Gaza Berkabung Atas Wafatnya Puluhan Orang Dalam Serangan ‘Israel’ Terkini: ‘Saya kehilangan semuanya hanya dalam sekejap mata’

Foto [indepent.co.uk]

Oleh: Bel Trew

Ada banyak tank dan pesawat yang menyerang ke sekitar 350 titik sasaran di Gaza, hingga menewaskan 25 orang, termasuk dua orang wanita hamil dan tiga anak-anak.

Foto [indepent.co.uk]

Penyebab mengapa Mohamed, 26 tahun, tidak ikut tertimbun di dalam puing rumah seperti halnya anggota keluarga yang lain, adalah karena dia dihentikan oleh sebuah obrolan pendek.

Dia ingat bagaimana ayahnya, seorang satpam di rumah sakit al-Awda di Gaza utara, marah-marah jikalau anak laki-laki tertuanya pulang telat pada Ahad malam.

Tapi keputusan sepersekian detiknya untuk menyapa seorang tetangga telah mengantarkannya berada di di gerbang gedung lima lantai itu saat serangan udara ‘Israel’ menghantam, telah menyelamatkan hidupnya.

Ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya terbunuh.

“Bola api ini hanya menghabiskan bagian atas gedung dan tiba-tiba semuanya menjadi debu,” Mohamed Abu Al-Jidian bercerita kepada The Independent di pemakaman keluarga di Beit Lahia, Gaza.

Foto [indepent.co.uk]

Karena tidak lagi punya rumah untuk berteduh dan berkumpul, karib kerabat yang masih hidup menata kursi-kursi plastik di sebuah gedung yang tidak jauh.

“Saya mencoba naik untuk menyelamatkan ayah, tetapi apinya terlalu besar dan puingnya terlalu banyak. Saya tidak bisa menjangkau mereka, “tambahnya.

Keluarga itu tidak diberi peringatan oleh pasukan ‘Israel’ atau rudal dini yang memberikan “ketukan di atap”, seperti di beberapa bangunan lain.

Sebaliknya, ada raungan mematikan saat serangan itu memusnahkan seluruh lantai atas gedung, meninggalkan lubang-lubang bergigi batu bata.

Foto [indepent.co.uk]

“Tidak ada alasan mengapa flat kami harus diserang, jadi awalnya saya kira ledakan itu pasti berasal dari belakang gedung,” katanya.

Jasad adik laki-lakinya yang berusia 11 tahun, Abdul-Rahman, merupakan yang pertama ditemukan bersamaan dengan tetangga mereka, keluarga al-Ghazali.
Diantara yang tewas adalah seorang bayi perempuan berusia empat bulan.
Ibu Mohamed, Raghda, dan ayahnya Talal, 50 tahun, tidak ditemukan hingga satu hari kemudian: ada begitu banyak puing yang membutuhkan  kerja tim penyelamat hingga 24 jam untuk bisa menemukan mereka.

“Saya tidak memahami ini, ayah saya hanyalah satpam rumah sakit, dia tidak memiliki afiliasi dengan kelompok politik [atau bersenjata] apa pun. Tidak ada apa-apa di gedung ini selain tempat tinggal orang, “tambahnya.

Sepanjang akhir pekan lalu, pertempuran paling mematikan dalam beberapa tahun ini meletus, mendorong penduduk Gaza menuju ke titik keruntuhan.

Sejak Sabtu pagi, kelompok-kelompok bersenjata di daerah ‘kantong’ ini telah menembakkan lebih dari 700 roket dan proyektil ke ‘Israel’, menewaskan empat warga sipil: yang menjadi bencana fatal bagi warga sipil ‘Israel’ sejak perang terakhir pada 2014.

Sebagai balasannya, tank-tank dan pesawat terbang ‘Israel’ menyerang ke lebih dari 350 titik sasaran di Gaza, menewaskan 25 warga Palestina, termasuk dua wanita hamil dan tiga anak-anak, menurut pejabat kesehatan Gaza.

Selama beberapa hari yang menegangkan, sepertinya kedua belah pihak sedang bergegas menuju perang baru, sampai Mesir dan PBB dapat menjadi penengah bagi gencatan senjata yang yang rapuh berlaku, setidaknya untuk sekarang ini.
Tetapi di Gaza, kebanyakan dari 1,9 juta penduduk yang kuat di jalur itu percaya bahwa ini hanyalah jeda sementara.

Mereka takut tidak akan bisa selamat dalam putaran pertarungan berikutnya.
Daerah kantong sepanjang 25 mil itu telah dibuat bertekuk lutut dengan cara pengepungan oleh ‘Israel’ dan Mesir selama12 tahun yang yang dilakukan pasca Hamas, satu kelompok militan, berhasil merebut kendali daerah ini.

Penduduk sipil telah berjuang melewati tiga peperangan antara faksi bersenjata Gaza dan tentara ‘Israel’ sejak tahun 2009.

Menurut PBB, kondisi kemanusiaan di Gaza amat begitu mengerikan dimana pada tahun depan  diperkirakan kota ini seluruhnya tidak lagi dapat dihuni.

Lebih dari 70 persen pemuda menganggur, ini merupakan tingkat pengangguran tertinggi di dunia.

Sembilan puluh tujuh persen airnya tidak dapat diminum dan dan lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Hingga saat ini relatif banyak keluarga menggunakan listrik kurang dari enam jam sehari, yang juga berarti infrastruktur utama seperti pengolahan limbah masih belum beroperasi dengan baik.

Pada hari Selasa, Qatar mengatakan pihaknya telah mengirimkan $ 480 juta dolar (£ 367 juta Euro) kepada pihak Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza dalam upaya menutup kekurangan dana darurat. Uang itu akan membiayai program kesehatan dan pendidikan, serta “bantuan kemanusiaan yang mendesak” dan listrik.

Namun, beberapa keluarga mereka yang kehilangan tempat tinggal dalam serangan udara terakhir mengatakan ini hanyalah tindakan sementara, dan itu tidak akan membantu mereka jika konflik berkepanjangan lainnya dimulai.

Tamer al-Wakeel, 30 tahun, yang rumahnya di Kota Gaza diratakan pada Ahad sore, mengatakan dia bahkan tidak memiliki atap yang menutupi kepalanya untuk bisa bersembunyi jika perang meletus.

Bangunan bertingkat yang dulunya merupakan flat tempat tinggalnya sekarang terbaring seperti lemari laci yang jatuh. Langit-langit berwarna cerah bertumpuk horizontal di sisi-sisinya.

Pemilik blok flat itu bersama putranya mengisahkan bagaimana rasanya diterpa kehancuran saat masih bernafas.

Tamer, sementara itu, mengambil gundukan beton yang dulunya merupakan kamar anak perempuannya.

“Saya kehilangan segalanya dalam sekejap mata. Yang saya miliki sekarang hanyalah pakaian yang menempel ditubuh ini,” katanya, sambil mengangkat baju anak kecil berwarna merah jambu yang bergambarkan bulan sabit.

“Yang bisa kami lakukan adalah berdoa agar gencatan senjata ini akan berlangsung selamanya.

“Secara psikologis kami berada di ujung batas jurang sesuatu yang sanggup kami hadapi.” (i7)

Sumber: www.independent.co.uk,  terbit: 09/05/2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *