Aplikasi Bantu Pengemudi Palestina Hindari Pos Pemeriksaan Penjajah Zionis


Sebuah aplikasi baru yang dikembangkan di dalam negeri mampu membantu pengemudi Palestina di Tepi Barat yang dijajah dalam memberikan pilihan lalu lintas ke pos pemeriksaan militer Penjajah Zionis dan menawarkan rute ke kota-kota yang sering diabaikan oleh para penyedia aplikasi yang besar.

Diluncurkan pada bulan Juni dan dirancang oleh warga Palestina, Doroob Navigator yang mengambil sumber data lalu lintas dari pengguna menutup jalan-jalan yang padat. Aplikasi ini bertujuan menjadi pengganti aplikasi seperti Google Maps dan Waze, yang jarang memperhitungkan pembatasan oleh Penjajah Zionis dan perjuangan keras untuk bisa berkendara di antara kota-kota Palestina.

Penjajah Zionis telah merebut Tepi Barat secara ilegal pada tahun 1967. Sejak saat  itu ratusan pos pemeriksaan telah dipasang di sekitar wilayah Palestina, yang sebagian bersifat permanen dan sebagian lainnya hanya muncul semalam dan sebagian lainnya ada yang menetap hanya beberapa jam dan beberapa hari dalam sekali waktu. Penghalang-penghalang jalan yang dipasang tersebut, menurut Bank Dunia telah membatasi mobilitas warga Palestina dan merusak perekonomian mereka.

Dalam sebuah survei pada Juli 2018, OCHAoPt. Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHAoPt) mencatat bahwa ada “705 hambatan permanen yang terpasang di Tepi Barat yang membatasi atau mengendalikan kendaraan warga Palestina, dan dalam beberapa kasus juga lalu lalang para pejalan kaki.”

Hal tersebut telah menyebabkan rakyat Palestina telah kehilangan 60 juta jam kerja per tahun, menurut sebuah studi oleh Applied Research Institute – Jerusalem (ARIJ) yang dipublikasikan awal tahun ini.

Mohammad Abdel Haleem, CEO Doroob Technologies, mengatakan dia mengerti bahwa rakyat Palestina membutuhkan cara baru untuk berputar-putar pasca kejadian dia berkendara dengan menggunakan Google Maps di dalam perkotaan di Tepi Barat antara Betlehem dan Ramallah yang membuatnya tersesat ke sebuah lembah terpencil.

“Kami harus mendesain peta kami sepenuhnya dari awal. Tembok (Apartheid), pos-pos pemeriksaan, pemukiman (Yahudi) … semua perangkat lunak pemetaan yang tersedia tidak akan pernah bisa menjelaskan kompleksitas yang ada di sini, ”kata Abdel Haleem, 39, sebelum menggunakan aplikasi itu untuk melewati pos pemeriksaan yang memisahkan Ramallah dari Beit El, sebuah pemukiman ilegal Penjajah Zionis yang berada tidak jauh.

Aplikasi yang telah  digunakan oleh 22.000 orang dalam dua bulan ini didanai oleh Ideal, sebuah perusahaan otomasi dan perangkat lunak transportasi berbasis di Ramallah yang juga dipimpin oleh Abdel Haleem. Dia mengatakan dia berharap untuk memonetisasi aplikasi ini di masa depan sebagian melalui sebuah fitur pengiriman.

Aplikasi Lain Tidak Mengerti.

Tepi Barat adalah kota yang terbentang dipenuhi oleh pemukiman penjajah Zionis yang illegal dan beberapa pangkalan militer, dan juga Dinding Pemisahan ilegal (Apartheid) yang menembus masuk ke dalam wilayah itu.

Sekitar tiga juta warga Palestina hidup di wilayah itu bersama dengan sekitar 450.000 pemukim (Yahudi), yang umumnya dapat mengemudi di daerah itu tanpa ada pembatasan besar dengan  menggunakan “jalan pintas” yang tidak boleh dilalui orang warga Palestina.

Algoritma Doroob Navigator menggabungkan laporan dari pengguna dengan input manual oleh staf teknis untuk membantu pengemudi menghindari lalu lintas pos pemeriksaan yang macet dan menghindari pemukiman (Yahudi) ilegal, yang tidak bisa dimasuki kendaraan warga Palestina.

“Aplikasi lain mungkin mengatakan satu-satunya cara untuk berkendara di dalam kota-kota Palestina tertentu adalah dengan cara memotong melalui pemukiman (Yahudi),” kata Abdel Haleem. “Kami berusaha mengubah hal itu.”

Aplikasi ini juga tersedia di wilayah pesisir Palestina di Gaza, meskipun sebagian besar pengguna aktifnya berasal dari Tepi Barat, kata Abdeel Haleem.

Warga Palestina di masa lalu mengandalkan grup-grup Facebook dan informasi dari mulut ke mulut untuk mengantisipasi lalu lintas dan penutupan Tepi Barat. Waze memang populer di kalangan warga Penjajah Zionis, tetapi banyak warga Palestina mengatakan applikasi itu telah mengarahkan mereka ke rute-rute yang dilarang untuk mengemudi.

“Kami membutuhkan aplikasi semacam ini yang bisa membantu kami bergerak di Palestina,” kata Nicolas Harami, 31, yang menggunakan aplikasi tersebut saat berkendara dari rumahnya di Yerusalem Timur ke Ramallah dan kota-kota lainnya di Tepi Barat.

“Aplikasi lain tidak mengerti keadaan kami.” (i7)

—————

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit 6 Agustus 2019, jam: 3:27 sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *