Anak Palestina Usia 12 tahun Ditembak Sniper Penjajah Zionis

Seorang bocah Palestina berusia 12 tahun kehilangan kaki kirinya setelah ditembak oleh pasukan Penjajah Zionis di tengah semakin meningkatnya jumlah sniper di perbatasan Gaza.

Foto-foto Abdel Rahman Naufal, bocah berusia 12 tahun berteriak kesakitan setelah dia ditembak di kaki dengan amunisi Selasa lalu ketika sedang berada dekat perbatasan bersama teman-temannya beredar luas di berbagi media sosial. Amunisi itu dilaporkan meledak di bawah lututnya, menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada jaringan otonya.

Meskipun dibawa ke dua rumah sakit di Gaza, sebelum dipindahkan ke Tepi Barat untuk perawatan, dokter tidak dapat menyelamatkan kakinya dan terpaksa mengamputasi anggota badannya itu.

Nawfal mengatakan kepada wartawan dari tempat tidurnya di Ramallah bahwa dia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter dan masih ingin terus mencoba untuk menggapai cita-citanya itu,

Naufal adalah satu dari setidaknya 500 anak-anak Gaza yang telah ditembak oleh Pasukan Penjajah Zionis dalam satu bulan terakhir. Respons keras Israel terhadap protes di perbatasan yang merupakan bagian dari Aksi Pawai Kepulangan Akbar telah mengundang kecaman internasional. Lebih dari 1.700 orang menderita luka-luka akibat tembakan langsung, yang mengakibatkan luka parah seperti digambarkan dokter Gaza, bahkan tingkat keparahannya tidak mereka lihat dalam operasi  “Operation Protective Edge” Israel pada tahun 2014.

LSM global Doctors Without Borders mengatakan pekan lalu bahwa tim medisnya sedang mengurus “luka-luka parah yang luar biasa, yang sangat rumit untuk ditangani. Cedera yang diderita oleh pasien akan sebagian besarnya mengakibatkan cacat fisik jangka panjang yang serius”.

Jumlah korban tewas kemaren naik menjadi 39 orang sejak aksi protes dimulai setelah dua warga Gaza menyerah dari luka-luka yang  mereka derita di rumah sakit. Tahrir Mahmoud Wahba yang berusia 18 tahun, penyandang tuna rungu, meninggal kemarin pagi, setelah ditembak dengan amunisi oleh pasukan Penjajah Zionis dua minggu lalu di Distrik Khan Younis dekat Kamp Pengungsi Al-Awdeh Jalur Gaza selatan. Abdullah Muhammad Al-Shamali, 20 tahun, juga meninggal pada Ahad malam karena luka-luka yang dideritanya saat demonstrasi terbaru pada hari Jumat lalu.

Pekan lalu, tewasnya Mohammad Ayoub, 14 tahun, yang ditembak di kepala meski masih berjarak sekitar 150 meter dari perbatasan, mendorong Nikolay Mladenov, Utusan Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, berkicau di Twitternya, menuntut Israel “Menghentikan Penembakan terhadap Anak-anak ”.

Aksi Protes Damai Besar-besaran di Gaza telah melihat ribuan pengungsi Palestina keluar untuk menuntut hak kolektif mereka untuk pulang kembali ke tanah air mereka.

Protes enam pekan ini dijadwalkan berakhir pada 15 Mei,yang merupakan  peringatan ke-70 “Nakbah” atau Malapetaka Palestina, saat negara Israel didirikan pasca pengusiran paksa hampir satu juta rakyat Palestina.

Sebelum protes pekan lalu, para ahli HAM PBB mengutuk “penggunaan senjata api terus menerus, termasuk amunisi” oleh pasukan Israel “terhadap sebagian besar demonstran dan pengamat Palestina yang tidak bersenjata”. Mereka menyerukan Israel untuk menegakkan tanggung jawabnya tunduk di bawah hukum internasional (i7).

————–

Sumber: www.middleeastmonitor.com

Terbit: 24/04/2018 – 12:56 siang.

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *