Apa Itu Zionisme?

Palestina negeri para nabi yang diwariskan kepada umat Islam, hingga kini konflik yang berkepanjangan dan penjajahan yang terjadi tak kunjung usai. Berbagai usaha telah dilakukan demi menciptakan perdamaian antara kedua belah pihak melalui berbagai proses perundingan. Namun proses tersebut tidak membuahkan hasil yang signifikan dan hanya menjadi “sandiwara” yang selalu merugikan rakyat Palestina khususnya, dan seluruh umat Islam pada umumnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Menjawab pertanyaan perlu penjelasan panjang, namun membahas sekilas latar belakang pendirian Zionisme setidaknya bisa mewakili poin tersebut. Hal yang perlu dicermati masyarakat luas adalah gerakan zionisme internasional berada di balik segala penjajahan dan penistaan di wilayah Palestina dan memiliki akses manuver dalam skala Internasional untuk menguasai Palestina.

Zionisme terus melakukan perusakan moral dan keyakinan terhadap Kaum Muslimin di seluruh dunia, di indonesia manuver Zionisme sudah terekam sejak mulai berdirinya Negara Indonesia, dengan terungkapnya banyak tokoh di organisasi sebelum kemerdekaan yang bergabung dengan gerakan Freemasonry atau lewat underbow-nya seperti Vrijmetselaraji yang telah membangun kiprahnya di lembaga masyarakat dan pendidikan

Zionisme adalah suatu paham baru dalam agama yahudi yang menjadi racun mengalir dalam tubuh agama yahudi itu sendiri. Seorang rabbi terkenal bernama Yisroel David Weis mengatakan bahwa zionisme adalah ajaran setan yang mengajarkan penyembahan terhadap setan. Zionis juga memiliki kitab pegangan yang berbeda dengan kitab Yahudi. Zionis memiliki Kitab Talmud atau “Kitab Setan”.

Zionisme berasal dari kata “Zion” yang artinya “Karang”. Zion itu sendiri merujuk kepada sebuah keyakinan mereka terhadap sebuah bangunan kuil yang mereka sebut “Haikal Sulaiman”. Kuil yang berada di bukit karang ‘zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds, Jerussalem. Menurut taurat, tempat ini diyakini oleh kaum Yahudi sebagai tempat Al-Masih yang dinantikan untuk menuntun mereka kepada “tanah yang dijanjikan” dan selanjutnya memerintah mereka dari atas puncak bukit Zion tersebut. Sedangkan dalam arti luas zionisme adalah “sebuah gerakan kebangsaan yang mempunyai cita-cita dapat mengembalikan kaum yahudi ke sebuah negeri yang dijanjikan untuk membentuk sebuah negara Yahudi Raya”.

Pada awalnya, Zionis ini merupakan suatu gerakan keagamaan, seiring berjalannya waktu, gerakan ini berubah menjadi sebuah gerakan politik. Gerakan yang terorganisir, baik secara tersembunyi ataupun terang-terangan, gerakan yang menyusup, mendompleng ke dalam kekuatan-kekuatan politik besar di seluruh dunia dalam mewujudkan proyek-proyek besar yang mereka miliki. Gerakan yang merampas tanah-tanah dari pemiliknya agar menjadi tempat bagi diaspora (kaum yahudi yang tersebar di seluruh dunia) untuk kembali bersatu membentuk negara Yahudi Raya, menjadi sebuah bangsa di tanah Palestina, dan menjadikan Jerussalem sebagai ibu kota negaranya.

Gerakan zionis ini mencetuskan sebuah konsep pembentukan Negara Yahudi Raya di Palestina yang dirangkum dalam buku seorang tokoh Zionis Internasional dan pencetus Zionis Modern Theodore Herzl yang berjudul Der Judenstaat.

Segala hal telah dilakukan oleh Theodore Herzl untuk memulai mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapannya “terbentuknya Negara Yahudi Raya”. Mulai dengan mengunjungi Sultan Hamid II untuk mengizinkan menjual tanah-tanah Palestina kepada orang Yahudi dengan timbal balik berupa bantuan keuangan dari bankir Yahudi untuk memperbaiki kas Negara Kesultanan Turki Usmaniyah yang menipis ketika itu. Namun hal itu ditolak oleh Sultan Hamid II dengan mengatakan bahwa menjual tanah Palestina adalah menjual barang yang bukan miliknya.

Gagal melobi Sultan Abdul Hamid II. Setahun setelah Kongres Zionis Internal di Bazel tahun 1898, Theodore Herzl mengalihkan perhatiannya kepada Jerman dan Kaizer Wilhelm II,  kaisar terakhir Kerajaan Jerman (masa 1888 – 1918) yang memiliki ambisi ke Timur Tengah. Theodore mengatakan bahwa pemimpin Zionis adalah orang-orang Yahudi berbahasa Jerman dan nantinya akan memperkenalkan budaya Jerman di Palestina. Namun, hal itu juga ditolak oleh Kaizer lebih karena faktor ekonomi Negara, agar tidak mengganggu hubungan dengan kesultanan Usmaniyah, sebagai pelanggan utama persenjataan Jerman.

Theodore Herzl, seorang tokoh Zionis yang tidak pernah mengenal lelah itu kemudian berkunjung dan melobi Inggris. Inggris tidak memiliki kepentingan terhadap Sultan Abdul Hamid II. Palestina bukan wilayah yang menarik bagi pemerintah Inggris pada saat itu. Meski demikian, ada sedikit harapan bagi Theodore terhadap Inggris. Sudah selama 2 abad pada saat itu, kalangan Kristen Protestan dan para penulis Inggris mendukung “kembalinya orang Yahudi ke Palestina”. Ada kesempatan dan peluang besar bagi Theodore untuk mendapat “dukungan” Inggris. Selanjutnya Theodore diberikan kepercayaan berupa sebuah lahan di Afrika Timur, Uganda. Hubungan kerja sama ini selanjutnya berkembang menjadi dukungan Inggris terhadap warga Yahudi untuk menguasai Palestina kemudian.

Saat perang Dunia 1 pecah pada 1914-1918, Daulah Usmaniyah memihak Jerman. Situasi ini dimanfaatkan oleh Chaim Weizman, salah seorang tokoh Zionis dengan kemampuan negosiasi yang terlatih yang mulanya menolak Uganda sebagai pengganti Tanah Israel. Weizman menulis surat kepada Parlemen Inggris untuk memberi dukungan dan persetujuan mendirikan Negara Yahudi di Palestina. Dengan kepiawaian dan kelihaian negosiasinya, akhirnya Inggris mengamini permohonan tersebut.

Mulai saat itu, penjarahan, penghancuran dan pembunuhan penduduk Palestina berawal dan terus terjadi sampai hari ini, dan akan terus terjadi, jika Umat Islam hanya diam seribu bahasa tanpa ada kontribusi nyata untuk membantu kemerdekaan Al-Quds, dan membebaskan dari Zionis.

Muhammad Ilham

Tim Kajian Aspac for Palestine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *