Apa Gunanya Agenda Butir ke-7 UNHRC jika Dimanipulasi untuk Kepentingan Israel?

Oleh: Ramona Wadi

Perdebatan kemarin dalam sidang Komisi Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) mengungkap bagaimana pilihan-pilihan bagi warga Palestina sedang dihabisi. Selain pernyataan dari beberapa negara dan lembaga non-pemerintah tentang kekerasan Israel dan pentingnya menjaga berlangsungnya agenda butir ke-7 – “situasi HAM di Palestina dan wilayah Arab yang dijajah” – serta beberapa pernyataan yang menuding badan PBB ini sebagai bias anti-Israel, hanya sedikit yang disampaikan yang bisa dikatakan penting.

Di sisi lain, propaganda pro-kontra agenda butir ke-7 digunakan untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran “Israel” dan, sebagai hasilnya, menguras peluang apa saja yang masih tersedia bagi  rakyat Palestina untuk meraih kembali hak-hak mereka.

Setelah penarikan diri AS dari UNHRC bulan lalu, negara-negara Barat kemaren memboikot persidangan debat butir ke- 7 itu. The Jerusalem Post menggambarkan langkah itu sebagai “tanda tipis keberhasilan yang berlanjut atas kampanye Israel dan AS untuk menghapuskan mandat UNHRC yang membutuhkan perdebatan terkait tindakan Israel kepada rakyat Palestina di setiap sesi komisi PBB ini di bawah agenda butir ke-7.”

Dua narasi utama bergantung pada bias yang ditudingkan anti-Israel, yang disebarkan oleh sekutu Israel, terutama Amerika Serikat, dan menjaga agenda butir ke-7 untuk menyoroti pelanggaran “Israel”. Keduanya sederhana dalam lingkup dan melayani agenda yang sama karena tidak adanya komitmen dari masyarakat internasional untuk mengakhiri kolonisasi Palestina. Pertemuan kemarin merupakan bencana superfisial lainnya, meskipun konteks di mana di dalamnya UNHRC beroperasi membuat ini menjadi berbahaya bagi rakyat Palestina.

Dengan mendasarkan pertemuan Komisi ini pada kesalahpahaman pelanggaran yang berkesinambungan yang tidak pernah dibahas di luar kecaman retoris dan keprihatinan, waktu yang berharga bagi rakyat Palestina menjadi tersia-siakan. Israel, yang didukung oleh masyarakat internasional pada beberapa tingkatan, termasuk melalui penolakan “Israel” untuk berkomitmen secara menyeluruh terhadap pembebasan Palestina, secara bebas mencapai tujuan-tujuannya dengan bersikeras pada diferensiasi antara tindakan-tindakannya di lapangan, dan bagaimana dia memproyeksikan aksi-aksi yang sama kepada komunitas internasional.

Perbedaan ini penting dalam memfasilitasi pemahaman tentang bagaimana komunitas internasional memproses pelanggaran “Israel”  dan dengan demikian membuat narasi kolonial dominan. Saat ini, perhatian terfokus pada apakah keputusan AS akan mempengaruhi negara lain untuk mengikutinya. Agenda butir ke-7, yang telah kehilangan banyak maknanya karena dukungan internasional bagi “Israel”, kini telah berubah menjadi perdebatan tentang posisi “Israel” memberikan dukungannya,  sedangkan alasan mengapa hal itu diberlakukan telah dikesampingkan, sebagaimana halnya rakyat Palestina telah terpinggirkan selama beberapa dekade.

Pertunjukan yang dipentaskan di UNHRC kemarin mencerminkan sikap masyarakat internasional terhadap Palestina. Dengan begitu banyak perwakilan negara yang tidak hadir, adalah mungkin untuk memahami makna, atau ketiadaan, dari negara-negara yang benar-benar memberikan dukungan. Menempatkan dukungan dari Arab Saudi dan Venezuela setara, misalnya, adalah salah, mengingat Venezuela sekarang memiliki hubungan terbuka dengan Israel. Venezuela, sementara itu, telah bersikeras untuk mengadvokasi kompromi dua-negara yang membatasi aspirasi rakyat Palestina. Mesir yang meremehkan korban cedera dan terbunuh dari warga Palestina oleh penembak jitu Israel di perbatasan Gaza, mengurangi jumlah “skor”nya. Qatar memperingatkan terhadap marginalisasi agenda butir ke-7 karena itu akan “membuat Israel semakin berani untuk melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina”. Namun Qatar tidak melakukan lebih dari sekedar mendukung resolusi PBB untuk melindungi rakyat Palestina, yang merupakan bentuk lain dari ketidakadilan kolaboratif yang menyamar sebagai keprihatinan kolektif

Mungkin juga perlu ditanyakan, dari perspektif rakyat Palestina, apa gunanya dilangsungkannya agenda butir ke-7 jika, seperti semua usaha internasional lainnya, esensinya hanyalah untuk terus-menerus dimanipulasi untuk melayani kepentingan Israel? (i7)

Pandangan-pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor.

————–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 03/07/2018 – 17.00.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *