3 Sisa Kegembiraan Lebaran di Gaza: Anak-anak, Ikan Hering, dan Kue

Lebaran di Gaza tahun 1440 H. ini, masih banyak keluarga yang menyambutnya dengan gembira meski dalam bayang-bayang kondisi perekonomian yang sulit. blokade penjajah Zionis sejak 13 tahun lalu terhadap Gaza masih terus berlanjut, ditambah lagi sanksi Otoritas Palestina sejak lebih dari dua tahun menjadi malapetaka yang semakin menambah beban penderitaan.

Patut dicatat bahwa lebih dari separuh masyarakat  Gaza adalah para pemuda yang menganggur, dimana sebagian mereka menanti lebaran dan Ramadhan untuk mendapatkan kesempatan kerja dalam beberapa proyek dengan imbalan yang sangat minim untuk sekedar menghilangkan rasa pusing dan menutupi beberapa kebutuhan dasar.

Awal Ramadhan tahun 1440 H ini telah menjadi saksi serangkaian eskalasi dan agresi terhadap Jalur Gaza, di mana sejumlah warga Palestina gugur sebagai syuhada dan menjadi korban luka-luka. Banyak dari mereka yang harus kehilangan rumah mereka yang bersamanya hancur lebur impian dan kebahagiaan mereka pada bulan Ramadhan dan di hari lebaran.

Oleh karenanya, pasca shalat hari raya di lapangan terbuka di perbatasan timur jalur Gaza, yang merupakan lokasi ‘Pawai Kepulangan dan Pemecah Blokade’ sejak tanggal 31 Maret 2018, sebelum saling berkunjung kepada sesama karib kerabatnya, sebagian masyarakat berkumpul untuk lebih dulu mengunjungi keluarga dari kalangan syuhada, korban luka-luka dan mereka yang menjadi tahanan penjajah Zionis.

Meski dalam kondisi yang diselimuti rasa sedih dan derita, namun lebaran di Gaza tahun 1440 ini – menurut pengamatan ASPAC for Palestina – masih memiliki beberapa catatan kegembiraan yang tergambarkan dari tiga hal sebagai berikut:

1- Kebahagiaan Anak-anak

Suasana lebaran di Palestina 1440 H. paling mencolok terlihat di kalangan anak-anak yang berbahagia dengan baju baru mereka yang berwarna-warni dan aneka ragam mainan. Karena memang Gaza dikenal sebagai kota dengan jumlah populasi anak-anaknya yang angkanya sangat tinggi.

Mustafa Aoun (32 tahun), seorang pemilik mainan ayunan anak-anak ketika ditanya tentang lebaran di Palestina tahun 1440 H berkomentar, “Hari raya lebaran ini hanya milik anak-anak saja. Adapun selain mereka ikut bersuka cita dan bergembira karena melihat anak-anak itu berbahagia.”

Dengan senyum pilu dia menambahkan: “Adapun lebaran kami (orang dewasa) telah pergi, yang ada hanyalah tanggungjawab, kewajiban, dan kesedihan yang menggelayuti. Dan ini semua tidak akan pernah lenyap meski dengan datangnya 100 kali lebaran, kecuali dengan kehendak Tuhan Pengatur Alam Semesta.”

2- Ikan Herring

Gaza – Sejak pagi di hari ke-30 Ramadhan, Ummu Raid berangkat untuk membeli sesuatu yang terbaik untuk disajikannya pada hari raya Idul Fitri yang penuh berkah, ketahuilah yang dibelinya adalah ikan herring dan sebagian dari kue-kue manis.

“Kami tidak merasakan susasa lebaran Idul Fitri, kecuali jika memakan ikan herring yang menjadi makanan pembuka siang hari kami di hari lebaran idul fitri. Ini adalah hidangan sakral bagi saya dan keluarga saya, jika bukan untuk semua warga Gaza.”

Masyarakat Palestina, khususnya warga Jalur Gaza, memiliki seni dalam menyiapkan ikan herring dengan cara dikeringkan, dan ditempatkan dalam garam kasar selama beberapa bulan, hingga ikan itu berwarna perak dan memiliki aroma yang khas. Namun mereka kemudian memberikannya warna kuning untuk menarik banyak orang untuk membelinya.

Di Gaza, keluarga Palestina mulai memasak “tomat goreng dengan bawang, paprika hijau dan lemon, bersama dengan ikan herring yang yang direndam dalam air selama lebih dari satu jam sebelum dimasak, untuk mengurangi kadar garam di dalamnya.”

Rami Talal, seorang pedagang ikan berusia 40 tahun meyakini bahwa ikan herring tidak memiliki manfaat khusus, tapi dia hanya merupakan bagian dari ritual yang tersebar di kalangan masyarakat dalam menyambut hari raya setiap tahunnya. Menurutnya ikan herring dianggap sebagai hidangan pembuka selera karena rasanya yang gurih asin, dimana masyarakat menjadikannya sebagai pemecah rutinitas berpuasa yang berlangsung terus menerus sepanjang bulan Ramadhan.


3- Kue Lebaran

Umm al-Hajj, salah seorang warga Palestina mengatakan: “Kami tidak mungkin merasakan suasana lebaran tanpa membuat kue-kuean. Ini adalah sesuatu yang menjadi keharusan agar kebahagiaan bisa singgah ke rumah-rumah dan menyelinap ke dalam keluarga dan para tetangga.

Ibu Palestina itu meyakini bahwa kue-kue yang dipersiapkan sejak 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini harus dihidangkan sebanyak-banyaknya untuk para tamu, dan sebagian dibagikan setiap tahun kepada para tetangga, teman-teman wanita yang menjadi teman selama shalat tarawih di sepanjang bulan Ramadhan.

Kaum wanita amat bersungguh-sungguh dalam membuat kue dan hidangan lebaran yang diikuti sebagian besar anggota keluarga di rumah-rumah warga Gaza. Aroma kue yang lezat dan berminyak tercium di jalan-jalan dan perkampungan masyarakat Gaza yang menjadi pengumuman bahwa lebaran Idul Fitri telah tiba, meski kondisi perekonomian yang melilit, namun masih banyak keluarga yang tidak mau menyerah begitu saja meninggalkan ritual tahunan yang penuh memori ini.

Itulah setidaknya 3 hal yang menjadi gambaran bahwa kegembiraan lebaran di Gaza tahun 1440 H. ini masih tersisa, meski penjajahan Zionis di seluruh bumi Palestina masih terus menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan ke tengah-tengah masyarakat. Khusus Jalur Gaza, penderitaan ini semakin berlipat ganda dengan terus berlangsungnya blokade sejak 13 tahun yang lalu, ditambah lagi sanksi dari Otoritas Palestina, dan serangan bombardir penjajah Zionis pada bulan Ramadhan tahun ini.(i7)

Sumber: www.palinfo.com, tanggal 5 Juni 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *