Tamimi (17 tahun), telah menghalangi tugas seorang tentara dan menyerangnya. Sementara tuduhan hasutan dan ajakan untuk melaksanakan aksi melawan penjajah Israel dihilangkan dari daftar tuduhan tersebut.

Menurut dakwaan bahwa al-Tamimi dan sepupunya, dan ibunya yang bergabung dengan mereka kemudian, telah memukuli wajah tentara dengan menggunakan tangan dan piring, sementara pukulan yang dilakukan oleh Ahed telah meninggalkan bekas di wajah tentara itu.

Dakwaan itu juga menuduh Al-Tamimi menyerang tentara Israel dalam lima insiden lainnya.

Meski Pembela Ahed Tamimi keberatan, namun Pengadilan Militer bersikeras melaksanakan sidang terhadap gadis Palestina ini secara tertutup, di luar liputan media massa. Dan Jaksa pengadilan berdalih dibalik tertutupnya sidang itu agar pengadilan bisa berjalan secara tegas dan adil, dan melihat kasus gadis Palestina ini masih tergolong di bawah umur.

Mahkamah Militer Ofer memvonis Nariman Tamimi 8 bulan penjara dan denda 6.000 shekel. Mahkamah juga menetapkan hukumah tambahan 7 bulan penjara “dengan penangguhan pelaksanaan” terhadap Nariman dalam kondisi pelanggaran apapun terhadap hukum (tidak diperinci) dalam masa 5 tahun ke depan.

Ahed Tamimi telah menjadi ikon perlawanan rakyat Palestina atas partisipasi yang dilakukannya sejak masih anak-anak dalam pertempuran melawan penjajahan. Pihak kejaksaan Militer Israel telah mendakwa gadis itu di atas 12 dakwaan pada awal Januari lalu.

Tentara Israel menangkap Ahed dan ibunya Nariman,  pada 19 Desember 2017, dan hari berikutnya, sepupunya Nour al-Tamimi ditangkap dari rumah mereka di desa Nabi Saleh, sebelah barat Ramallah.

Penangkapan Ahed dan Nour didasarkan atas  dugaan “penyerangan” terhadap tentara Israel dan mengusir tentara dari depan rumah keluarga Tamimi di kota Nabi Saleh, pertengahan bulan Desember lalu. Sementara sang ibu Nariman dituding melakukan ” hasutan yang menyebabkan terjadinya serangan ini.” (Arab48/i7).

—–

Keterangan foto:

Nariman, ibu dari Ahed Tamimi

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *