7.500 Pengungsi Palestina Terlantar di Suriah Utara

Pengungsi Suriah nampak dalam perjalanan menuju ke perbatasan Turki, menyelamatkan diri dari serangan udara Rezim Assad dan Rusia, di zona de-eskalasi Idlib Suriah, pada 13 Februari 2020 [Muhammed Said / Kantor berita Anadolu]

Paling sedikit ada sekitar 7.500 pengungsi Palestina yang  berasal dari kamp-kamp pengungsi Daraa, Homs, Aleppo dan Al Yarmouk. Saat ini mereka berada di Suriah bagian utara, Dukcapil Khusus Pengungsi Palestina yang berada di utara Suriah membenarkan hal tersebut Jumat (14/02) lalu.

Berbicara kepada Quds Press, direktur Dukcapil tersebut, Abu Mohannad, menyatakan: “Keluarga-keluarga pengungsi Palestina terbagi ke beberapa kota di Suriah bagian utara.”

Dia mencatat bahwa beberapa badan amal dan LSM Turki, yang berhasil masuk melalui Turki, mengawasi sejumlah kamp yang menyediakan layanan air bersih, paket makanan, peralatan dapur, pakaian, dan pemanas.

Sementara itu, dinas Dukcapil menawarkan surat-surat identitias diri, seperti KTP, surat nikah dan beberapa surat-surat penting lainnya.

Abu Mohannad memberitahu Quds Press bahwa situasi di timur Idlib sangat sulit, karena pertempuran yang masih sedang berlangsung antara pasukan oposisi dan rezim Suriah, mendorong para pengungsi Palestina untuk bergerak ke arah Afrin.

Dia menjelaskan bahwa ini adalah daerah pedesaan, jadi tidak ada cukup rumah untuk menampung para pengungsi. Oleh karena itu, sebagian besar  mereka hidup di kamp-kamp temporar yang  primitif tanpa listrik dan tanpa pekerjaan.

Seorang pengungsi Palestina, Fares Ahmed, mengatakan kepada Quds Press bahwa ia tidak menyaksikan Nakba tahun 1948, tetapi ia mengalaminya ketika terlantar dari Al Yarmouk pada tahun 2018, di mana dia kehilangan rasa aman dan tidak menentu hingga hari ini.

Menurut Abu Mohannad, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) sama sekali tidak ada di Suriah Utara. Namun, ia mengungkapkan bahwa ada banyak kelompok PBB lain yang masuk melalui Turki.

Beberapa permohonan bantuan telah diajukan, tetapi UNRWA tidak menanggapi.
Sementara itu, ia menuduh Organisasi Pembebasan Palestina “sepenuhnya” mengabaikan para pengungsi, meskipun melaporkan situasinya kepada para pejabat senior Palestina.

————–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 15 Februari 2020, pukul 13:02.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *