Dipindah ke Penjara Damoon, Anak-anak Palestina Semakin Tersiksa


Ramallah – Sudah sebulan berturut-turut dinas penjara Penjajah Zionis memenjarakan 27 anak dalam kondisi sangat mengenaskan di penjara Damoon. Situasi ini diperburuk dengan penolakan pihak penjara agar mereka dikembalikan ke penjara Ofer dan mengizinkan perwakilan dari tahanan dewasa mengatur keseharian mereka dan menjadi pengawas bagi mereka sebagaimana umumnya dipraktekkan di penjara-penjara anak-anak, dan sebagaimana diberlakukan kepada mereka sebelum dipindahkan ke Damoon.

Asosiasi Tahanan Palestina menganggap bahwa perlakuan terhadap anak-anak tersebut merupakan tindakan berbahaya dan bentuk pelanggaran baru terhadap anak-anak. Itu juga merupakan upaya untuk merampas pencapaian terpenting gerakan tahanan Palestina dalam sejarahnya. Setelah berbagai upaya yang dilakukan gerakan tahanan ini, dan percobaan aksi demonstrasi, namun hingga hari ini masih belum membawa hasil yang berarti bagi permasalahan ini.

Dalam pernyataannya pada Kamis (13/02), Asosiasi Tahanan Palestina melaporkan pasca sebulan berlalunya pemindahan tahanan anak-anak itu ke Penjara Damoon, perihal langkah-langkah paling penting yang telah diambil pihak administrasi penjara berkaitan berikut pengaruhnya terhadap kondisi dan kehidupan tahanan anak-anak tersebut antara lain:

Dipukuli, Disemprot Gas, dan Diisolasi

Begitu tiba di penjara Damoon, tahanan anak-anak itu langsung menerima aksi represif berulang-ulang oleh unit penindas yang berada dalam administrasi penjara. Satu kelompok anak-anak itu diserang secara hebat dengan dipukuli secara sadis, dan setidaknya sembilan anak-anak dibawa ke pusat interogasi bernama Al-Jalameh dan penjara Salmun dalam rangka menekan agar menghentikan aksi protes mereka. Diantara sesi penindasan yang dipraktekan adalah tahanan anak-anak itu diikat berjam-jam dengan tali plasitik sambil disemprotkan gas.

Salah satu anak yang kemudian berhasil bebas dari sel tersebut membenarkan bahwa dapat dilihat dari warna pergelangan tangan mereka yang menghitam bekas ikatan. Unit penindas penjara juga secara sengaja membenturkan kepala anak-anak itu ke dinding, dan membiarkan mereka berada di ruangan itu berjam-jam untuk menimbulkan rasa takut di dalam hati anak-anak itu. Kotak dimana anak-anak itu menyimpan berbagai keperluan sehari-hari mereka semuanya ditahan, dan pihak penjara mengatakan bahwa kota-kotak mereka telah dikembalikan ke penjara Ofer.


Jawaban Tahanan Anak-anak Palestina


Anak-anak Palestina itu menjawab perlakuan terhadap diri mereka yang sudah berlangsung selama satu bulan ini dengan beberapa cara antara lain: memulangkan makanan yang diberikan penjara dan melakukan aksi mogok makan selama beberapa hari. Salah seorang anak hingga diancam untuk ditelanjangi dan dibiarkan telanjang bulat dan diserang. Anak-anak itu terus melanjutkan aksi mogok makan mereka sebagai bentuk penolakan atas perlakukan buruk yang sudah dilakukan terhadap diri mereka.

Ditahan di Ruang Bawah Tanah yang Dipenuhi Kecoa dan Tikus

Anak-anak itu menggambarkan sel tahan mereka menyerupai ruang bawah tanah yang tidak ada sinar matahari, tidak memiliki ventilasi udara, banyak sekali serangga, kecoa, dan tikus, dan berbau busuk. Ada ruangan yang disebut aula Alfurah itu adalah koridor antara ruang utama dan sel-sel yang sangat sempit. Kamar mandinya tanpa pintu, dan anak-anak terpaksa menggunakan alas tidur untuk dijadikan tirai penutup.

Mereka diberikan alas tidur yang kotor dari bahan yang tidak memberikan rasa hangat. Anak-anak sebagian besar terpaksa tidur dengan memakai sepatu untuk menghindari gigitan serangga.

Makanan yang buruk dan air kotor berwarna kuning

Mereka diberikan sekotak susu, dan sepotong roti untuk setiap sel, sebiji klementin, mentimun, terkadang nasi untuk sarapan. Makan siang berupa makaroni kering dan berbau. Adapun makan malam kacang merah setengah mentah dengan air kotor yang berwarna kekuning-kuningan. Anak-anak terpaksa menggunakannya karena tidak ada pengganti yang lain.


Hampir semua anak-anak Batuk-batuk dan Sakit

Sebagian besar anak-anak itu menderita sakit di dadanya akibat kedinginan, dan tidak bisa tidur karena terus-menerus batuk dan mereka hanya diberikan obat pereda nyeri.

Didenda dan Tidak Boleh Dikunjungi

Administrasi penjara menjatuhkan hukuman kepada mereka berupa: tidak boleh seorangpun mengunjungi mereka selama masa empat bulan, harus membayar denda. Salah seorang anak dipaksa telanjang bulat dalam cuaca dingin menggigit di bagian isolasi Al-Jalmeh untuk menekannya supaya berhenti dari aksi mogok makan. Hukuman itu cukup berhasil karena anak kecil itu tidak sanggup menahan rasa dingin yang sangat yang membuatnya menghentikan aksi mogok makan, dan baru-baru ini dikembalikan lagi ke penjara Damoon.

Berdasarkan kondisi ini, Asosiasi Tahanan Palestina mengajukan permintaannya kepada berbagai organisasi HAM khususnya Palang Merah untuk mengakhiri masalah tahanan anak-anak  di Penjara Damoon ini. Termasuk tindakan menghukum dan perlakuan buruk, penyiksaan fisik dan psikologis yang dihadapi oleh anak-anak di penjara-penjara Zionis, yang sudah bermula sejak dimulainya penangkapan.

———–

Sumber: www.palinfo.com, terbit: 13 Februari 2020, jam: 12: 21 siang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *