Angka-Angka dan Batas Kemampuan

Manusia hidup dibatasi ruang dan waktu. Namun, batas-batas waktu dan ruang, hakikatnya Allah yang memilikinya. Dia bisa ciptakan jarak yang jauh untuk seseorang dan sebaliknya Dia mampu mendekatkan jarak untuk yang lainnya. Dia bisa mempersingkat waktu untuk seseorang dan bisa pula memanjangkan sesuai kehendaknya.

Lihatlah, waktu yang sangat singkat menurut ashâbul kahfi yang berada di dalam gua, ternyata setara dengan 300 atau 309 tahun lamanya. Demikian pula jarak yang sangat jauh menjadi sangat dekat bila Sulaiman yang menempuh perjalanannya, karena ia dikaruniai kendaraan berupa angin yang super cepat. Demikian halnya Nabi Muhammad SAW saat bermi’raj menghadap Allah, melalui langit-langit dan kemudian sidratul muntaha, lalu penuh misteri di mana pertemuannya dengan Allah terjadi. Waktu dan tempat tak berlaku di hadapan Allah, karena Dialah penciptanya. Nabi Muhammad pun menempuh jarak unlimited dengan waktu yang sangat singkat.

Waktu juga menjadi ukuran manusia modern sesuai dengan kepentingannya. Bagi kaum matrealis waktu adalah aset materi. Bagi pemuja modal atau kaum kapitalis, waktu harus diuangkan. Waktu adalah kesempatan untuk apa saja.

Tak heran jika Al-Quran memuat jenis-jenis waktu di dalamnya. Malam, adalah waktu yang paling banyak disebut secara frekuensi. Sedangkan pagi adalah jenis waktu yang paling banyak variannya. Keistimewaan waktu malam sangat banyak. Di antaranya, Allah memilih malam sebagai waktu turunnya al-Quran. Secara eksplisit keterangan tentang turunnya al-Quran di malam hari bisa diketahui dari awal Surah ad-Dukhan dan Surah al-Qadar. Maka, Allah pun memerintah nabi-Nya juga umat beliau untuk membaca al-Quran, terkhusus di malam hari, bahkan perintah ini terulang dua kali dengan redaksi yang sama di dalam satu ayat, yaitu di akhir Surah al-Muzammil (ayat ke 20).

Menariknya, Allah juga bersumpah atas nama kumpulan waktu melalui awal Surah al-Ashr. “Wal ‘ashr” (Demi Masa), menunjukkan bahwa hampir rata-rata manusia terjebak dalam kerugian. Karena al-Ashr yang dimaksud adalah perasan waktu, produktivitas waktu yang tidak sekedar menilik pada angka-angka. Baik angka waktu yang dilalui atau bahkan angka hasilnya. Ini membuktikan bahwa belum tentu seseorang yang berusia lima puluh tahun akan lebih baik dari orang yang baru berusia dua puluh tahun. Demikian juga patokan angka materi. Seseorang yang mendapatkan take home pay bulanan sebesar milyaran, belum tentu lebih baik dari orang yang hanya mendapatkannya sejumlah beberapa juta saja.

Di antara contoh yang memperjelas relatifitas angka-angka tadi adalah usia muda para sahabat semisal Aisyah binti Abi Bakar, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Abbas dan sahabat lainnya sering menjadi rujukan bagi para sahabat senior (kibâr ash-shahâbah). Imam an-Nawawy ad-Dimasyqi yang berusia empat puluh lima tahun, namun memiliki karya-karya monumental dan jumlahnya sangat banyak.

Nabi Nuh ‘alaihissalâm, diutus Allah kepada kaumnya, “…maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabût: 14)

Jika menggunakan standar ukuran modern maka Nabi Nuh bisa dikategorikan sebagai nabi yang gagal. Karena kesempatan yang diberikan sangat banyak, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Faktanya justru sebaliknya, Nabi Nuh merupakan satu dari lima nabi istimewa yang digelari dengan ulul azmi. Beliau menjadi sangat ikonik dengan kesabaran. Berbicara kesabaran dan keteguhan takkan bisa dilewatkan tanpa bersentuhan dengan kisahnya.

Maka, simpulan sederhana tulisan ini adalah bahwa angka-angka itu hanya membantu manusia mengukur suatu capaian dan memudahkan evaluasi. Namun, nilai dan kualitasnya hanya Allah lah yang menentukan. Hanya itulah batas kemampuan manusia. Ia dibatasi ruang dan waktu. Maka, jika ia mampu melompatinya dengan kualitas, ia akan lolos dari jerat kerugian sebagaimana Allah tegaskan dalam surah al-Ashr. Itulah yang disebut kualitas kehidupan (keberkahan). Allah memberkahi waktu seseorang juga tempat ia berada. Mendekatlah dengan orbit keberkahan tersebut.

Di antara orbit keberkahan yang Allah ciptakan di bumi ini adalah al-Masjid al-Aqsha. Dalam bahasa al-Quran, Allah memberkahi sekelilingnya (lihat Surah al-Isra’: 1). Namun, makna “haul” di sini belum tentu menunjukkan batasan ruang dan waktu. Itulah makna yang menggerakkan Seorang Maimunah meraih keberkahan Baitul Maqdis (baca Catatan Keberkahan 75: Pelita-Pelita Baitul Maqdis)

Dengan waktu yang terbatas juga ruang yang pasti juga terbatas, berbuatlah “apa saja” yang dianggap baik oleh Allah, karena Dial ah penentu kualitas perbuatan yang menjadi pembobot kualitas kebaikan. Adapun setiap gerak-gerik perbuatan kita, pasti akan mendatangkan resiko atau komentar dari orang lain. Dengan atau tanpa komentar, Allah lah yang menilai. Maka, berbuatlah! Apa saja. Biar Allah yang melihat dan menilainya. WalLâhu al-Musta’ân.
 

Catatan Keberkahan 79

Jakarta, 04.12.2017

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *