Antisipasi Zionis Hadapi Intifadah III

Forum-forum di instansi keamanan, militer dan politik penjajah zionis memantau perkembangan lapangan di Tepi Barat. Mereka berusaha menenangkan suasana dengan berkomunikasi melalui telepon ke pihak Palestina tanpa henti. Padahal suasana sudah memanas dan konfrontasi di lapangan meletus di mana-mana. Ini terjadi terutama menjelang jadwal kunjungan presiden Amerika Obama ke kawasan. Penjajah zionis sangat antusias situasi kembalii tenang meski mereka resah akan meletusnya Intifadah III.

Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri “Shabak” zionis menilai aksi unjuk rasa dan bentrokan akan berlanjut dalam beberapa hari saja dan situasi akan kembali tenang, elit-elit keaman dan militer mengambil sejumlah langkah menghalangi meletusnya Intifadah dengan membuka perlintasan-perlintasan militer dan mengurangi tekanan kepada warga di kota-kota di Tepi Barat, mencegah kontak dan benturan antar sipil Palestina dan pasukan serta tidak menggunakan tembakan peluru tajam untuk menghindari jatuhnya korban tewas dan cukup menggunakan gas air mata atau peluru karet.

Selain itu, mereka juga mengandalkan pasukan pembubar kerusuhan yang terlatih. Mereka tidak lagi menggunakan pasukan yang emosional dan menembaki pengunjuk rasa. Pemerintah penjajah zionis juga mengembalikan dana milik Palestina yang ditahan selama ini, memberikan kemudahan pegawai pemerintah otoritas Palestina mendapatkan gajinya, melarang kekerasan kepada warga. Terakhir, zionis meminta Obama memberikan sesuatu kepada elit Palestina.

Sumber-sumber dari pejabat di Tel Aviv menilai bahwa otoritas Palestina saat ini menguasai dan bisa mengendalikan kekerasan para pengunjuk rasa yang terjadi di sejumlah wilayah di Tepi Barat. Namun pejabat zionis itu tetap khawatir jika Otoritas Palestina kehilangan kendalinya. Otoritas berusaha mengatur aksi protes rakyat dan mengalangi aksi-aksi bersenjata. Tujuan otoritas Palestina dalam hal ini adalah ingin agar dunia internasional menjadwalkan kembali permasalahan Palestina yang diawali dengan kunjungan Obama. Karenanya, pemerintah ‘Israel’ meminta agar otoritas Palestina mengumumkan langkah mengantisipasi meletusnya Intifadah III di Tepi Barat.

Lebih dari itu, pihak keamanan zionis memperkirakan bahwa kawasan Tepi Barat kini berada di titik awal meletusnya Intifadah III dengan tingkat lebih dramastis. Ini mengharuskan Netantahu untuk mengendalikan proses politik dengan Palestina sebelum ia didikte.

Untuk mengantisipasi memburuknya suasana, Panglima zionis Beni Gents mengeluarkan intruksi kepada elit-elit militer akan merampungkan persiapan darurat menghadapi berlanjutnya aksi unjuk rasa dan protes serta meletusnya Intifadah baru Palestina serta memburuknya kondisi di Tepi Barat. Sejumlah komandan ‘Israel’ menilai bahwa aksi protes yang meresahkan di Tepi Barat semakin meningkat. Bahkan lebih berani dan keamanan Palestina tidak mampu lagi menghalanginya untuk sampai ke perlintasan militer zionis.

Terlepas dari perkiraan Israel terhadap peristiwa yang meletus di Tepi Barat saat ini, ada kesepakatan di antara mereka bahwa hubungan dengan Palestina bisa terperosok jika kekerasan semakin meningkat. Ini akibat situasi ekonomi di wilayah otoritas Palestina yang sangat rapuh, ditambah masalah tawanan Palestina, berlanjutnya proyek pembangunan pemukiman yahudi. Karena itu, pihak militer dan polisi penjajah zionis masih bersiap siaga menghadapi perkembangan di wilayah Palestina.

Bahkan diperkirakan Intifadah III kali ini akan jauh lebih besar dibanding dengan Intifadah II di tahun 2000. Bukan saja di Tepi Barat bahkan akan bisa membuka front di perbatasan utara Libanon atau wilayah selatan dengan Jalur Gaza. Jika tidak ada perkembangan proses damai atau Abbas tidak mengundurkan diri maka di Tepi Barat akan terjadi gelombang hebat, terutama di kamp-kamp pengungsi dan di seluruh jalan persimbangan yang dilalui oleh warga pemukim yahudi dan pasukan zionis tidak siap menghadapinya.

Artinya, jalan menuju Intifadah terbuka lebar. Bahkan pemicunya bisa hanya gugurnya satu orang tawanan Palestina saja. Namun harus diingat bahwa meletusnya Intifadah I, militer penjajah menguasai kota-kotat Tepi Barat dan masih memiliki tanggungjawab resmi atas kehidupan keseharian warga Palestina di sana, menjaga nyawa warga pemukim yahudi, sibuk menjaga markas-markas militer, menghalangi massa yang marah, dan pasukan zionis gagal dalam menghadang Intifadah I saat itu. Apakah lantas di Intifadah III ini situasinya akan terulang?

(Dr. Adnan Abu Amir)

Sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *